Inovasi D. W. Griffith dalam Sinema Naratif

· Nurbaiti Fitriyani

Dari rentang waktu enam tahun, selama film pertamanya diputar tahun 1908 hingga The Birth of Nation tahun 1914, Griffith telah membangun bahasa naratif sinema dan mengubah media hiburan yang tidak penting menjadi bentuk seni yang tepat secara estetis. Pencapaiannya dari 1875 hingga 1948, telah memengaruhi sejarah seni film Barat.

The Birth of Nation
The Birth of Nation

D. W. Griffith atau merupakan seorang yang sangat paradoks. Alih-alih ia jenius dalam sinema naratif dan terkenal sebagai artis visioner pertama, ia juga seorang yang romantik dengan penafsiran budaya sastra yang tinggi dan kegemarannya terhadap sentimentalitas dan melodrama.

Selain seorang ahli teknik film hebat pertama, Griffith juga merpakan seorang fanatik yang melihat semua sejarah manusia dalam istilah hitam-putih melodrama abad XIX. Kendatipun demikian, dari pandangannya terhadap abad sembilan belas itu, ia mampu menciptakan film-film yang dapat memengaruhi sejarah sinema.

Tabel Konten
  1. Pengaruh Formativ
  2. Inovasi 1908–1909: Interframe Narrative
  3. Inovasi 1909–1911: Intraframe Narrative
  4. Hal Terpenting dari Griffith

Pengaruh Formatif

Griffith merupakan anak ketujuh dari Jacob Griffith. Ia lahir tahun 1875, di pedesaan Kentucky, dekat dengan perbatasan Indiana. Namun, pada tahun 1885, ketika Jacob Griffith meninggal, ibu Griffith memindahkan keluarganya ke Louisville. Ibu Griffith berusaha membesarkan anak-anaknya dengan sedikit keberhasilan dari mengoperasikan rumah kos. Selain itu, ia jugalah yang memengaruhi keformatifan pada putranya.

Dalam situasi seperti itu di New York pada akhir 1907, kehidupan dapat dibuat cerita lantas diserahkan kepada perusahaan film. Di tahun tersebut hal itu tiba-tiba bermunculan di kota.

Griffith pun mengarang versi drama Victorien Sardou menggunakan nama panggungnya, Lawrence Griffith. Ia kemudian menawarkannya kepada Edwin S. Porter di studio Edison. Porter menolak skenario tersebut dengan alasan bahwa skenario itu memiliki terlalu banyak adegan untuk sebuah film.

Kendatipun demikian, Porter menawarkan Griffith menjadi pemain utama dalam filmnya, Rescued from an Eagle’s Nest, dengan gaji $ 5 per hari. Dengan sedih Griffith menerima tawaran tersebut. Setelah film itu selesai, Griffith mulai mendekati American Mutoscope and Biograph Company dengan beberapa ceritanya.


Inovasi 1908–1909: Interframe Narrative

Dalam lima tahun berikutnya, Griffith menyutradarai lebih dari 450 gulungan American Biograph. Teknik naratif dalam eksperimennya tersebut, nantinya akan ia gunakan dalam film The Birth of a Nation (1915) dan Intolerance (1916). Kedua film ini juga nantinya akan masuk ke dalam daftar konvensional sinema.

Akan tetapi, ternyata Griffith nyaris tidak menyadari inovasinya tersebut. Bagi Griffith, inovasi itu adalah hasil dari pemecahan masalah praktis tanpa ada perumusan, bukan teori abstrak, dan apalagi menggunakan metode pengerjaan yang intuitif dan empiris, bukan formalistik.

Naratif dari novel Victoria yang disukai Griffith telah menjadi model atas inovasinya tersebut. Dengan begitu, akhirnya Griffith menggabungkan antara mode dramatis/novelistik dengan sinematik.

Dalam perjalanan karirnya, Griffith menerjemahkan mode naratif abad XIX ke dalam istilah sinematik, bahwa sinema akan tetap menjadi bentuk seni naratif yang didominasi.

Dalam gerakan pertamanya membentuk sinema naratif klasik, Griffith melibatkan penggunaan ”cut-in” pada film The Greaser’s Gauntlet (1908), empat bulan kemudian ia membuat The Adventures of Dollie.

Dengan demikian, inovasi pertama Griffith dalam film-film tahun 1908 hingga 1909 adalah untuk alternate shots of different spatial lengths, yaitu pergantian bidikan-bidikan dari jarak spasial yang berbeda.

Bentuk naratif Griffith berikutnya adalah penggunaan penyuntingan secara paralel, misalnya, dalam After Many Years, versi layar Oktober 1908 dari puisi naratif Tennyson “Enoch Arden”.

Penyuntingan seperti itu tidak hanya menampilkan subjektivitas kamera seperti F. W. Murnau dan Karl Freund, tetapi juga adanya montase atraksi seperti milik Sergei Eisenstein.

Dalam film lain, dia menggunakan pemotongan untuk menciptakan apa yang dia sebut ”objects of attention”. Dalam mana ia memotong dari karakter yang melihat sesuatu di luar layar ke dalam bidikan yang dilihat karakter. Istilah ini kemudian dikenal sebagai bidikan ”motivated point-of-view”, yakni menempatkan kamera pada posisi spasial karakter sehingga bidikan tersebut menimbulkan subjektivitas.

Selain itu, Griffith juga menggunakan flashback atau ”peralihan”. Ia menyebut istilah tersebut dalam penggunaan bidikan atau sequence shots yang dapat mengganggu masa kini dan mengembalikan ke masa lalu.

Menurut Griffith, film bukanlah cerita yang disampaikan melalui susunan kata-kata, tetapi melalui gambar fotografi yang bergerak. Alih-alih mendapat dukungan dari Biograph. Justru Griffith dianggap telah bertindak terlalu jauh. Kendatipun demikian, di tahun pertama sebagai seorang sutradara di Biograph, film-film Griffith secara substansial telah meningkatkan kekayaan perusahaan.

Langkah Griffith selanjutnya bisa dibilang lebih radikal. Ia melibatkan fragmentasi spasial dan temporal dari rangkaian realitas untuk menciptakan ilusi dari tiga aksi paralel. Dengan menggunakan teknik tersebut, ia tidak hanya membentuk naratif, tetapi juga sebagai dasar struktur filmnya untuk mencapai kebaruan.

Begitu kuatnya dampak film yang dibuat menggunakan teknik tersebut, sehingga intercutting-nya ditiru secara luas di seluruh industri dan kemudian dikenal secara umum sebagai ”Griffith last-minute rescue”.

Seperti yang dicatat oleh sejarawan film Arthur Knight, Griffith telah menemukan bahwa lamanya waktu pengambilan gambar di layar dapat menciptakan ketegangan psikologis yang signifikan pada penonton. Semakin pendek durasi pengambilan gambar di layar, semakin besar ketegangan yang mampu dihasilkannya.

Teknik tersebutlah yang menjadi fondasi struktural dari sinema naratif The Birth of a Nation hingga saat ini.


Inovasi 1909–1911: Intraframe Narrative

Penemuan 1908–1909, yang disebut dengan interframe narrative, yakni hubungan antar frame yang dinamis, atau disebut juga dengan bidikan, menyadarkan Griffith bahwa intraframe narrative, yakni sesuatu yang di dalam frame dan gambar di dalam filmnya juga penting.

Akhirnya, ia mulai menuntut cerita dengan kualitas tinggi untuk filmnya. Banyak di antaranya yang berasal dari sastra. Alih-alih telah menyutradarai film seperti melodrama yang begitu banyak di Biograph, Griffith juga mengadaptasi film-film dramatis dari Shakespeare, Poe, Tennyson, Browning, Dickens, dan Tolstoi. Beberapa filmnya seperti, A Corner in Wheat (1909), bahkan memiliki tema sosial kontemporer. Melalui cara inilah, Griffith berupaya untuk menghargai medium film itu sendiri.

Sejauh ini, kontribusi Griffith yang paling penting pada intraframe narrative, dibuat setelah ia memindahkan perusahaannya ke California Selatan pada awal 1910. Di sini, dalam film seperti The Lonedale Operator (1911) dan The Battle of Elderbush Gulch (1913), ia menemukan pentingnya pergerakan kamera dan penempatannya pada ekspresi dramatis film.

Selain itu, Griffith juga menemukan ekspresi dramatis dalam penempatan kamera selama tahun-tahun awal di California. Ia menjadi salah satu direktur pertama yang menyusun shot in depth. Ia menemukan bahwa perspektif yang datang dari bidikan dapat digunakan untuk mengomentari atau menciptakan penekanan dramatis pada beberapa elemen dalam film.

Dengan demikian, maka Griffith telah membuat metafora visual visual metaphore dalam frame melalui penempatan kamera.


Hal Terpenting dari Griffith

Melalui pengakuannya sendiri, Griffith telah memperoleh sebagian besar inovasi naratif utamanya dari teknik fiksi dan melodrama abad kesembilan belas. Sergei Eisenstein menunjukkan bahwa, upaya Griffith untuk terus-menerus melakukan pengeditan paralel adalah fungsi dari visi dualistik tentang pengalaman manusia, sejarah manusia yang terjadi, direduksi menjadi pergulatan melodramatis antara kekuatan ”Baik” dan ”Jahat”.

Griffith juga merupakan sinematik jenius terbesar dalam sejarah, yakni orang yang telah menemukan, mensintesis, dan mengartikulasikan bahasa narasi film. Kejeniusannya ini, pada dasarnya ialah suatu yang inovatif dan intuitif, bukan kritis atau analitik. Akan tetapi ketika Griffith mulai menganggap dirinya sebagai nabi dan filsuf media film, dia tidak lagi menjadi pemeran utamanya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun menyadari akan ketidakrelevanan pencapaiannya selama abad ke-XIX, sehingga akhirnya ia mampu mengatasi keterbatasannya ini melalui penilaian, penglihatan, dan cita rasa untuk menjadi salah satu seniman besar abad ke-XX.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Sejarah Film, Sejarah Film Dunia

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin