Asinkronisasi Suara Film

· Nawa Dasa Satsata

Bidikan (Shot) dalam film mengungkapkan hubungan spasial antara karakter dan objek.

Dengan demikian, film mengimplikasikan penonton sebagai subjek yang menonton. Dalam film naratif klasik, ruang dan waktu direpresentasikan secara koheren untuk mencapai efek realitas.

Proses penyuntingan. Karya Jakob Owens

Untuk menciptakan efek realitas yang baik dalam film, maka diperlukan sinkronisasi antara suara dan gambar. Namun, terkadang asinkronisasi antara gambar dan suara pun dapat terjadi—baik sengaja atau tidak.

Jika asinkronisasi antara suara dan gambar terjadi dari hasil pengeditan (editing) yang salah, misalnya suara yang diucapkan tidak sinkron dengan bibir yang bergerak, maka itu adalah kesalahan yang dilakukan oleh editor film karena ketidaksengajaan.

Ketika asinkronisasi terjadi karena disengaja, maka asinkronisasi ini memiliki fungsi estetika dan/atau fungsi naratif.

Fungsi Asinkronisasi Suara dan Gambar

  • Asinkronisasi meminta perhatian pada dirinya sendiri: penonton film dibuat sadar bahwa dia sedang menonton film (ilusi identifikasi sementara dihilangkan atau didekonstruksi).
  • Asinkronisasi berfungsi untuk mengganggu waktu dan ruang dalam film. Kontinuitas naratif menunjukkan ilusi realitas yang diciptakan oleh sinema naratif klasik melalui pengeditan kontinuitas tanpa batas.
  • Asinkronisasi dapat digunakan untuk efek humor, seperti yang terdapat pada film-film talkie paling awal ketika munculnya suara dalam film disambut oleh pembuat film dengan reaksi yang beragam.

Asinkronisasi dalam film memunculkan dua kubu pemikiran, yakni:

  1. Mereka yang antusias terhadap teknologi baru
  2. Mereka yang takut akan mengubah sinema menjadi teater film.

René Clair, pembuat film asal Prancis, khawatir bahwa suara akan membatasi eksperimen visual dan menghilangkan dimensi puitis yang melekat dalam film bisu.

Film suara awalnya (kebanyakan opera komik) bermain dengan suara, dengan mengacaukan sumber suara yang sebenarnya.

Amsalnya ketika ada seorang wanita bernyanyi dibingkai di jendela, kemudian terdapat kecacatan dalam ia bernyanyi. Seorang lain masuk ke kamarnya dan lantas ia menyadari bahwa sebenarnya wanita yang bernyayi tersebut sedang meniru suara rekaman.

Ini menarik perhatian pada pretensi sinema suara pada efek realitas.

{
  "credit title": {
    "author": "Nawa Dasa Satsata",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nawa Dasa Satsata

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Gaya Film, Suara Film, Teknik Film, Teori Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin