Dialektika antara Psikologi dan Estetika dalam Sinema

· Nurbaiti Fitriyani

Hugo Munsterberg menulis bukunya, The Photoplay a psychological Study pada tahun 1916 M. Sebenarnya ia bukanlah orang yang fokus terhadap teori film, tetapi ia merupakan salah satu pelopor dalam psikologi terapan yang memperluas penelitian dan teorinya ke dalam pengaturan industri, organisasi, hukum, medis, klinis, pendidikan, dan bisnis.

Tabel Konten
  1. Hubungan Seni dengan Psikologi
  2. Hubungan Seni dengan Estetika

Ia meninggal dunia pada tahun 1916 setelah bukunya terbit. Dalam menulis buku tersebut, ia mencoba untuk merangkai hubungan psikologi dengan kejadian pada masa itu. Pada saat menonton film era awal atau era film bisu, seperti ”The Birth of Nation”, Munsterberg kemudian memfokuskan penelitiannya bukan kepada sutradara atau penulis skenario, melainkan pada hubungan film dengan penonton.

Sehingga pada akhirnya, dalam buku The Photoplay a psychological Study, Munsterberg membicarakan perihal hubungan seni dengan psikologi dan juga hubungan seni dengan estetika.

The Photoplay a psychological Study
Fig. 1: The Photoplay a psychological Study

Hubungan Seni dengan Psikologi

Menurut Munsterberg, psikologi seni, terutama film, terletak pada pikiran dan pengalaman mental manusia: sesuatu yang menciptakan narasi pada gambar bergerak bukanlah media itu sendiri, melainkan dari pikiran manusia.

Ia tak pernah menyebut jenis sinema apapun, kecuali sinema naratif, yang pada akhirnya ia sebut dengan ”photoplay”. Bagi Munsterberg, sinema hanyalah sekadar alat tanpa sebuah narasi. Alat tersebut, maksudnya sinema, berkemampuan bekerja hanya pada kapasitas narasi pikiran manusia, sebelum kemudian photoplay muncul melalui artistik film.

Selain melalui pikiran, hubungan seni dengan psikologi juga muncul dari pengalaman mental manusia, yakni adanya kesan kedalaman dan gerak yang terdapat dalam layar, lalu adanya perhatian, memori, emosi, dan imajinasi dalam pengalaman mental penonton.

Adanya ”perhatian” (Munsterberg menyebut istilah ini sebagai attantion) merupakan sebuah proses pemaknaan bagi penonton. Dalam hal ini, penonton dihadapkan pada dua hal. Pertama, penonton hendak memfokuskan objek yang mana; kedua, dia hanya difokuskan pada salah satu objek saja.

Contoh yang pertama misalnya, jika di teater, penonton ingin fokus pada aktor A, dia bisa memakai kaca pembesar sehingga bisa hanya fokus pada si A. Sedangkan untuk yang kedua, apa yang sudah ditampilkan sutradara di panggung, itulah yang penonton lihat.

Di dalam photoplay, penonton tidak bisa melihat selain gambar bergerak tersebut, karena dengan hal itu akan memunculkan adanya perhatian penonton, baik perhatian terhadap musik, kostum, maupun make-up.

Adapaun hal lain selain attantion adalah ”memori”. Dengan adanya memori, penonton mampu mengingat adegan yang terpotong-potong, karena dalam photoplay dapat menghadirkan adegan masa lalu dan masa sekarang secara paralel. Sehingga dengan adanya memori ini, penonton bisa terfokuskan kembali dengan objek yang ditonton.

Dari hal-hal tersebut, seperti attantion dan memory, Munsterberg melihat bahwa setiap perasaan dan emosi yang memenuhi pikiran penonton dapat membentuk adegan dalam photoplay. Dalam setiap aspek ini, photoplay berhasil melakukan apa yang tidak dilakukan oleh teater.

Hubungan Seni dengan Estetika

Setelah ia membicarakan hubungan seni dan psikologi: pengalaman mental yang memengaruhi penonton dengan photoplay, baru kemudian ia memperbincangkan hubungan seni dengan estetika.

Sebelum ia masuk pada estetika film itu sendiri, terlebih dahulu ia menanyakan hubungan antara seni dengan realitas. Ia mengatakan bahwa:

”Haruskah kita mengatakan bahwa seni adalah tiruan dari alam?”

Dari pertanyaan tersebut, kemudian dia membuat sebuah pandangan tentang seni dengan membandingkan antara teater dan photoplay:

”Seharusnya photoplay tidak pernah menjadi tiruan teater. photoplay tidak dapat memberikan nilai-nilai estetika pada teater. Begitupun sebaliknya, bahwa teater juga tidak berkemampuan memberi nilai-nilai estetika pada photoplay. Dengan mediumnya yang sudah berbeda, mereka menjadi seni yang berdiri sendiri”.

Menurut Munsterberg, artistik bukan hanya sejauh meniru realitas, tetapi juga mengubah dunia dan memilih tujuan baru. Melalui hal tersebut maka muncullah apa yang disebut kreatifitas. Bagi ia, meniru dunia merupakan sebuah proses mekanis, sedangkan tujuan seni adalah untuk mengubah dunia menjadi sesuatu yang baru sehingga menjadi indah. Dengan begitu, seni tertinggi seharusnya terjauh dari realitas.

Tujuan dari seni bagi Munsterberg adalah pengisolasian terhadap beberapa objek pengalaman, baik di alam ataupun dalam kehidupan sosial. sehingga, seni menjadi lengkap dalam dirinya sendiri dan memuaskan juga dengan dirinya sendiri dari setiap permintaan penonton yang dibangun oleh seni.

”... teater dan photoplay, menjadi berharga untuk dirinya masing-masing dengan medium berbeda yang mereka miliki. Antara teater dengan photoplay tidak dapat saling menggantikan, dan justru kekurangan dari keduanya bisa menjadi lawan main.”

Dengan demikian, tujuan karya seni adalah untuk menjaga agar permintaan dan pemenuhannya tetap terjaga. Dengan medium yang dimilikinya, proposisi seni haruslah tetap konsisten terhadap estetikanya dengan permintaan dan pemenuhannya terhadap penonton. Seni, dengan mediumnya, menawarkan kepada penonton pemisahan pengalaman dari latar belakang kehidupan nyata mereka.

Estetika photoplay, menurut Munsterberg, tidak sebanding dengan teater. Photoplay bisa melakukan apa yang teater tak bisa lakukan. Bahwa photoplay dapat memunculkan gambar bergerak yang paralel antara masa lalu dan masa kini sekaligus, tentu dengan melalui olah editing.

Photoplay juga mampu menampilkan gambar yang detail yakni, dengan adanya close-up. Selain itu, photoplay dapat menunjukkan di dalam adegan yang saling terkait yang merupakan segala sesuatu yang dipegang oleh pikiran manusia. Peristiwa di tiga, empat atau lima wilayah di dunia dapat disatukan menjadi satu aksi kompleks dalam photoplay.

Melalui kesatuan plot, photoplay menunjukkan kepada penonton konflik signifikan tindakan manusia dalam gambar bergerak yang terbebas dari bentuk fisik ruang, waktu, dan kausalitas, yang disesuaikan dengan pengalaman mental dan pada akhirnya mencapai isolasi penuh dari dunia praktis.

Dari dua pandangan Munsterberg tersebut, ia menginginkan seni yang agung, yakni seni yang terpisah dari realitas dan menciptakan dunia baru.

Pandangan ia terhadap photoplay begitu kompleks. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa photoplay merupakan medium yang sempurna, karena dia bisa melakukan apa yang seni lain tidak bisa lakukan.

Selain itu, dalam photoplay juga dapat menciptakan pengalaman mental penonton saat melihat gambar bergerak yakni, adanya perhatian, ketertarikan, identifikasi, emosi, imajinasi, memori, kesan kedalaman, dan lainnya, yang dengan begitu bisa menghasilkan narasi di setiap pikiran penonton.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Teori Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin