Warna dan Makna dalam Seni Film

· Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Sebelum membicarakan tentang psikologi yang terkandung di dalam warna, seyogianya mengetahui terlebih dahulu akan kegunaan warna di dalam film.

Warna bukan saja digunakan ketika pasca-produksi saja, tetapi juga digunakan sebelum produksi (pra-produksi). Dua tahap yang perlu dilakukan tersebut, pertama untuk mendesain set adegan dan yang kedua dalam menilai warna.

Kedua tahap penggunaan warna tersebut sebenarnya sudah diputuskan sejak ketika praproduksi. Namun, penerapan tahap pertama dilakukan ketika produksi dan tahap yang kedua di pasca-produksi.

Maksud dari menilai warna pada tahap yang kedua tersebut ialah unit pasca-produksi mempertimbangkan nilai warna tertentu untuk objek tertentu.

Tabel Konten
  1. Cara Sutradara Membangun Look dan Mood
  2. Hubungan Warna dan Genre
  3. Makna Warna

Cara Sutradara Membangun Look dan Mood

Setiap kali sutradara membaca naskah, dia fokus pada skenario, termasuk di dalamnya ada cerita dan dialog. Bersama dengan director of photography (DoP) dan tata artistik, sutradara dapat mewujudkan look dan mood yang diinginkan ke dalam layar.

Menurut Danielle Feinberg, pencahayaan dan warna merupakan bagian utama dari emosi. Dia mencontohkan sebuah adegan dalam film The Incredibles (2004), di mana terdapat meja kerja berwarna abu-abu dan sudah kusam. Menurutnya, warna tersebut merepresentasikan rasa depresi dari tokoh dalam tersebut.

Dengan demikian, warna ditambah dengan pencahayaan menghasilkan look dan mood sesuai yang diinginkan oleh sutradara. Sehingga warna bukan sekadar berfungsi sebagai memperindah layar saja, melainkan juga memiliki motif tertentu. Begitu juga dengan pencahayaan, bukan hanya sebagai penerang, tetapi juga untuk karakterisasi dan dramatisasi cerita.

Hubungan Warna dan Genre

Warna dalam film, ternyata memiliki pengaruh terhadap genre film, bahkan antara keduanya sangat dekat satu sama lain. Genre film horor misalnya, maka akan memunculkan warna-warna yang dominan gelap—warna hitam dan hijau—di skrin.

Kenapa dalam genre film horor tidak memilih warna merah muda? Selain tidak akan bedampak apapun, warna ini juga tidak mengaitkan pikiran penonton akan bahaya, kengerian, atau kekerasan.

Seperti halnya dengan menggunakan warna oranye untuk menampilkan film feminis. Alih-alih penonton terpengaruh, justru membuat film feminis itu gagal. Film bergenre feminis lebih dekat dengan nuansa merah jambu yang dipadukan dengan putih atau peach.


Makna Warna

Pada mulanya, di dalam film hanya mengenal dua warna, yakni hitam dan putih. Seiring berkembangnya teknologi, warna dalam film pun ditemukan guna mencapai estetika dan mencapai makna tertentu dalam film.

Warna hitam memiliki banyak arti. Warna ini mewakili perasaan negatif dan positif. Hitam juga bisa menandakan adanya kesedihan, ketakutan, misteri dan kejahatan. Selain itu, hitam juga membangkitkan pemikiran tentang kesederhanaan, tradisi dan kecanggihan.

Warna putih dapat merepresentasikan adanya kepolosan, kemurnian, ketulusan dan kebahagiaan. Karena alasan tersebut, warna ini telah menjadi warna tradisional untuk gaun pengantin. Kendatipun demikian, warna putih juga dapat menunjukkan kemandulan.

Setelah itu, muncullah berbagai spektrum warna di dalam film. Menurut Patti Belantoni, warna merah cerah seperti kafein dalam visual. Warna tersebut bisa mengaktifkan libido atau membuat agresif, cemas, atau bahkan kompulsif. Warna merah juga bisa memberi kekuatan kepada yang baik atau jahat. Selain meningkatkan hasrat, warna merah juga memberi tanda adanya bahaya, kemarahan, kekuasaan, serta kekerasan.

Tak sekadar di dalam film, warna merah juga digunakan dalam perusahaan makanan, restoran dan merek minuman, karena diketahui dapat merangsang nafsu makan. Lihat saja warna ini di restoran makanan cepat saji yang berada di setiap sudut kota.

Warna merah tersebutlah yang lebih dianggap banyak orang. Padahal warna merah memiliki banyka jenisnya. Merah gelap misalnya, lebih cenderung terkesan anggun dan dewasa. Biasanya warna merah gelap dikaitkan dengan warna merah anggur atau apel. Juga ada warna merah-oranye. Warna ini merepresentasikan kehangatan dan sensualitas.

Terakhir, ada warna merah muda mengekspresikan kecantikan, feminisme, empati, manis dan tidak bersalah. Warna ini lebih mengesankan pada kelembutan, ketenangan, kepolosan, kebahagiaan, dan awet muda.

Seperti warna merah, warna kuning juga menjadi warna yang mampu mengambil alih visual. Karena kecerahan dan kehangatannya, warna kuning sering dikaitkan dengan kebahagiaan, hal yang menyenangkan dan positif.

Kendatipun demikian, warna kuning yang lebih dominan justru dapat menghilangkan emosi, gairah, bahkan dalam sebuah penelitian, ketika ada seorang bayi yang berada di ruang berwarna kuning atau melihat warna kuning akan membuatnya menangis. Selain itu, warna kuning juga bisa mengarah pada penyakit, kenaifan, obsesif, tidak aman dan kegilaan.

Kombinasi antara merah dan kuning, menghasilkan warna oranye. Warna oranye mengacu pada kebahagiaan, awet muda, eksotis, ramah, sosialitas dan kehangatan. Dari kedua kombinasi warna tersebut, warna oranye juga menghasilkan adanya respons emosional dan mental.

Warna tersebut dapat mewakili kegembiraan, kreativitas, dan stimulasi. Oleh karena itu, warna oranye sering digunakan untuk memasarkan mainan anak-anak. Selain itu, warna oranye juga bisa membangkitkan pikiran tentang ketertarikan, kesuksesan, gairah, dan agresi.

Selanjtnya, ada warna hijau. Menurut Patti Belantoni, alih-alih menggambarkan alam, warna hijau juga bisa memiliki makna negatif. Pendapat tersebut diperkuat oleh konsultan warna, Faber Birren. Birren mengatakan bahwa warna hijau digunakan untuk mengungkapkan adanya kutukan.

Warna terdingin dari seluruh spektrum warna adalah biru. Warna biru mengesankan sesuatu yang melankolis, ketenangan dan juga kepasifan. Kendatipun warna biru sering kali mewakili ketenangan, kedamaian, dan bahkan dapat menyebabkan tubuh memproduksi sesuatu yang menenangkan, warna biru juga merupakan simbol yang memiliki makna positif di dunia profesional.

Warna biru cenderung mewakili kompetensi, loyalitas, produktivitas dan kualitas tinggi. Warna biru juga merepresentasikan maskulinitas, baik disadari maupun tidak, warna biru juga sama seperti merah muda yang mewakili feminitas.

Warna ungu, merepresentasikan sebuah fantasi, mistik, hal yang tidak menyenangkan, ilusi dan erotisme. Warna ungu yang disebut sebagai warna bangsawan, bisa membangkitkan gagasan tentang kekayaan, kemewahan, kecanggihan, kekuasaan, ketulusan dan otoritas.

Ungu juga dipandang sebagai warna yang langka karena tidak sering terlihat di alam dan umumnya dipahami dan digunakan sebagai warna romantis. Kendatipun demikian, menurut Patti Belantoni dalam penelitiannya, warna ungu juga bisa melambangkan kematian.

Penggunaan warna dalam pembuatan film sangat penting dan membantu sutradara untuk menciptakan look dan mood film secara sempurna. Selain itu, juga dapat digunakan untuk dramatisasi cerita dalam setiap adegan maupun bidikan.

Warna dan Makna dalam Seni Film, ilustrasi Jakob Owens
{
  "credit title": {
    "author": "Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Gaya Film, Penyuntingan Film, Sinematografi, Teknik Film, Teori Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin