Andre Bazin: Imaji Fotografi dari Segi Psikoanalisis

· Nurbaiti Fitriyani

Berbeda dengan Photoplay, imaji fotografi (Photographic image) menurut Bazin dalam bukunya What is Cinema Vol. 1, jika seni ditempatkan di bawah psikoanalisis, hal tersebut sama dengan ketika manusia melakukan pengawetan pada orang yang sudah meninggal dunia, dikarenakan manusia pada zaman Mesir Kuno tidak mengehendaki adanya kematian. Oleh karena itu manusia yang meninggal dunia diawetkan dan disimpan untuk menjaga tampilannya di dalam realitas.

Dari pernyataan Bazin tersebut, dapat dikatakan bahwa letak persamaan antara imaji fotografi dengan mumi adalah sama: untuk menjaga subjek dari realitas. Dengan adanya gambar, menurut Bazin, dapat membantu untuk menjaga dan melindungi dari kematian. Hal ini, bukan untuk tujuan antroposentris ataupun utilitarian, melainkan dengan tujuan untuk menciptkan idealisme keserupaan antara imaji dengan realitas. Jika sejarah seni plastis merupakan masalah estetika ketimbang psikologi, maka pada dasarnya akan terlihat kisah kemiripan, yakni tentang realisme.

Momen penemuan ilmiah pertama sistem reproduksi mekanis, yaitu perspektif: kamera obscura Da Vinci merujuk pada kamera Niepce. Ia, Niepce, mencoba untuk menciptakan ilusi ruang tiga dimensi, di mana segala sesuatu tampak ada sebagaimana mata manusia melihat pada kenyataannya.

Pertengkaran tentang realisme dalam seni berasal dari kesalahpahaman, dari kebingungan antara estetika dan psikologis; antara realisme sejati, kebutuhan untuk memberikan ekspresi kepada dunia baik secara konkret maupun esensinya, dan pseudorealisme dari suatu penipuan yang bertujuan untuk menipu mata (atau dalam hal ini pikiran). Isi pseudorealisme dengan kata lain adalah dengan menampilkan ilusi.

Hal itu ditebus melalui Niepce dan Lumiere. Dalam mencapai tujuan seni barok, fotografi telah membebaskan seni plastis dari obsesi akan persamaan. Fotografi dan sinema di sisi lain adalah penemuan yang memuaskan obsesi manusia terhadap realisme.

Orisinalitas dalam fotografi yang berbeda dari orisinalitas dalam lukisan terletak pada karakter dasar fotografi yakni, objektif. Bazin di sini membuat fakta bahwa lensa, dasar fotografi, dalam bahasa Perancis disebut ”objectif”.

Produksi fotografi secara otomatis telah memengaruhi psikologi gambar secara radikal. Dengan demikian, manusia dipaksa untuk menerima keberadaan objek yang direproduksi sebagai yang nyata.

Imaji fotografi (photographic image) merupakan objek itu sendiri, objek yang dibebaskan dari kondisi waktu dan ruang yang mengaturnya.

Kualitas estetika fotografi harus dicari dalam kekuatannya untuk mengungkapkan kenyataan. Dengan kekuatan fotografi, citra alami dari sebuah dunia yang tidak diketahui atau tidak dapat dilihat oleh manusia, pada akhirnya melakukan lebih dari sekadar meniru seni yakni, meniru sang seniman.

Setiap gambar harus dilihat sebagai objek dan setiap objek sebagai gambar. Oleh sebab itu, fotografi menempati urutan tinggi dalam urutan kreativitas surealis, karena menghasilkan gambar yang merupakan realitas alam, yaitu halusinasi yang juga sekaligus merupakan fakta.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoritis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini