Bentuk dan Gaya Film Superhero Indonesia

· Alia Ali

Dibungkus dengan konteks permasalahan masyarakat Indonesia, film besutan Joko Anwar ini menjadi awal bangkitnya film pahlawan super Indonesia. Film bergenre action yang diadaptasi dari karakter dalam komik karya Harya Suraminata atau biasa disapa Hasmi ini, disajikan secara tidak berlebih-lebihan, baik dari segi bentuk dan gaya. Gundala benar-benar berbeda.

Apakah film superhero kita mememiliki gaya dan bentuk tersendiri atau meniru industri Hollywood?

Kehadiran Gundala, sepertinya akan membawa suasana baru bagi perfilman Indonesia. Sebagai film pembukaan di Bumilangit—nantinya akan melahirkan tujuh pahlawan super, Gundala berhasil menjadi tombak dan pijakan untuk karakter-karakter pahlawan lainnya.

Tidak seperti kisah superhero yang ditampilkan oleh Hollywood, film ini justru menyuguhkan kearifan lokal di Indonesia. Di antara hal tersebut ialah teknik bela diri, persenjataan yang sekadarnya, karakterisasi kepahlawanan yang tidak berupaya meniru-niru bentuk dan gaya sinema Hollywood.

Masa kecil Sancaka yang diperankan oleh Muzakki Ramdhan, tidak seperti anak-anak seusianya. Lingkungan hidupnya begitu keras. Di awal film hal ini sudah ditunjukkan, yakni kekejaman, ketidakadilan, dan kejahatan yang berkelindan di diri karakter.

Rio Dewanto sebagai pemeran ayah Sancaka, meninggal akibat membela keadilan para buruh. Sejak ayahnya meninggal, setahun kemudian, ia harus kehilangan ibunya (Marissa Anita) yang pamit bekerja di luar kota, tetapi tak pernah kembali.

Akhirnya, ia berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Ia juga memutuskan meninggalkan rumah yang pernah ia tempati bersama ayah dan ibunya. Ia menggelandang.

Di tengah ia berkelana, ia dikeroyok para preman hingga dirinya tak berdaya dan tak mampu melawan. Muncullah seseorang bagai pahlawan. Ialah Awang yang dimainkan oleh Fariz Fajar. Bersama Awang, Sancaka dilatih bela diri.

Sancaka sudah terbiasa hidup sendiri. Hingga dewasa, ia akhirnya bekerja sebagai satpam. Di sinilah ia bakal menumukan siapa dirinya. Ia juga akan menyadari kekuatan yang dimilikinya berasal dari mana.

Sejak ia masih kecil hingga dewasa, kesulitan tak pernah putus-putusnya menghimpit dirinya. Mulai menghadapi ketidakadilan antara penguasa dengan rakyat kecil, kehilangan kedua orangtuanya, hingga ia harus berhadapan dengan seorang mafia yang sudah seperti Tuhan.

Sederhana

Abimana Aryasatya memerankan karakter Sancaka dewasa sekaligus membawakan karakter Gundala secara sederhana. Sutradara film tidak memerlukan kostum yang terlalu muluk-muluk.

Pahlawan super Gundala dibentuk sejak awal film dimulai, meskipun hal itu belum disadari. Sutradara memberi petunjuk terhadap pembangunan karakter ini, yakni, dengan repetisi datangnya hujan dan suara petir. Setiap hujan berpetir menyerang, karakter Sancaka selalu ketakutan. Apalagi jika mendengar gelegarnya, ia pasti menutup telinga dan bersembunyi.

Selain suara petir, sutradara juga merepetisi adegan ketika telinga karakter disayat. Pertama, ketika karakter masih kecil, saat kali pertama ia menggelandang dan berkelahi dengan preman. Kedua, ketika karakter sudah dewasa. Kejadiannya serupa, sama-sama melawan preman.

Pada waktu Gundala sudah menyadari bahwa kekuatannya berasal dari sana, ia tak takut lagi dengan datangnya hujan dan suara petir. Ia lantas membuat kostum sendiri. Karakter Gundala menggunakan kostum yang dirancang dari barang-barang seadanya. Tutup kepala menggunakan helm. Baju didesain dari jaket kulit. Sepatu Gundala pun adalah yang digunakan Sancaka dewasa ketika bekerja.

Antara horor dan humor

Memang suara dalam film ini dapat menghidupkan suasana, tetapi terkadang muncul kesan horor. Efek tersebut membuat Gundala tampak bukan sebagai film tentang pahlawan super.

Look dan mood yang dibuat sutradara tampak suram dengan berwarna kuning remang-remang, seharusnya dapat menjadi latar belakang kehidupan karakter yang suram, penuh tekanan, dan tidak bahagia.

Suasana itu dibentuk dengan musik seperti yang terdapat di film horor, tentu malah terkesan menakutkan. Hal ini membuat adanya ketidaksinambungan antara kepahlawanan dengan efek musik horor. Efek suara horor demikian itu terkadang diletakkan di tengah-tengah karakter dalam membela ketidakadilan.

Ketegangan kesan horor ini tertutupi lewat humor yang dibangun secara spontanitas. Justru humor ini bukan datang dari karakter utama, melainkan karakter pembantu yakni, Pak Agung (Pritt Timothy) dengan kejenakaannya dan Teddy dengan keluguannya.

Pahlawan super Indonesia Vs. Hollywood

Film superhero Indonesia berbeda dengan Hollywood. Dari segi bentuk cerita, film Gundala menggunakan polemik kehidupan masyarakat Indonesia seperti, masalah sosial, politik, dan budaya. Pada umumnya Hollywood mengangkat seputar makhluk angkasa dan kecanggihan teknologi, Gundala justru disajikan dengan kesederhanaan.

Karakter-karakter dalam film Gundala tidak dilengkapi dengan senjata dan teknologi canggih. Sebaliknya, film ini hanya mengandalkan balok kayu, pistol, dan yang paling khas ialah seni bela diri.

Bela diri menjadi pegangan yang kuat bagi karakter-karakter. Pun setiap karakter memiliki seni bela diri berbeda-beda. Ada yang bela diri secara brutal seperti yang dilakukan oleh preman pasar. Ada yang menggunakan topeng seperti anak buah Pengkor. Gundala sendiri pun memiliki bela diri yang diajarkan oleh Awang.

Inilah film pembuka mengenai karakter pahlawan Indonesia. Gundala, sebagai besutan yang pertama kali bisa membuat para generasi milenial melek akan filmnya sendiri. Kekhasan superhero Indonesia seperti Gundala menjadi sebuah tombak perfilman negeri untuk lebih maju, baik dari segi bentuk maupun gaya cerita.

Dialah Pengkor yang dimainkan oleh Bront Palarae. Tokoh yang satu ini tampil dengan kewibawaannya. Karakter ini tertampil sebagai pembela rakyat, tetapi di sisi lain dia menjajah jiwa-jiwa anak-anak yatim-piatu lantas dijadikannya sebagai budak.

Pengkor begitu ditakuti pengikut-pengikutnya dan semua lapisan masyarakat. Dia mendidik para yatim-piatu agar menjadi manusia tangguh. Perbudakan yang dilakukannya ini tidak terlihat karena dia balut dengan jiwa kepahlawanannya.

Ulah Pengkor tak lain ialah bentuk dendam dari ketidakadilan. Dia berteriak benci dengan penguasa, tetapi dirinya sendiri berkuasa. Dia menumpas ketidakadilan dengan kejahatan, tetapi sekaligus menjalankan laku ketidakadilan pula.

Ketika cerita akan mencapai klimaks, Pengkor mengerahkan yatim-piatu yang dibesarkan ini untuk menyerang Gundala yang dianggap berpengaruh. Sancaka atau Gundala, bersama orang-orang yang memiliki nurani, melawan para anak buah Pengkor yang memiliki keahlian dan seni bela diri masing-masing.

{
  "credit title": {
    "author": "Alia Ali",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teoritis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini