Sejarah Awal ”Motion-picture”

· Nurbaiti Fitriyani

Sejak awal sejarah film dimulai, sinema merupakan media baru yang rumit—dan bahkan tidak instan dalam sejarah penemuan teknologi gambar-bergerak.


Ia, film, muncul dan diciptakan setelah revolusi industri—sekitar tahun 1890-an. Seperti halnya penemuan telepon pada tahun 1876 dan setahun kemudian ponograf turut lahir, sinema hadir selain sebagai media baru, juga muncul sebagai perangkat teknologi yang menjadi dasariah industri. Film tak dapat lepas tangan dari beberapa alat dan teknologi yang melatari lahirnya sinema.

Sinema kemudian pula menjadi tonggak bermulanya hiburan gambar-bergerak—atau, dalam terminologi Inggris ditakrifkan sebagai motion-picture.

Tabel Konten
  1. 5 Tahap Penemuan Teknologi Gambar-bergerak
  2. Sejarah Perkembangan Kelahiran Sinema Awal
Memotret Kaki Kuda yang Berlari

5 Tahap Penemuan Teknologi Gambar-bergerak

Dalam belajar film tentulah tak dapat lepas dari sejarah penemuan sinema yang membentuk dirinya. Terdapat beberapa tahap sebelum akhirnya sinema dapat disebut sebagai gambar-bergerak, antara lain:

Pertama, para ilmuan, selama abad ke-XIX, melakukan eksplorasi terhadap sifat penglihatan manusia;

Jika terdapat serangkaian gambar yang ditempatkan secara berbeda dengan proses pergantian yang cepat—berkisar antara enambelas per detik, maka mata manusia akan bergerak mengikuti pergantian gambar tersebut;

Lantas Joseph Plateau—fisikawan Belgia—dan Simon Stamfer—profesor geometri Austria—pada tahun 1832 secara independen membuat perangkat optik yang dinamai dengan Fenakistoskop.

Kedua, jauh sebelum itu, sejak abad ke-XVII, para penghibur dan edukator telah menggunakan lentera ajaib (magic latern), proyektor gambar abad ke-17, untuk memproyeksikan sebuah slide gambar ke dalam layar.

Ketiga, kesuksesan atas kemampuan fotografi. Kali pertama foto dibuat ialah di atas piring kaca oleh Claude Neipce pada tahun 1882. Neipce membutuhkan waktu pemajanan (exposure) foto selama delapan jam.

Selanjutnya, tahun 1839 Henry Fox Talbot memperkenalkan gambar negaranya yang dibuat di atas kertas.

Keempat, kendatipun teknik foto sudah ditemukan kurang sempurna dengan waktu pemajanan selama 8 jam, tetapi sinema menuntut foto yang tercetak haruslah pada dasar yang fleksibel dalam mana kamera akan dilalui oleh pergerakan gambar yang begitu cepat;

George Eastman merancang kamera foto pada tahun 1888. Eastman membuat foto pada gulungan kertas (paper roll film) yang sensitif. Ia menamakan ’Kodak’ pada kamera temuannya;

Di tahun berikutnya, Eastman memperkenalkan film roll seluloid-transparan. Film ini diciptakan untuk fotografi diam (still photography). Namun, penemu dapat menggunakan bahan fleksibel dalam merancang mesin untuk mengambil dan memproyeksikan gambar-bergerak.

Kelima, para peneliti perlu menemukan mekanisme intermiten yang sesuai untuk kamera dan proyektor. Di dalam kamera, setrip film harus berhenti secara singkat tatkala cahaya masuk lewat lensa dan membuka setiap bingkai (frame) untuk kemudian rana menutup film saat bingkai lain bergerak;

Di proyektor, demikian pula, setiap bingkai berhenti sesaat, dan sementara itu, cahaya memproyeksikan bingkai-bingkai gambar ke dalam layar. Setidaknya enam belas bingkai harus meluncur, berhenti, dan pindah setiap detik. Antarbingkai tersebut akan menjadi gambar-bergerak.


Sejarah Perkembangan Kelahiran Sinema Awal

Selanjutnya, pada tahun 1890-an, semua kondisi teknis yang diperlukan sinema tersedia. Pertanyaannya adalah siapa yang akan menyatukan elemen-elemen di atas yang diperlukan sinema dan secara bersamaan dapat dieksploitasi sebagai industri secara luas?

Gubernur California, Leland Stanford, pada tahun 1878, meminta fotografer Eadweard Muybridge supaya menemukan bagaimana cara memotret kuda yang berlari untuk membantu mempelajari ukuran sepatu kuda.

Lantas Etienne Jules Marey, fisiolog Prancis, pada tahun 1882 mendapat ilham dari karya Muybridge. Dengan alat ’senapan’ fotografi (photographic gun), ia mempelajari bagaimana burung terbang dan hewan sejenis yang berkemampuan untuk bergerak cepat. Alat tersebut berbentuk seperti senapan yang memperlihatkan duabelas gambar di sekitar tepi piring kaca bundar yang menghasilkan satu revolusi dalam waktu satu detik.

Pada tahun 1888, Marey menciptakan kamera tipe kotak yang memakai mekanisme intermiten untuk mengekspos serangkaian foto pada setrip kertas film dengan kecepatan hingga 12 bpd (bingkai per detik [frame per second atau fps]). Teknik yang disebut kronofotografi, bersama dengan karya Muybridge, adalah konsep dasar untuk kamera dan proyektor gambar bergerak.

Etienne Jules Marey ialah orang pertama yang menggabungkan stok film fleksibel dan mekanisme intermiten dalam memotret gerak. Marey justru lebih tertarik menganalisis gerakan daripada memproduksi gambar itu di atas skrin. Karya Marey, dengan demikian, mengilhami penemu lain yang mengeksplorasinya sampai seni film lahir.

Seorang tokoh asal Prancis, Emile Reynaud, pada tahun 1877 menciptakan praksinoskop, sebuah alat seperti drum yang berputar, nyaris mirip zoetrop, hanya saja di dalamnya penonton dapat melihat gambar diri mereka dalam serangkaian cermin melalui slot.

Sekitar tahun 1882, Emile Reynaud merancang cara menggunakan cermin dan lentera untuk memproyeksikan serangkaian gambar di atas layar. Reynaud, pada tahun 1889, lantas memamerkan versi yang jauh lebih besar dari praksinoskop.

Sejak 1892 dan seterusnya, secara teratur Reynaud melakukan pertunjukan publik, kendati pada 1900 ia keluar dari bisnis ini yang diakibatkan oleh persaingan dari sistem proyeksi gambar-bergerak yang lebih sederhana. Maka, atas keputusannya untuk mundur, ia pada akhirnya menghancurkan mesin praksinoskop.

Di sisi lain, enam tahun sebelum pertunjukan gambar-bergerak komersial pertama, seorang Prancis lain nyaris menciptakan sinema pada awal 1888. Pada tahun tersebut, Augustin Le Prince, yang bekerja di Inggris, mampu membuat beberapa film ringkas. Ia menggunakan gulungan kertas film (Kodak) dan tingkat bingkai (frame rate) diambil sekitar 16 bpd.

Akan tetapi, untuk dapat diproyeksikan, bingkai-bingkai tersebut perlu dicetak pada setrip transparan. Augustin Le Prince tampaknya tak dapat merancang proyektor yang memuaskan dikarenakan ia kekurangan seluloid yang fleksibel.

Pada tahun 1890, saat Augustin Le Prince bepergian di Prancis, bersamaan dengan permohonan patennya, ia menghilang dan menimbulkan misteri yang belum pernah terpecahkan.

Dengan demikian, seperti halnya Emile Reynaud, kamera milik Augustin Le Prince tidak pernah dieksploitasi secara komersial dan tidak memiliki pengaruh terhadap penemuan sinema di tahun-tahun berikutnya.


Amabakdu, penemuan beberapa alat untuk menciptakan gambar-bergerak dapat dikatakan tidak benar-benar maujud seketika tanpa adanya eksplorasi di tahun-tahun sebelumnya, kendati memang para ahli tersebut juga tak dapat dilupakan begitu sa(ha)ja dalam sejarah film dan teknologi yang melatari lahirnya sinema;

Tentu merekalah yang memulai merancang dan membuat dan menghadirkan eksperimen, dan sekiranya tercipta ide-ide dalam penemuan mesin perekam gambar-bergerak—yang pada akhirnya memiliki nilai estetis dalam budaya layar (audiovisual) hari ini.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Kritis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Sejarah Film, Sejarah Film Dunia

Kategori: Esai Kritis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru ·

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin