Gaya Film Sutradara Kenji Mizoguchi

· Nashrullah Ali Fauzi

Kenji Mizoguchi merupakan sutradara yang berasal dari Jepang. Kiprahnya sebagai sutradara sangat memengaruhi sinema Jepang. Selain produktif memproduksi film, ia juga memiliki gaya yang khas dalam film-filmnya.

Sutradara Kenji Mizoguchi
Kenji Mizoguchi

Sebagai seorang sutradara, ia yang memiliki karakteristik naratif dalam film-filmnya yakni, bergenre melodrama. Selain itu, ia juga memiliki karakteristik gaya dalam film-filmnya yaitu, deep space dan long take. Dengan genre melodramanya, Mizoguchi mampu menguras emosi serta air mata penonton dalam film-filmnya.

Tabel Konten
  1. Biografi Kenji Mizoguchi
  2. Kiprah Mizoguchi sebagai Sutradara
  3. Karya Mizoguchi yang Hilang

Biografi Kenji Mizoguchi

Lahir pada tahun 1898, Kenji Mizoguchi disebut sebagai ”generasi 1900” oleh para sejarawan Jepang. Mizoguchi ialah putra seorang tukang kayu di Tokyo yang akhirnya menemukan kecintaannya terhadap seni.

Ia kemudian magang di sebuah rumah desain. Lantas di masa remajanya, ia menghadiri sebuah sekolah yang mengajarkan tentang lukisan minyak gaya Barat. Sementara itu dia banyak membaca dan menghadiri teater.

Pada usia tujuh tahun Mizoguchi melihat ayahnya bangkrut dan menjual saudara perempuannya sebagai geisha (seniman-penghibur tradisional di Jepang). Ketika ibunya meninggal sepuluh tahun kemudian, ia bertengkar dengan ayahnya dan pergi untuk tinggal bersama saudara perempuannya yang pada saat itu telah menjadi nyonya bangsawan.

Di Kobe, ia bekerja di sebuah perusahaan publisitas sambil menulis puisi, bermain-main dengan sosialisme Kristen, dan mendirikan kelompok teater amatir. Pada tahun 1921, Mizoguchi bekerja sebagai pemain dan asisten di studio Nikkatsu. Hingga pada akhirnya di tahun 1922 ia mulai menyutradarai film.

Setelah Mizoguchi mulai menyutradarai, ia mulai berselingkuh dengan seorang geisha yang juga terlibat dengan seorang gangster. Tak lama kemudian, ia bertemu dengan istri gangster di aula dansa dan membujuknya untuk meninggalkan suaminya. Begitu ia menikah, justru pertengakaran selalu menyelimuti rumahtangganya. Lantas sejak 1941 istri Mizoguchi mendekam di rumah sakit jiwa karena penyakit sifilis.

Terlepas dari kehidupan pribadinya yang sensasional, ia membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara efisien dan ulung. Setelah terjadi gempa bumi pada tahun 1923 ia pindah ke Kyoto. Di sana, di tengah kuil-kuil kuno Jepang, ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya.

Kiprah Mizoguchi sebagai Sutradara

Film-filmnya yang paling awal telah menjelajahi berbagai mode, antara lain: lyrical naturalism, eksperimen estetika, propaganda militer, dan realisme proletar semu-Marxis. Mizoguchi membuat beberapa film komersial, seperti Tokyo March (1929), dan karyanya mulai ditempatkan dalam daftar ”Best Ten” tahunan yang disusun oleh jurnal film Kinema Jumpo.

Bersama Taki no Shiraito (alias White Threads of the Wateifall, 1933), yang berada di urutan kedua dalam jajak Kinema Jumpo, ia bergabung dengan jajaran sutradara. Salah satu tanda kemasyhuran barunya adalah ketika bekerja pada satu perusahaan, ia dapat memutuskan hubungan dengan Nikkatsu dan bermigrasi di antara perusahaan-perusahaan sejak tahun 1933.

Pada saat itu ia dikenal sebagai spesialis dalam melodrama feminin. Karena sutradara terkemuka Nikkatsu, Murata Minoru, lebih suka membuat film yang berpusat pada laki-laki. Akhirnya, perusahaan memaksa Mizoguchi untuk mengambil genre wanita dan ia menyukai ide tersebut.

Tradisi sastra dan teater memberikan seniman Jepang sebuah gudang situasi yang didasarkan pada perempuan yang menjadi korban. Pedagang jatuh cinta dengan pelacur atau wanita aristokrat, anak perempuan dijual ke pernikahan intimidasi.

Semua situasi menyedihkan tersebut, berasal dari kabuki dan teater boneka. Dilengkapi plot pada novel populer yang diserialkan di surat kabar dan bentuk teater yang disebut shin pa.

Shin pa adalah versi kabuki modern dan romantis yang menjadi sangat populer pada pergantian abad. Ketika Mizoguchi memasuki industri film, setiap film yang menguras air mata yang ada di zaman modern dianggap sebagai cabang dari shin pa. Ia mengadaptasi beberapa drama shin pa, dan begitu ia menyutradarai sendiri, ia berpegang teguh pada estetika shin pa selama sisa karirnya.

Di awal karir Mizoguchi ia mengadaptasi karya sastra Eropa dan Amerika, dan ia menyatakan minat pada film von Sternberg dan Lubitsch dan dalam lukisan Picasso, Matisse, dan de Chirico. Ia meningkatkan minatnya pada seni tradisional Cina dan Jepang.

Seiring dengan Yoda yang setia ia mengadaptasi sebuah drama oleh Chikamatsu yang hebat ( Chikamatsu Monogatari; alias The Crucified Lovers, 1954), The Life of Oharu (1952) yang diambil dari sebuah novel satire karya Saikaku, dan menawarkan epik sejarah terbesar Jepang dalam Shin Heike Monogatari (alias New Tales of the Taira Clan , l956).

Mizoguchi memenangkan hadiah utama di Venesia tiga tahun berturut-turut, untuk drama sejarah The Life of Oharu (1952), Ugetsu Monogatari (1953), dan Sansho the Bailiff (1954). Itu semua berkat strategi ekspor Nagata yang cerdik. Pada saat ia meninggal karena leukemia pada tahun 1956, ia berada di urutan kedua setelah Kurosawa sebagai lambang sinema Jepang.

Pada film berjudul The Lift of Oharu (1952), merupakan salah satu film yang mengatakan bahwa Mizoguchi sangat menyukai deep space dan long take. Di film ini, ia telah membawa aspek denotatif, ekspresif, dan dekoratif pada sebuah gambar ke dalam harmoni yang luar biasa.


Karya Mizoguchi yang Hilang

Mizoguchi mulai menyutradarai pada tahun 1923, dan pada saat ia memulai membuat film berjudul Hometown (1930), ia telah membuat tidak kurang dari empat puluh film. Semuanya hilang kecuali satu yakni, Song of Home (1925) dan satu kondensasi yaitu Tokyo March (1929).

Film-filmnya yang lain ialah adaptasinya terhadap Anna Christie yaitu, Foggy Harbor (1923); film ekspresionisnya, Blood and Soul (1923); film melodrama pertamanya yang dipuji secara kritis adalah A Paper Doll's Whisper of Spring (1926).

Beberapa karya dari dekade berikutnya hilang, bahkan ketenarannya selama bertahun-tahun penuh dengan film-film yang hilang. Setidaknya dua di antaranya— Woman of Osaka (1940) dan Life of an Actor(1941)—kemungkinan besar adalah mahakaryanya.

Secara keseluruhan, dari delapan puluh tiga film panjang yang ia selesaikan, hanya tiga puluh satu film yang bertahan kurang lebih utuh, dan tujuh belas di antaranya berasal dari dekade terakhir kariernya.

Ia menamakan metodenya ”one scene-one cut”. Meskipun orang-orang sezamannya yang berusia 1930-an menyukai waktu yang agak lama (rata-rata sepuluh hingga dua belas detik untuk seorang pembicara), tetapi dari 1935 hingga akhir karirnya, panjang rata-rata pengambilan film Mizoguchi berkisar antara lima belas detik hingga sembilan puluh detik, dengan kisran antara dua puluh lima dan empat puluh detik.

Pada tahun 1954, Mizoguchi menerima penghargaan Education Ministry untuk pencapaian seumur hidup. Tapi, akhirnya tidak begitu cerah. Ia menderita leukemia dan ia cukup lemah selama pembuatan film Street of Shame (1956). Tiga film terakhirnya—Princess Yang Kwei Fei, Shin Heike Monogatari (1956), dan Street of Shame —Tidak menempatkannya di Kinema Jumpo.

{
  "credit title": {
    "author": "Hallurhsan Ila Izuaf",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Kritis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nashrullah Ali Fauzi

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Auteur, Gaya Film, Penyutradaraan

Kategori: Esai Kritis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin