Menulis dengan Gerak

· Nashrullah Ali Fauzi

Istilah sinematografi (cinematography) berasal dari bahasa Yunani, yakni ”menulis dengan gerak” (writing with motion). Jadi, pembuatan film merupakan sebuah kegiatan pengambilan gambar. Namun, di sini sinematografi bukan sekadar tindakan fotografi dan/atau memotret, tetapi melibatkan proses pengambilan ide, kata-kata, tindakan, subteks emosional, nada, dan semua bentuk komunikasi nonverbal lainnya.

Framing sebuah Rel Kereta Api
Pembingkaian merupakan salah satu unsur dalam ”menulis dengan gerak”.

Tabel Konten
  1. Membangun Dunia Visual
  2. Alat-Alat Konseptual dalam Sinematografi
    1. Bingkai
    2. Lensa
    3. Cahaya (light) dan warna (color)
    4. Tekstur
    5. Gerakan (movement)
    6. Establishing
    7. Sudut pandang (Point of View)
  3. Tugas Utama Sinematografer

Membangun Dunia Visual

Ketika terlibat dalam proyek pembuatan film, salah satu tugas utamanya ialah bagaimana menciptakan dunia visual untuk dihuni oleh para karakter. Dunia visual tersebut merupakan bagian penting dari bagaimana penonton akan memandang cerita; bagaimana mereka memahami karakter dan motivasinya.

Film-film hebat seperti On the Waterfront, Apocalypse Now, atau The Big Sleep, tentu memiliki alam semesta dalam filmnya dan dapat diidentifikasi keberadaan para karakternya, antara lain terdiri: setting, wardrobe, bahkan suara, sebagian besar dunia visualnya diciptakan melalui sinematografi. Lantas elemen itu semua saling terkait dalam penceritaan visual.

Yang harus dipelajari pembuat film ialah bahwa segala sesuatu yang dihadirkan di dalam layar haruslah karena suatu alasan visual. Setiap pilihan yang dibuat, baik dalam cerita, lokasi, properti, atau apapun, harus terpikirkan secara matang.

Dengan demikian, maka sinema bisa dikatakan sebagai bahasa. Akan tetapi, sebagai sebuah bahasa, bagaimana struktur bahasa dalam sinema? Apa kosakata, struktur bahasa sinematik? Dan apa alat sinematografi dan pembuatan film, yang meliputi teknik, metode, dan elemen penting yang dapat digunakan untuk bercerita secara visual?

Alat-Alat Konseptual dalam Sinematografi

Yang dimaksud dengan alat sinematografi dalam pembuatan film bukanlah pengertian secara fisik, seperti kamera, tripod, crane, lampu, dll, tetapi secara konsep. Alat konseptual sinematografi yang digunakan dalam membangun dunia visual tersebut antara lain:

  • Bingkai (frame)
  • Cahaya (light) dan warna (color)
  • Lensa
  • Gerakan (movement)
  • Tekstur
  • Establishing
  • Sudut pandang (Point of View)

Bingkai

Dasariah pembuatan film ialah memilih bingkai, karena berhubungan dengan bagaimana seorang pembuat film mengarahkan penonton. Pemilihan bingkai ini juga bukan sekadar permasalahan mengenai cerita, melainkan juga masalah tentang komposisi, ritme, dan perspektif. Pemilihan bingkai juga berfungsi sebagai sumber informasi, yakni bagaimana penonton melihat karakternya: terisolasi, tertekan, dan lain sebagainya.

Garis-garis perspektif yang kuat, baik secara horizontal maupun vertikal, meskipun tanpa sepatah kata pun, penonton tahu banyak tentang karakter yang ditampilkan, bagaimana dunianya, dan situasi sosialnya. Semua itu merupakan sesuatu yang fundamental dalam cerita yang dibangun.

Lensa

Masalah lensa ini, juga bukan dilihat secara fisik, tetapi bagaimana berbagai lensa membuat gambar dengan cara berbeda. Lensa merupakan alat pendongeng visual yang paling ampuh—kemampuan optiknya yang mampu mengubah persepsi penonton akan dunia.

Setiap lensa memiliki ”kepribadian” masing-masing. Ada banyak faktor yang terlibat di dalam lensa, antara lain: kontras dan ketajaman, tetapi sejauh ini aspek yang paling berpengaruh dari lensa adalah panjang fokus (focal length).

Cahaya (light) dan warna (color)

Selain lensa, alat yang juga ampuh ialah cahaya dan warna. Pencahayaan dan pengontrolan warna merupakan kegiatan yang menghabiskan sebagian besar waktu DoP (Director of Photography), karena harus mengatur alat-alat beserta perlengkapannya. Cahaya dan warna juga memiliki kemampuan untuk menjangkau naluri dan emosional penonton.

Tekstur

Mengambil sebuah gambar, harusnya dilakukan tidak secara ”lurus-lurus” saja, yakni merekam realitas dan berusaha mereproduksinya persis seperti yang terlihat dalam kehidupan. Namun, pengambilan gambar bisa dilakukan dengan menambah tekstur.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan dalam menambahkan tekstur ke dalam pengambilan gambar. Hal tersebut antara lain: mengubah warna dan kontras gambar, menghilangkan saturasi warna gambar, memfilter, memberikan efek kabut dan asap, hujan, menggunakan stok film yang tidak biasa, dan tentu saja berbagai macam manipulasi gambar yang dapat dilakukan dengan digital.

Beberapa manipulasi gambar tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan kamera, pencahayaan, efek mekanis, ataupun dilakukan ketika dalam pasca-produksi.

Gerakan (movement)

Oleh karena film merupakan salah satu dari sedikit bentuk seni yang menggunakan gerak dan waktu, maka gerakan adalah alat yang ampuh dalam pembuatan film. Dalam gerakan ini, muncullah metafora visual (visual metaphor), dalam mana gerakan yang diciptakan serta ditampilkan di layar memiliki makna-makna tertentu dan menyimpan begitu banyak tanda.

Establishing

Establishing merupakan kemampuan kamera untuk mengungkapkan atau menyembunyikan sebuah informasi. Hal ini juga sepadan dengan exposition dalam cerita verbal, yakni menyampaikan informasi atau latar belakang penting kepada khalayak.

Selain itu, establishing juga merupakan inti dari sebuah cerita yang disampaikan secara visual. Hal tersebut dikarenakan, kamera yang dibiarkan mampu mengungkapkan informasi dengan cara yang lebih sinematis dalam menyampaikan informasi kepada spektator daripada dialog atau voice-over narator.

Biasanya establishing dilakukan terutama dengan cara pemilihan bingkai dan lensa, tetapi juga tidak menutup kemungkinan dilakukan melalui pencahayaan yang dapat menyembunyikan atau mengungkapkan detail pemandangan tertentu.

Sudut pandang (Point of View)

Yang terakhir, alat yang dapat digunakan untuk bercerita secara visual ialah melalui sudut pandang (POV). Sudut pandang ialah membuat kamera melihat sesuatu dengan cara yang sama seperti yang dilihat oleh salah satu karakter: melihat pemandangan dari sudut pandang karakter.

Orson Welles membuat diagram sederhana mengenai sudut pandang, yakni ”eye = I”, dalam mana dasariah kamera menjadi persepsi penonton.

Hal tersebut juga merupakan dasar bagi sinema, di mana kamera adalah ”mata” penonton: bagaimana kamera menangkap adegan adalah bagaimana penonton akan melihatnya. Sudut pandang (POV) cenderung membuat penonton lebih terlibat dalam cerita karena apa yang mereka lihat dan apa yang dilihat karakter adalah ”sepadan”—pikiran penonton terkonstruksi bahwa apa yang dialami oleh karakter juga dialaminya. Penonton semakin terlibat ketika karakter utama mengalami peristiwa dalam cerita tersebut.

Tugas Utama Sinematografer

Oleh karena pembuatan film merupakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak pencampuran serta koordinasi elemen-elemen yang berbeda, juga bersifat teknis dan bisnis, sudah seharusnya seorang sinematografer dapat menjembatani segala kesenjangan tersebut, terutama dalam hal memahami sisi praktis dalam menangani kamera, lensa, aspek digital, jenis file, alur kerja, dan sebagainya. Selain itu, sinematografer juga memiliki pikiran yang tertanam kuat dalam sisi artistik dalam menciptakan dunia visual, metafora, dan mendongeng. Aspek lain yang juga harus dimiliki sinematografer ialah menjadi psikolog. Yang paling utama yang harus ada dalam diri seorang sinematografer ialah bisa membaca sesuatu yang ada di kepala sutradara. Tanpa hal tersebut, sinematografer belum tentu bisa membuat cerita secara visual yang hidup.

{
  "credit title": {
    "author": "Hallurhsan Ila Izuaf",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nashrullah Ali Fauzi

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Sinematografi, Teknik Film

Kategori: Esai Teknis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin