Apa itu ”Mise-en-Scene”?

· Nawa Dasa Satsata

Dalam terminologi Prancis, mise-en-scène (prononsiasi: meez-ahn-sen) memiliki makna ”peletakan dalam adegan”. Istilah tersebut digunakan sebagai atas kendali sutradara terhadap sesuatu yang muncul dan tampak di dalam bingkai film.

Cara Mengatur Mise En Scene dalam Film
Set dalam Film

Penggunaan mise-en-scene di dalam film, memiliki kekuatan tersendiri. Apabila biasanya pembuat film ingin menampilkan adegan yang otentik, alami, ingin mencapai realisme, tetapi dengan mise-en-scene justru dapat membuat film yang lebih fantastis.

Adalah George Melies yang memfungsikan mise-en-scene untuk menarik penonton melalui fantasi yang diproyeksikan di dalam film. Tentang siapa Melies, ada di dalam pembabakan tentang George Melies sendiri.

Pada mulanya, Melies menemukan sesuatu yang belum pernah ia duga sebelumnya. Tatkala Melies sedang melakukan shooting di Placede l'Opéra, kameranya tiba-tiba macet bersamaan dengan bus yang sedang lewat. Ketika kemudian kameranya berfungsi kembali, bus tersebut telah pergi dan sebuah mobil jenazah berada di depan lensanya.

Pada waktu Melies memutar film tersebut, ia menemukan bus yang melintas, tetapi seketika langsung berubah menjadi mobil jenazah. Hal yang tak ia duga tersebut, dapat meyakinkannya bahwa mise-en-scene memiliki kekuatan untuk menghasilkan film fantasi dengan teknik sulap.

Komponen Mise-en-Scene

Mise-en-scene memiliki empat komponen yang antara lain: setting, costume dan make up, pencahayaan, dan staging—termasuk akting dan pergerakan di dalam sebuah bidikan.

Setting

Di dalam film, setting memiliki peran sentral dalam pengadeganan dibanding dengan di dalam teater. Menurut Andre Bazin:

”Drama di layar bisa maujud tanpa seorang aktor, sedangkan di dalam teater, manusialah yang esensial. Alih-alih aktor dalam film hanya berfungsi sebagai pelengkap, justru pintu yang dibanting, daun yang tertiup angin, suara debur ombak, dapat meningkatkan dramatisasi dalam film.”

Hal tersebut dikarenakan setting bukan hanya sebagai latar untuk aksi para tokoh, tetapi juga sebagai aksi naratif di dalam film secara keseluruhan. Dengan demikian, aksi-aksi tersembunyi dapat dipahami melalui keseluruhan desain setting di dalam film.

Kendatipun demikian, tidak sedikit pembuat film yang menggunakan setting rekaan yang bertujuan untuk menghemat biaya produksi atau untuk menciptakan adegan fantasi—menggunakan efek digital khusus.

Costume dan Make Up

Seperti setting, kostum memiliki beragam fungsi spesifik di dalam keseluruhan film. Salah satunya, kostum dapat menjadi peran kausal di dalam sebuah plot film. Di sini kostum berfungsi sebagai motif sebuah aksi, karakterisasi, dan juga dapat berfungsi sebagai cara untuk menelusuri perubahan sikap karakter.

Selain kostum, yang juga tak kalah penting ialah make up. Pada masa-masa awal perfilman, make up diperlukan karena wajah tokoh tidak akan tercatat dengan baik dalam film.

Seiring berjalannya waktu, selain berfungsi untuk menonjolkan kualitas ekspresi tokoh, make up juga bisa digunakan untuk menyembunyikan kerutan, kulit yang kendor, noda-noda di wajah. Hal tersebut dikarenakan kamera akan merekam detail-detail pada diri karakter.

Lain halnya dengan film bergenre horor dan fiksi ilmiah, make up justru dibuat secara berlebihan. Untuk membuat benjolan atau memar di wajah, misalnya. Hingga pada akhirnya, make up juga memiliki peran yang sama seperti kostum, yakni sebagai karakterisasi dan memotivasi aksi plot.

Pencahayaan

Pencahayaan di dalam film perlu dikontrol karena akan berdampak pada gambar yang diproyeksikan di layar. Pencahayaan bukan sekadar berfungsi sebagai penerangan supaya aksi tokoh dapat terlihat. Akan tetapi juga dapat mempengaruhi komposisi dari setiap bidikan dan mengarahkan penonton kepada suatu objek dan aksi tertentu.

Lebih dari itu, pencahayaan juga dapat mengartikulasikan adanya tekstur: lekukan muka, butiran sepotong kayu, jaring laba-laba. Josef von Sternberg mengatakan bahwa penggunaan cahaya yang tepat dapat memperindah dan mendramatisasi setiap objek.

Ada empat aspek utama dalam pencahayaan:

  1. Kualitas Cahaya

    Ada cahaya lembut (soft) dan keras (Hard).

    Cahaya keras menciptakan bayangan yang jelas dan tekstur yang tajam, sedangkan pencahayaan lembut menciptakan penyebaran penerangan. Matahari siang, misalnya, menciptakan cahaya yang keras, sementara langit mendung menciptakan cahaya lembut.

  2. Arah Cahaya

    Arah cahaya dalam suatu bidikan biasanya mengacu pada sumber cahaya atau pada objek yang diterangi. Dalam arah cahaya bisa dibedakan antara frontal-lighting, side-lighting, back-lighting, under-lighting, dan top lighting.

    Frontal lighting dapat dilihat dari kecenderungannya menghilangkan bayangan. Side-lighting (juga disebut crosslight) dapat membuat fitur karakter. Backlighting, sesuai namanya, muncul dari belakang subjek, cenderung menciptakan siluet. Jika dikombinasikan dengan sumber cahaya yang lebih frontal, backlighting dapat menciptakan kontur yang halus.

    Underlighting dapat menunjukkan bahwa cahaya datang dari bawah subjek. Underlighting biasanya cenderung mendistorsi fitur karakter, sering digunakan untuk menciptakan efek horor. Kemudian yang terakhir, top lighting, di mana sorotan bersinar dari atas wajah. Pencahayaan tipe ini menciptakan gambar yang glamor.

  3. Sumber Cahaya

    Pembuatan film Hollywood klasik menggunakan tiga sumber cahaya per bidikan, yakni fill light, key light, dan backlight—biasanya disebut dengan three point lighting.

    fill light yaitu cahaya yang berasal dari posisi dekat kamera; key light, cahaya yang secara diagonal datang dari depan; backlight, cahaya yang muncul dari belakang dan di atas gambar.

    key light biasanya akan lebih dekat ke gambar atau lebih terang dari fill light. Namun, setiap karakter utama dalam sebuah adegan akan memiliki fill light, key light, dan backlight sendiri.

    Pencahayaan tidak hanya digunakan untuk membuat situasi terang benderang, tetapi jauh lebih penting difungsikan sebagai pendekatan untuk menunjukkan kondisi atau waktu pencahayaan yang berbeda dalam sehari.

  4. Warna

    Pencahayaan di dalam film biasanya dianggap hanya memiliki dua warna, yakni putih dari sinar matahari atau kuning dari lampu pijar. Padahal warna cahaya bisa diatur untuk mencapai tingkat dramatisasi cerita.

Staging: Pergerakan dan Performa Karakter

Salah satu orang yang dapat mengontrol mise-en-scene ialah sutradara, di mana ia berkapasitas meletekkan figur di dalam layar supaya terlihat oleh penonton. Figur bukan sebatas manusia, tetapi juga bisa berupa hewan, robot, atau objek.

Penampilan seorang aktor terdiri dari elemen visual: penampilan, gerak tubuh, ekspresi wajah dan suara (termasuk efek suara). Seorang aktor terkadang hanya berkontribusi pada aspek visual saja, seperti dalam film bisu. Namun, adapula dalam kasus yang jarang terjadi, aktor justru hanya ada pada suara film. Film berjudul A Letter to Three Wives, misalnya, karakter Celeste Holm, Addie Ross, bernarasi tetapi tidak pernah muncul di dalam layar.

Kamera bisa digunakan untuk menciptakan konteks pengendali terhadap akting. Akting di dalam film sudah tentu berbeda dengan akting di teater. Di teater, penonton berada pada jarak yang cukup jauh dari aktor di panggung, sehingga penonton pasti tidak akan pernah bisa melihat sedekat dengan aktor yang ditempatkan kamera di dalam sebuah film.

Kendatipun demikian, terkadang kamera juga membuat aktor tampak jauh, bahkan terlihat hanya berupa titik di layar. Hal tersebut bertujuan untuk merendahkan atau menganggap ketiadaan aktor tersebut.

Sebagai contoh, dapat dilihat mise-en-scene dalam film Marlina the Murder in for Act.

{
  "credit title": {
    "author": "Nawa Dasa Satsata",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Nawa Dasa Satsata

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Gaya Film, Teknik Film, Teori Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin