Sinematografi sebagai Bahasa Film

· Nashrullah Ali Fauzi

Jika mendengar judul artikel di atas tentu terlintas akan kegiatan perekaman di depan kamera. Ternyata bukan hanya itu saja, merekam di depan kamera juga melibatkan sinematografer dan sutradara untuk mengambil keputusan tentang apa yang akan dilihat oleh penonton nanti.


Yang lebih krusial ialah, bagaimana pembuat film memikirkan bahwa penonton tidak hanya mendapat pengalaman intelektual—seperti plot, tetapi juga perlu adanya pengalaman secara emosional. Salah satu cara untuk menciptakan emosionalitas sebuah adegan di dalam film, ialah menggunakan bahasa sinematografi.

Perlu dipahami, bahwa ketika menonton dunia di dalam film, dasariahnya ialah berbeda dengan mata dan telinga ketika melihat dunia secara nyata. Dalam mana film hanya menampilkan ilusi dari realitas saja. Berbeda pula ketika melihat teater. Di dalam film begitu banyak metode yang bisa digunakan untuk mengubah persepsi penonton tentang realitas.

Tabel Konten
  1. Menengok Sejarah Awal Perfilman
  2. Bingkai (Frame)
    1. Bingkai-Statis
  3. Bahasa dalam Sinematografi
  4. Membangun Bidikan dari Sebuah Adegan
    1. Establishing Shot
    2. Wide Shot
    3. Full Shot
    4. Two Shot
    5. Medium Shot
    6. Close-Up
    7. Over The Shoulder
  5. Metode Shooting
    1. Master Scene Method
    2. Coverage

Menengok Sejarah Awal Perfilman

Banyak praktisi dan/atau pembuat film yang berlatar teater di masa-masa awal perfilman. Ketika kali pertama mereka melihat kamera, yang ada dibayangannya ialah bahwa kemera sebagai alat untuk memperluas audiens, di mana mereka hanya meletakkan kamera di tempat penonton lantas menggunakannya untuk merekam (record) pertunjukan.

Dampaknya, pada film-film awal kamera tidak bergerak, tidak ada close-up, tidak ada pergeseran sudut pandang, dan lain-lain.

Sejarah sinema dengan mudah dapat dipelajari sebagai pengenalan dan penambahan berbagai teknik dan metode yang biasa disebut ”sinematik”—alat konseptual yang meliputi: bingkai, lensa, cahaya dan warna, tekstur, gerakan, dan point-of view (POV).

Type-of-shot bunga matahari berupa medium-shot
Type-of-shot dalam film

Bingkai (Frame)

Menyetel sebuah bingkai berarti berisi sekumpulan pilihan untuk memutuskan antara apa yang dilihat dan tidak oleh penonton. Pertama, keputusan yang berkaitan dengan adegan, yakni di mana kamera harus diletakkan. Kedua, keputusan tentang visi dan gerakan yang juga mencakup suara-suara. Keseluruhan keputusan tersebut berpengaruh pada penonton ketika melihat suatu bidikan.

Bingkai Statis

Bingkai statis merupakan sebuah prosenium—aksi adegan yang disajikan sebagai pertunjukan panggung. Dalam mana di antara penonton dengan aksi di panggung ada dinding mikroskopis yang memisahkan. Dan dalam hal ini penonton akan menjadi pengamat orang ketiga. Bingkai statis berimplikasi pada point-of-view (POV) dan pandangan dunia.

Dengan demikian, sifat jarak dari bingkai justru bertujuan untuk dirinya sendiri dan pembuat film dengan sengaja menempatkan penonton sebagai pengamat impersonal.

Bahasa dalam Sinematografi

Ketika membangun sebuah adegan, juga harus memikirkan elemen yang akan disusun dalam membuat adegan tersebut. Membicarakan bahasa sinema, berarti ialah sebuah bidikan merupakan kosakata (vocabulary. Ketika berada di meja editor dan lalu setiap bidikan tersebut disunting, maka bahasa tersebut menjadi sintagmatis.

Hal tersebut merupakan aspek visual dari bahasa film. Tentu saja, dalam hal ini juga ada sifat-sifat dari bahasa lain yang lebih berkaitan dengan struktur plot dan narasi.


Membangun Bidikan dari Sebuah Adegan

Sebuah bidikan merupakan konstruksi dasar dari bahasa film. Berikut ialah bahasa dalam sinematografi untuk membangun sebuah bidikan:

Establishing Shot

Bahasa ini ialah dipergunakan sebagai pembuka sebuah adegan. Lazimnya diambil dengan bidikan lebar, sehingga memperlihat semua elemen dalam adegan yang hendak dibuat. Bahasa ini berfungsi untuk memberitahu penonton lokasi yang ada di dalam bingkai.

Seorang pembuat film dan sinematografer harus memberi gambaran kepada penonton akan di mana lokasina, situasi dan kondisinya seperti apa, objek dan karakter berhubungan satu sama lain di mana. Dan hal ini tentunya akan mengarahkan perhatian penonton pada cerita, dan yang lebih penting ialah penonton tidak merasa kebingungan dengan apa yang mereka lihat. Impaknya jika penonton tidak diinformasikan hal tersebut ialah, mereka akan mengalihkan perhatiannya.

”Wide Shot”

Bahasa ini biasanya mencakup segala suasana yang menarik di dalam bingkai dan subjek menjadi relatif. Dengan wide shot ini membicarakan tentang panorama besar yang diambil dengan lensa panjang dan menggunakan fokus pendek. Misalnya, jika sebuah skrip bertanda ”wide shot- kamar A”, maka berkemungkinan mencakup semua ruangan atau hanya sebagaian.

Kedua bahasa tersebut bisa digunakan untuk karakter manusia atau non-manusia. Sementara yang khusus untuk digunakan pada karakter manusia ialah bahasa berikut ini:

”Full Shot”

Istilah bahasa ini digunakan untuk menandakan bahwa karakter yang akan ditampilkan di dalam bingkai dan dilihat penonton di layar ialah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun, bahasa ini juga berlaku untuk karakter non-manusia, misalnya bidikan sebuah mobil, maka akan diambil semua bagian mobil.

”Two Shot”

Two shot berarti mencakup dua karakter di dalam satu bingkai. Interaksi antara dua karekater dalam sebuah adegan merupakan dasariah dari salah satu bagian cerita. Namun, two shot ini tidak harus dan tidak selalu diatur secara simetris di dalam satu bingkai. Posisi dua karakter bisa saling berhadapan, menghadap jauh dari kamera, menghadap ke depan, dll. Selain itu, juga ada istilah three shot, di mana membidik tiga karakter dalam sebuah bingkai.

Medium Shot

istilah bahasa ini sama seperti wide shot, di mana relatif terhadap subjek. Dalam bahasa medium shot ini, penonton bisa melihat jelas ekspresi karakter, cara berpakaiannya, dan bisa lebih dekat pada aksi karakter. Dengan demikian, penonton lebih terlibat terhadap yang dikatakan dan dilakukan oleh karakter, tanpa fokus pada satu karakter tertentu atau detail tertentu.

”Close-Up”

Close-upmerupakan kosakata terpenting dalam sebuah bidikan. Pengambilannya hanya mencakup kepala atau misalnya sebuah saku baju saja. Istilah ini juga melahirkan beberapa bahasa lainnya, antara lain:

  • Medium close-up (MCU), pengambilannya dari atas kepala sampai pinggang;
  • Tight close-up, dalam bahasa ini maka bidikan akan menghasilkan kehilangan sebagian dahi dan mungkin sebagian dagu, membingkai mata, hidung, dan mulut;
  • Choker, bidikan yang diambil dari tenggorokan ke atas;
  • Extreme close-up (ECU), bervariasi, yakni hanya membidik mata saja, atau jam tangan saja. Namun lazimnya hanya mulut dan mata;
  • Big head close-up atau BCU, bidikan yang diambil hanya sebagian kecil dari kepala.

”Over the Shoulder”

Bahasa sinematografi tersebut sebenarnya juga merupakan variasi dari bagian close-up. Over the shoulder (OTS), pengambilan bidikan dari bahu salah satu karakter dalam bentuk MCU. Bahasa ini bertjuan untuk mengikat kedua karakter bersamaan dan juga untuk menempatkan penonton pada posisi yang dituju. OTS ini merupakan bagaian kosakata yang krusial pada pembuatan film naratif. OTS ini biasanya digunakan dalam pengambilan adegan dialog.


Metode ”Shooting”

Ada banyak cara untuk mengambil sebuah bidikan dalam adegan, tetapi yang paling sering digunakan hanya metode dasar. Berikut ialah beberapa teknik dasariah yang sering digunakan untuk merekam gambar:

Master Scene Method

Pada prinsipnya, metode dalam pembuatan adegan utama cukup sederhana: merekam seluruh adegan sebagai satu bidikan dari awal sampai akhir. Itulah yang disebut dengan adegan master (master scene). Cara melakukan pengambilan adegan master sangatlah variatif: kendatipun biasanya diambil secara lebar, tetapi itu tidak selalu, pun tidak harus statis, bahlam sebuah pergerakan justru sangat bagus. Namun, yang terpenting ialah diambil secara keseluruhan dari awal hingga akhir adegan.

Setelah memiliki adegan master, buatlah coverage. Namun, untuk adegan yang kompleks, bisa dibuat adegan master-mini.

”Coverage”

Coverage terdiri dari over-the-shoulder, medium shot dan close-up yang akan melengkapi mise-en-scene. Ketika mengambil coverage ini, maka harus sesuai dengan adegan master. Jangan ubah dulu coverage sebelum benar-benar mendapat adegan yang diinginkan, karena jika hal itu dilakukakan maka bisa berakibat fatal, yakni perubahan pencahayaan dan elemen lainnya. Selain itu, juga akan membung-buang waktu.

Untuk menjaga konsistensi karakter ketika meng-coverage bolak-balik, maka perlu metode ukuran lensa (lens size) dan jarak fokus (focus distance). Berikut beberapa prinsip-prinsipnya:

  1. Rekam masternya: jika melakukan coverage terlebih dahulu impaknya ialah dalam kontinuitas;
  2. Dapatkan adegan dari awal hingga akhir;
  3. Jika karakter masuk, mulailah dengan clean frame, lantas kemudian karakter baru diperbolehkan masuk bingkai;
  4. Jika karakter keluar, pastikan mereka keluar seluruhnya, meninggalkan clean frame dan Lanjutkanlah membidik adegan selanjutnya;
  5. Bisa juga menggunakan transisi pada karakter yang masuk dan keluar dari tempat kejadian;
  6. Bidik semua bidikan sebelum pindah ke sisi lain dari pemandangan. Hal ini disebut sebagai shooting out.

Dengan demikian, membuat film bukan sekadar menekan tombol on dan off untuk merekam gambar bergerak, tetapi juga begitu banyak bahasa sinematik yang digunakan. Bahasa sinematik ini bisa dilakukan dengan teknik-teknik dan/atau metode sinematografi.

{
  "credit title": {
    "author": "Hallurhsan Ila Izuaf",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini