Macam Gaya Editing Film

· Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Penyuntingan merupakan kekuatan kreatif dasar, melalui gambar-gambar yang semula tidak berjiwa, kemudian direkayasa menjadi bentuk sinematografi yang hidup.

V. L. Pudovkin (Sutradara).

Tabel Konten
  1. Apa Itu Editing
  2. Empat Dimensi Editing Film
  3. Continuity Editing
  4. Crosscutting

Apa Itu Editing?

Kegiatan menyusun dan memangkas berbagai bidikan atau shot dalam urutan yang diinginkan pembuat film hingga mencapai ketepatan. Penyuntingan ini berfungsi bagi pembuat film untuk meimilih dan memilah gambar mana yang layak ditampilkan di skrin.

Penyuntingan film juga memungkinkan pembuat film untuk memanipulasi waktu, ruang, dan kualitas gambar dengan cara yang dapat membentuk pengalaman spektator pada film. Dalam kegiatan penyuntingan ini, biasanya editor akan menerima begitu banyak perekaman gambar. Supaya tugas penyuntingan lebih mudah, kebanyakan pembuat film sudah merencanakannya mulai tahap pra-produksi hingga pasca produksi.

Setelah melakukan pemilihan gambar, seorang editor kemudian melakukan tahap berikutnya, yakni menggabungkan bidikan-bidikan yang dipilihnya, dari awal film dimulai hingga akhir. Dalam penggabungan, hal yang biasa dilakukan ialah ”cut”. Pada tahap memotong ini, akan memberikan perubahan seketika dari bidikan satu ke bidikan lainnya.

Selain itu ada tahap ”fade-out”, tahap menggelapkan ujung sebuah bidikan menjadi hitam. Pun ada tahap ”fade-in”, yakni meringankan sebuah bidikan dari tahap gelap. Tahap ”dissolve”, dapat menjadikan suatu bidikan A dan B yang disambung bisa halus maksimal. Dan ”wipe”, di mana bidikan B menggantikan A melalui garis batas yang bergerak di skrin.

Sebelum munculnya penyuntingan secara digital di tahun 1990-an, pemotongan biasanya dilakukan dengan menyambungkan dua bidikan bersama-sama pada pita film. Dissolve, wipe, dan fade, dilakukan dengan printer optik atau di laboratorium. Dalam pengeditan komputer, semua jenis pengeditan dibuat dengan perangkat lunak.


Empat Dimensi Editing Film

Penyuntingan memberikan pembuat film pada empat area dasar pilihan dan kontrol:

  1. Hubungan grafis antara bidikan A dengan bidikan B.
  2. Hubungan ritmis antara bidikan A dengan bidikan B.
  3. Hubungan spasial antara bidikan A dengan bidikan B.
  4. Hubungan temporal antara bidikan A dengan bidikan B.

Hubungan grafis antara bidikan A dengan bidikan B

Empat aspek mise-en-scene (pencahayaan, setting, kostum, dan pergerakan figur) dan kebanyakan kualitas sinematografi (fotografi, framing, dan pergerakan kamera), semuanya melengkapi elemen grafis. Setiap bidikan memberikan pengeditan grafis murni, dan setiap potongan menciptakan semacam hubungan grafis antara dua bidikan.

Penyuntingan Grafis: Kecocokan dan Ketakcocokan

Penyuntingan grafis memiliki tujuan untuk mencapai kontinuitas yang halus atau kontras yang tajam.

Kecocokan penyuntingan grafis merupakan hubungan ketepatan antara gambar dan grafis. Biasanya meliputi bentuk, warna, gerakan, dan keseluruhan komposisi. Dalam contoh kecocokan penyuntingan grafis yang paling dinamis terdapat dalam film Akira Kurosawa berjudul Seven Samurai. Kurosawa memotong enam gambar secara bersamaan, yakni ketika samurai berlari dengan berbeda-beda, yang mana hasil semuanya sangat singkat dan serasi secara grafis.

Kecocokan grafis yang tepat seperti itu jarang terjadi. Kontinuitas grafis yang lebih longgar dari bidikan A ke B merupakan tipikal sinema naratif. Sutradara biasanya akan berusaha keras untuk menjaga agar titik perhatian utama tidak konstan selama pemotongan, mempertahankan tingkat pencahayaan keseluruhan, dan untuk menghindari benturan warna yang kuat dari bidikan ke bidikan.


Continuity Editing

Ketika pembuat film mulai mengeksplorasi penyuntingan antara tahun 1900-1910, mereka mencoba mengatur bidikan untuk menampilkan sebuah cerita dengan jelas. Didukung oleh strategi sinematografi dan mise-en-scene tertentu, yang didasarkan pada kesinambungan naratif, pembuat film mengembangkan pendekatan dalam menyunting gambar.

Eksplorasi tersebut berpadu menjadi gaya yang konsisten pada akhir tahun 1910-an, dan dianut oleh pembuat film di seluruh dunia. Seorang sutradara, sinematografer, artis, maupun editor, memerlukan pemahaman mendalam tentang penyuntingan kontinuitas.

Teknik penyuntingan kontinuitas merupakan teknik yang berpola, berdasarkan keputusan pembuat film yang dirancang untuk memiliki efek khusus pada spektator. Gaya penyuntingan ini bertujuan untuk mengirimkan informasi naratif dengan lancar dan jelas melalui serangkaian gambar.

Dengan demikian, penyuntingan berperan dalam sebuah narasi dan arus informasi cerita momen demi momen. Semua dimensi penyuntingan berperan dalam gaya kontinuitas.

Pertama, pembuat film biasanya menjaga kualitas grafis secara terus menerus dari bidikan satu ke bidikan lainnya. Gambar diseimbangkan dan ditempatkan secara simetris dalam bingkai; pencahayaan keseluruhan tetap konstan; aksi menempati zona tengah layar.

Kedua, pembuat film biasanya menyesuaikan ritme pemotongan dengan skala jepretan. Bidikan yang tampak jauh dibiarkan di layar lebih lama dari bidikan yang sedang. Dan bidikan menengah dibiarkan lebih lama dari close-up. Hal ini memberikan lebih banyak waktu bagi spektator untuk mengambil pandangan yang lebih luas, yang berisi lebih banyak detail.

Kontinuitas Spasial: Sistem 180°

Ketika bekerja dalam gaya kontinuitas, pembuat film membangun ruang di sekitar apa yang disebut axis of action, garis pusat, atau garis 180°. Pembuat film akan merencanakan, menata, memotret, dan menyunting sebuah bidikan untuk mempertahankan sumbu aksi dari satu bidikan ke bidikan lainnya.

Sistem 180°, dapat dibayangkan sebagai luas pandangan. Di bawah gaya kontinuitas, sutradara akan mengatur mise-en-scene dan penempatan kamera untuk membangun dan mempertahankan jalur 180° ini.

Alasan Penggunaan Sistem 180°

Alasan Penggunaan Sistem 180° dalam Film
Sistem 180°
  • Sistem 180°, memastikan bahwa posisi yang relatif dalam bingkai tetap konsisten.
  • Sistem 180°, dapat memastikan garis mata karakter tetap konsisten.
  • Sistem 180°, dapat memastikan arah layar tetap konsisten.

Sistem 180° dapat menggambarkan ruang dengan jelas. Spektator harus selalu tahu keberadaan karakter dalam hubungannya dengan satu sama lain dan dengan setting. Lebih penting lagi, spektator selalu tahu di mana karakter sehubungan dengan tindakan cerita.

Kebanyakan pembuat film percaya bahwa setiap disorientasi akan mengalihkan perhatian spektator dari aksi plot yang sedang berlangsung. Dengan demikian, spektator tidak dapat membangun cerita dalam pikiran kita jika tidak memahami keberadaan karakter.

Kontinuitas Temporal: Urutan, Frekuensi, dan Durasi

Gaya penyuntingan kontinutas, menawarkan kepada banyak pembuat film pilihan tentang menyajikan waktu cerita. Opsi tersebut melibatkan dimensi urutan, frekuensi, dan durasi waktu.

Urutan dan Frekuensi

Penyuntingan kontinuitas biasanya menampilkan peristiwa cerita dalam urutan 1-2-3. Namun, juga tak jarang ada yang melanggar urutan tersebut, yakni lazimnya dalam bentuk kilas balik (flashback).

Pada frekuensi waktu, penyuntingan kontinuitas sering hanya disajikan sekali apa yang terjadi dalam cerita. Jadi urutan kronologis dan frekuensi satu-ke-satu adalah metode standar dalam gaya penyuntingan kontinuitas.

Durasi

Durasi menawarkan kemungkinan pengeditan yang lebih tidak biasa. Dalam sistem kontinuitas klasik, durasi cerita disesuaikan dengan pengeditan. Biasanya durasi disajikan secara terus menerus (waktu plot dan waktu di skrin sama dengan waktu cerita) atau dieliminir (waktu cerita lebih besar dari waktu plot dan waktu di skrin).

Ada 3 cara untuk mencapai kontinuitas temporal, yakni:

  1. Progresif naratif: adegan tidak memiliki celah, baik pada setiap gerakan karakter dan setiap dialog
  2. Soundtrack. Suara yang keluar dari ruang cerita disebut diegetic sound. Adalah indikator standar kontinuitas temporal.
  3. Ada kecocokan antara aksi pada bidikan A dan B.

Crosscutting

Gaya penyuntingan kontinuitas menunjukkan bahwa penyuntingan dapat memberikan narasi film pengetahuan yang sangat luas. Selain gaya penyuntingan kontinuitas, juga yang tak kalah menarik ialah crosscutting. Gaya penyuntingan crosscutting kali pertama dieksplorasi oleh D. W. Griffith, dengan tujuan untuk menyelamatkan filmnya di menit-menit terkahir.

Gaya penyuntingan ini dapat memberi pengetahuan informasi cerita yang relatif tidak terbatas. Penyuntingan ini dilakukan dengan cara mengganti bidikan peristiwa di satu tempat dengan bidikan peristiwa di tempat lain. Penggunaan penyuntingan ini, dapat menimbulkan resiko, di antaranya menyebabkan beberapa ketaksinambungan ruang.

Kendatipun demikian, dapat mengikat tindakan secara bersamaan dengan menciptakan sebab-akibat dalam waktu bersamaan. Dengan menetapkan satu aksi ke aksi lainnya dalam waktu yang singkat, justru dapat membangun ketegangan. Selain itu, gaya penyuntingan ini juga dapat memberikan pengetahuan yang lebih besar mengenai karakter.

Gaya-gaya yang sudah tersebut di atas, masihlah sebagian dari gaya penyuntingan dalam film. Apalagi seiring berkembangnya zaman, juga pasti ditemukan gaya-gaya penyuntingan lainnya yang tentunya memiliki efek dan tujuannya masing-masing.

{
  "credit title": {
    "author": "Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Gaya Film, Penyuntingan Film, Teknik Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin