Ikonografi Sosok Santri dalam Film (Religi) Indonesia Kini

· Tanaya Sekar Syahida

Di era ini, santri bukan lagi hal baru atau apalagi sosok yang dianggap ”wah”. Santri pula bukan suatu yang dibilang konservatif atau saklek lagi. Barangkali masih ada beberapa pesantren yang ajek dalam melanggengkan kekonservatifan tersebut, tetapi tidak sedikit pula pesantren yang sudah tampak menerapkan modernisasi. hal tersebut tampak ketika pesantren tersebut dijadikan sebagai sebuah latar dalam film.

Kehidupan santri, memang berbeda dengan para siswa yang tidak menempati pesantren, mulai dari rutinitas hingga aturan-aturan lainnya. Oleh karena keunikannya tersebutlah santri dan pesantren diangkat dalam sebuah perfilaman. Namun, apakah dengan demikian sudah bisa dikatakan sebagai genre islami/religi?

Film-film berbau santri dan pesantren akan lebih ramai ketika dalam peringatan Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober. Segala film bertema santri dan pesantren akan lebih disorot dan lebih diperbincangkan daripada film lainnya. Artinya, film yang mengangkat santri dan pesantren sudah memiliki wadah tersendiri bagi penonton Indonesia.

Film dan Hari Santri Nasional
Menara Kudus sebagai pusat santri

Tabel Konten
  1. Santri dan Film (Religi)
  2. Film dalam Sebuah Identitas

Santri dan Film (Religi)

Mengatakan bahwa film ini atau film itu adalah film islami/religi, berarti sudah mengategorisasikan bahwa film ini atau film itu adalah bergenre. Sebuah film bisa dikatakan sebuah genre, ia harus memenuhi dua syarat, yakni ikonografi dan naratifnya. Bukan sekadar menampakkan kehidupan santri dan pesantren lantas bisa diklaim sebagai film islami/religi. Alih-alih mengatakan bahwa film santri ialah film religi, justru lebih bertendensi terhadap genre melodrama percintaan misalnya.

Untuk bisa dikatakan sebagai genre islami/religi, tentu bukan sekadar dipandang dari sudut pandang a ala santri, yakni berjilbab/berpeci, memakai sarung, memakai sorban, membawa kitab atau Alquran, dll. Bisa jadi film-film yang menampakkan hal tersebut, secara naratif justru memiliki ideologi yang berbanding terbalik, misalnya mengisahkan percintaan dibalut dengan label santri. Santri hanya sebagai sebuah ”topeng”. Jadi, di sini tetap saja ideologinya adalah genre melodrama percintaan, meskipun barangkali secara ikonografi memenuhi.

Film seperti Perempuan Berkalung Sorban, ini bisa dikatakan hanya menggunakan santri dan pesantren sebagai ”kedok”. Tentu muncul pertanyaan, kenapa? Secara naratif, film tersebut tidak membicarakan tentang islami/religi. Film tersebut, bahkan memiliki ideologi tersembunyi sendiri, yakni tentang perempuan. Di film ini, tidak mengkhususkan perempuan dalam koridor Islam, tetapi perempuan secara global. Hanya menyinggung sedikit tentang kedudukan laki-laki dan perempuan secara Islam.

Hingga pada akhirnya, santri dalam film, hanya dapat dikenali dalam ikonografinya saja: bersarung, berjilbab/berpeci, bersorban, membawa kitab/Alquran, ada ustadz/ustadah, dll. Sementara itu, keunikan dunia santri—istilah ”roan” (kerja bakti di hari libur), takziran, sorogan (mengaji kitab), murojaah (mengaji alquran)—jarang sekali diekspos dalam film. Film-film yang mengatasnamakan santri lebih cenderung memihak pada ceritanya atau apalagi sistem bintang yang digunakan.

Kalaupun lebih menonjolkan sistem bintang dalam film yang berbau santri dan pesantren, sudah dapat dipastikan bahwa film tersebut hanya mengejar dunia industri. Adalah bukan lain dan bukan tidak hanya mencari keuntungan.

Hal tersebutlah yang jauh dari kategorisasi film genre islami/religi, meskipun ikonografi santri dan pesantren dalam film tersebut sangat melekat.

Film dalam Sebuah Identitas

Film bergenre a la Barat, seperti melodrama, aksi, fiksi-ilmiah, western, dan lain sebagainya, kini sedikit bergeser karena adanya sebuah formula baru dalam perfilman, khususnya di Indonesia. Bukan hanya satu atau dua film yang diproduksi berdasarkan klaim genre (religi), tetapi sudah begitu banyak. Namun, lagi-lagi apakah film-film tersebut sudah bisa dikatakan sebagai sebuah genre khusus: genre film islami/religi, jika masih menggunakan genre lainnya, sepeti komedi, melodrama, dan aksi?

Di Indonesia, film yang mengangkat kehidupan santri dan pesantren, selalu memiliki daya tarik sendiri untuk dijadikan sebuah tontonan. Hal tersebut dikarenakan sebagian penduduk Indonesia berasal dari pesantren atau masih sedang menjadi santri.

Padahal ketika masa Orde Baru, representasi santri dan dunia pesantren, nyaris tidak ditemukan dalam perfilman indonesia. Seiring berjalan waktu pun terjadi sebuah transformasi. Santri yang dulunya dianggap ”culun”, sudah mampu beradaptasi dengan teknologi. Sehingga, film-film yang mengangkat pesantren pun terus bermunculan, bahkan menjadi film ikonik, karena dunia pesantren tersebut.

Dengan demikian, film yang mengangkat santri dan pesantren, belum bisa sepenuhnya dianggap sebuah genre tersendiri. Selain ikonografi yang terkadang masih simpang-siur, naratifnya jarang diperhatikan. Akhirnya, santri dalam sebuah film, bukan berdiri sebagai sebuah genre religi/islami, tetapi ia hanya menjadi sebuah identitas belaka. Identitas tersebut dapat dilihat atau dikenali melalui ikonografi santri yang direpresentasikan di dalam film, yakni seperti yang sudah disebut di atas.

{
  "credit title": {
    "author": "Tanaya Sekar Syahida",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Tanaya Sekar Syahida

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Film Religi, Genre Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin