Lho Film Kok Islami

· Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Definisi tentang apa itu genre film Islami tidak dapat dipaksakan pada sebuah film bahkan jika sebuah genre dapat didefinisikan oleh seperangkat kode dan konvensi, seperti dalam genre musikal. Namun, oleh karena genre tidak statis, maka genre bisa terdiri dari beberapa interteks dan bisa berubah.

Dengan demikian, analisis film Islami tidak mungkin dilakukan tanpa definisi dan pemahaman yang jelas tentang ciri-ciri film dan elemen yang terkandung, sehingga akhirnya bisa disebut sebegai genre film Islami.

Tabel Konten
  1. Istilah Genre Muncul dalam Film
  2. Genre Islami dalam Film

Istilah Genre Muncul dalam Film

Adakah Genre Film Islami?
Genre Islami?

Dalam sinema awal, menurut Susan Hayward, genre dipandang sebagai cara untuk mengorganisir film sesuai tipe. Kemudian, tahun 1950, Andre Bazin membicarakan genre dengan mengacu pada teori Barat dan di akhir 1960-an, genre diperkenalkan sebagai konsep kunci teori film Anglo-Saxon.

Akan tetapi, pada tahun 1970, teori genre menggeser perdebatan teori auteur. Pada akhirnya, baik teori genre maupun teori auteur menjadi rekonsiliasi (menyatu).

Sementara itu, Steve Neale mengatakan, bahwa istilah genre merupakan sesuatu yang cukup baru, yang setidaknya mengacu pada hiburan massal populer.

Genre film kemudian menjadi bagian dari proses produksi tripartit yang meliputi, pemasaran, distribusi, dan ekshibisi. Selain itu juga menjadi konsumsi, baik dari penonton, kritikus, maupun seorang peneliti.

Dalam segi pemasaran, genre bisa dilihat dari poster, cinderamata, siaran pers film, dan jargon-jargon yang memperkenalkan suatau genre, misalnya: ”Film terbesar yang pernah ada!”.

Genre memiliki sifat yang tidak statis. Ia terus berevolusi sesuai perkembangan zaman, terutama karena masalah ekonomi, teknologi, dan konsumsi. Selain itu, secara simultan, genre bersifat konservatif dan inovatif.

Lantas bagaimana bisa mengetahui genre film Islami?

Seperti yang dikatakan oleh Nick Lacey, bahwa dalam menentukan genre sebuah film, maka bisa dilihat dari jenis karakter, setting, ikonografi, narasi, dan tema.

Genre Islami dalam Film

Antara agama dan film, menurut Melanie J. Wright memiliki kesamaan, yakni sama-sama mampu menghasilkan narasi.

Sementara itu, John C. Lyden memperluas kaitan agama dengan film. menurutnya, dalam cara yang nyaris mirip dengan agama, film menyediakan simbol visual dan naratif yang memediasi pandangan dunia dan sistem nilai. Film terdiri dari cerita-cerita yang berpotensi menampilkan dua fungsi agama, yakni, pandangan dunia dan sistem nilai pada realitas.

Selain itu, kesamaan lain antara film dan agama, yakni sama-sama bekemampuan untuk membujuk audiens, baik mendorong suasana hati maupun untuk memotivasi agar bertindak sesuai yang dianjurkan.

Seperti yang dikatakan oleh Nick Lacey tentang menentukan sebuah genre film, maka apakah film dengan karakter berkerudung, ucapan salam dalam Islam, karakter seorang ustadz, pengajian, dan azan, sudah bisa dikatakan sebagai genre film Islami?

Pendapat Lacey atas penentuan genre, disempunakan oleh Melanie J. Wright. Ia mengatakan bahwa, tidak cukup hanya mengacu pada ikonografi yang tampak di layar, tetapi juga perlu dipahami ideologi yang tersembunyi di dalam sebuah film.

Wright berpendapat bahwa, film bergenre Islami memiliki plot yang didasarkan pada agama; secara langsung atau tidak langsung berurusan dengan karakter, teks, atau lokasi yang mengandung unsur agama; menggunakan ide-ide religius untuk mengeksplorasi pengalaman, transformasi, atau konversi karakter; membahas tema dan perhatian agama.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa dalam menentukan sebuah genre, tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Ia harus dilihat secara keseluruhan di dalam film. Ikon Islami yang terlihat di dalam layar, belum tentu bisa disebut bahwa film tersebut merupakan film bergenre Islami. Sebaliknya, sebuah film yang tanpa ikon Islam yang terlihat di layar, bisa dikatakan film bergenre Islami selama seluruh aspek di dalam film tersebut memenuhinya.

{
  "credit title": {
    "author": "Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Genre Film, Teori Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin