Rudolf Arnheim: Perkembangan Sejarah Film Bisu Hingga Suara

· Nawa Dasa Satsata

Perkembangan teknis film akan membawa tiruan mekanis alam kepada sesuatu yang lebih ekstrem. Langkah pertama yang dilakukan untuk mengarah pada hal tersebut ialah dengan adanya penambahan suara.

Pengenalan film suara harus dianggap sebagai kebaruan teknis. Para seniman film terbaik yang terlibat dalam mengerjakan gaya film bisu yang eksplisit dan murni, menggunakan batasan teknis untuk mengubah pertunjukan mengintip menjadi sebuah seni. Oleh karena itu, film suara menawarkan potensi artistiknya sendiri.

Di masa depan, ”kemajuan” akan terus berkembang lebih cepat, yakni munculnya film berwarna. Dengan demikian potensi artistik dari film suara akan dihancurkan pada tahap perkembangan film berwarna.

Apa yang akan ditawarkan film berwarna saat mencapai kesempurnaan teknis? Akankah warna memungkinkan penonton untuk mencapai ketepatan komposisi dan suatu kemandirian ”realitas” yang serupa dengan film hitam-putih?

Karya-karya lukisan membuktikan bahwa warna memberikan kemungkinan yang lebih luas ketimbang hanya tampilan hitam-putih. Sementara itu, fotografi dan film yang merupakan media seni yang begitu dekat dengan alam, sehingga masyarakat pun memandang keduanya lebih unggul daripada teknik-teknik imitatif yang kuno dan tidak sempurna, seperti menggambar dan melukis.

Menurut Ralph H. Baer, dalam esai kecilnya di Kunstblatt menunjukkan, bahwa film berwarna mewakili pencapaian kecenderungan yang telah lama hadir dalam seni grafis:

Seni grafis, yang mana fotografi adalah salah satu cabang yang selalu mengusahakan adanya warna. Pada abad kedelapan belas, sketsa warna-warni diproduksi. Pada abad ke-19, litograf Daumier dan Gavarni diwarnai dalam produksi massal. Warna menyerbu seni grafis sebagai daya tarik bagi mata, sehingga masyarakat menuntut tingkat tertinggi pada pewarnaan cerah. Oleh karena itu, film membutuhkan bantuan warna-warna cerah dan hal itu merupakan stimulus baru .

Reaksi Biologis dari Gambar Bergerak

Dua sifat teknis dasar yang menjadi ciri khas film. Pertama, Mereproduksi objek secara fotografis; kedua, mereproduksi gerak dan peristiwa benda yang direkamnya.

Adanya kemampuan manusia mereproduksi gerakan, keinginannya akan menyamakan lingkungan dalam sebuah reproduksi gerak, menimbulkan kepuasaan baru tersendiri. Apa pun penyebab psikologis dari keinginan tersebut, hal itu menunjukkan bahwa, membuat peristiwa dalam gambar bergerak lebih penting daripada melukiskan objek dalam bentuk dan warna yang statis. Karena di dalam gambar bergerak terjadi adanya reaksi biologis: reaksi sebuah kejadian yang belum terjadi.

Kendati keduanya, gambar bergerak dan gambar statis (foto), dapat menunjukkan adanya sebuah peristiwa, namun di antara keduanya tetap ada yang membedakan: gambar statis (foto) tidak bisa menunjukkan perubahan perjalanan waktu.

Teknik Awal Kemunculan Gambar Bergerak

Berbeda dengan lukisan dan patung yang tidak memiliki kemajuan temporal, film dengan sifat medium audio-visualnya, ia mampu menampilkan gambar bergerak. Gambar bergerak sendiri merupakan suatu peristiwa. Dalam hal gerak ini pula, film menjadi istimewa. Oleh karena itu, film harus menggunakan dan menginterpretasi gerak dengan adanya estetika.

Dibangun pada abad ketujuh belas oleh ahli matematika, Milliet de Chales menggunakan kaca slide yang dimasukkan dari samping, yang disebut dengan ”The Laterna Magica” (lihat Gambar 1).

penemuan alat gambar bergerak oleh ahli matematika Milliet de Chales
Gambar 1: The Laterna Magica.

Teknik ini tidak hanya menempatkan beberapa gambar pada slide yang sama dan menampilkan secara berurutan, tetapi juga memiliki satu adegan yang berjalan melalui bidang visual dalam gerakan yang berkesinambungan, sehingga menghasilkan kesan yang didapat seseorang ketika melihat melalui jendela mobil.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam sebuah cetakan yang disebut Vues Optiques (perspektif pandangan) (lihat Gambar 2). Hal ini dapat dilakukan melalui mata lensa yang diperbesar, sehingga seseorang dapat menyaksikan adegan-adegan yang dilukis atau dicetak, yang biasanya dililitkan pada gulungan dan ditarik melewati kotak secara lateral dengan menggunakan engkol.

alat cetak untuk menghasilkan gambar bergerak
Gambar 2: Vues Optiques.

Vues Optiques secara khusus dikembangkan untuk memberikan ilusi kedalaman ketika dilihat melalui zograscope (perangkat optik untuk pembesar gambar datar yang juga memiliki sifat meningkatkan rasa kedalaman pada gambar).

Promio merumuskan secara eksplisit bahwa, dalam gambar bergerak, gerakan tidaklah absolut, tetapi selalu terkait dengan titik kedudukan kamera.

Faktor-faktor yang dialami penonton dalam gerak:

  1. Gerakan benda yang terekam oleh kamera, baik hidup maupun mati;
  2. Efek perspektif dan jarak kamera dari objek;
  3. Efek dari kamera yang bergerak;
  4. Keselarasan adegan individual yang diselesaikan melalui montase (editing), menjadi komposisi gerak yang menyeluruh;
  5. Interaksi gerakan yang diletakkan bersebelahan dengan montase.

Gerak tidak hanya berfungsi untuk memberi tahu audiens tentang peristiwa yang membentuk cerita, tetapi juga sangat ekspresif. Misalnya: Ketika kita melihat seorang ibu menidurkan anaknya, kita tidak hanya mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi juga belajar dari ketenangan atau ketergesaan, gerakan yang halus atau meraba-raba, energik atau lemah, yakin atau ragu-ragu, sehingga dari sikap-sikap tersebut, penonton tahu seperti apa sosok ibu, bagaimana dia merasakan momen tertentu, dan apa hubungannya dengan anaknya.

Hal yang terkait erat dengan gerak yaitu Ritme. Pengulangan, misalnya, intensitas visual adegan yang menunjukkan tentara yang berbaris, pria di tempat kerja, mesin, atau dalam paduan suara.

Cara gerakan ini muncul di layar sangat dipengaruhi oleh teknik merekam dan menggabungkannya. Kamera yang ditempatkan di sudut tertentu akan menangkap objek yang berpengaruh pada gerakan. Tidak hanya karena kecepatan tergantung pada jarak, tetapi juga karena perspektif yang dipendekkan akan mengurangi gerakan, yang juga meningkatkan kecepatan visual.

Karena gerakan visual merupakan tindakan yang terjadi dalam perjalanan waktu, ia memiliki afinitas dengan musik yang memengaruhi sebuah gerakan.

{
  "credit title": {
    "author": "Nawa Dasa Satsata",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoritis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini