George Melies: Pesulap Sinema

· Nurbaiti Fitriyani

Melies merupakan salah seorang pesulap yang memiliki teater sendiri. Pada tahun 1895, Cinematographe milik Lumiere bersaudara telah menginspirasinya. Ia pun akhirnya menambahkan film ke dalam program sulapnya. Namun ternyata Lumiere bersaudara belum menjual mesinnya tersebut.

George Melies: Pesulap Sinema
George Melies

Kendatipun demikian, akhirnya tahun 1896, Melies dapat membuat kamera sendiri setelah mempelajari proyektor milik R. W. Paul. Ia pun segera memutar filmnya di teaternya sendiri.


Kiprah Melies dalam Perfilman

Alih-alih Melies lebih dikenang khususnya pada film-film fantasinya yang penuh dengan trik dan menyenangkan, penuh dengan lukisan, tetapi pada waktu itu ia membuat film dalam semua genre.

Akan tetapi, sayangnya sebagian besar karyanya yang paling awal hilang. Banyak skenario bergaya Lumiere dan komedi singkat yang difilmkan di luar ruangan tak berjejak. Ia telah membuat 78 film dalam tahun pertama produksinya, termasuk film berjudul The Vanishing Lady (1896) yang merupakan film trik pertamanya.

Dalam film triknya tersebut, Melies turut tampil sebagai pesulap yang mengubah seorang perempuan menjadi kerangka. Trik tersebut dilakukan dengan cara menghentikan kamera dan mengganti kerangka pada perempuan tersebut.

Selain itu, Melies juga menggunakan stop-motion dan efek khusus lainnya untuk membuat adegan sihir dan fantasi yang lebih kompleks. Meskipun sebelum pertengahan 1920-an manipulasi telah dilakukan di beberapa laboratorium, tetapi trik yang dilakukan Melies tersebut harus diselesaikan ketika pembuatan film, yakni di kamera.

Melies juga berakting di banyak filmnya. Ia dikenal sebagai sosok yang rapi dan gesit berkepala botak, berkumis, dan jenggot yang runcing.

Supaya Melies bisa mengontrol mise-en-scene dan sinematografi di dalam filmnya, ia membangun studio kecil yang tertutup. Studio tersebut berhasil dibangun pada awal 1897. Studio Melies tersebut digunakan untuk merancang dan membangun setting yang dilukis di atas kanvas.

Kendatipun Melies bekerja di studionya sendiri, tetapi Melies terus membuat berbagai macam film. Pada tahun 1898, misalnya, dia memfilmkan beberapa film topikal yang direkonstruksi, seperti Divers at Work on the Wreck of the "Maine" (1. 15).

Film Melies tahun 1899 yang berjudul The Dreyfus Affair tersebut, menceritakan kisah seorang perwira Yahudi yang dihukum pada tahun 1894. Hal tersebut dikarenakan atas dasar bukti palsu yang diajukannya melalui motif anti-Semitic. Lantas kemudian, kontroversi masih berkecamuk ketika Melies membuat film Dreyfus-nya.

Seperti lazimnya pada masa itu, Melies pun menyewakan sepuluh gambarnya sebagai film terpisah. Ketika ditampilkan secara bersamaan, bidikan-bidikan (shot) yang digabungkan menjadi salah satu karya di tahun-tahun awal sinema.

Film dengan judul Cinderella (1899), merupakan karya Melies berikutnya. Di dalam film ini ia menggunakan teknik menggabungkan plot-plot hingga menjadi multiplot dan menjualnya sebagai satu-kesatuan film yang utuh.

Film-film Melies, terutama dalam teknik sulapnya yang menciptakan fantasi, sangat populer di Prancis dan luar negeri. Teknik yang dimilikinya ini pun ditiru secara luas. Dengan demikian, pembajakan pun terjadi dan Melies akhirnya membuka kantor penjualan di Amerika Serikat pada tahun 1903 untuk melindungi interesnya.

Salah satu film-film Melies yang paling terkenal ialah berjudul A Trip to the Moon(1902). Sebuah film fiksi ilmiah yang menceritakan tentang sekelompok ilmuwan yang melakukan perjalanan ke bulan dalam sebuah ruang kapsul. Kemudian ilmuwan tersebut melarikan diri setelah ditawan oleh makhluk-makhluk bawah tanah.

Tak sekadar melakukan trik sulap yang menciptakan fantasi, Melies juga sering menyempurnakan keindahan mise-en-skenarionya. Untuk mencapai kesempurnaan tersebut, dengan cermat ia merancang mise-en-skenarionya menggunakan teknik pewarnaan yang diaplikasikan dengan tangan.

Kecuali pada tahun-tahun pertama produksi Melies, banyak dari filmnya melibatkan efek stop-motion yang canggih. Misalnya, Iblis tiba-tiba meledak dari asap, wanita cantik yang menghilang, dan pria yang melompat tiba-tiba berubah menjadi setan.


Puncak Kejayaan Melies

Beberapa sejarawan telah mengkritik Melies. Alih-alih Melies mengedit filmnya, ia hanya justru bergantung pada setting teater statis. Kendatipun demikian, terdapat penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa sebenarnya efek stop-motion-nya juga menggunakan penyuntingan.

Melies akan memotong film dengan tujuan untuk mencocokkan gerakan satu objek dengan sempurna dengan benda di mana ia diubah. Pemotongan semacam itu dirancang agar tidak terlalu mencolok.

Untuk sementara waktu, secara luas, film Melies begitu sukses. Namun, setelah tahun 1905, kekayaannya perlahan-lahan berkurang. Perusahaan kecilnya kesulitan untuk memenuhi permintaan film yang terus meningkat, terutama dalam menghadapi persaingan dari perusahaan yang lebih besar.

Ia terus menghasilkan film berkualitas, termasuk mahakaryanya yang pungkasan dengan judul Conquest of the Pole (1912). Namun film tersebut justru menjadi tampak kuno karena konvensi pembuatan film yang berubah.

Melies terlilit hutang pada tahun 1912. Melies berhenti memproduksi film setelah membuat 510 judul film. Di antara yang masih bertahan hanya berkisar kurang-lebih sekitar 40 persen film.

Film yang dibuat dengan teknik sulapnya yang menimbulkan adanya fantasi, tidak sedikit. Di antara judul-judul film Melies tesebut pun memengaruhi perjalanan sinema. Hingga pada akhirnya, pada tahun 1983, Melies tutup usia.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Sejarah Film, Sejarah Film Dunia

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin