Suara dalam Sinema

· Nashrullah Ali Fauzi

Suara, seperti pada teknik film lainnya, menawarkan begitu banyak kemungkinan bagi pembuat film. Namun, tetap saja pembuat film harus menilai mana yang akan dikejar dan diprioritaskan, berdasarkan bentuk film secara keseluruhan dan pengalaman spektator yang dibentuknya.

Suara dan/atau musik film, apapun bentuk dan jenisnya dapat menghasilkan berbagai hal. Ia dapat menetapkan setting; menentukan waktu dan tempat tertentu; membentuk dan menciptakan suasana. Selain itu, ia juga dapat menyatukan serangkaian gambar yang tampak terputus. Dan tentu saja, musik film tidak melakukan semua hal tersebut, tetapi ia sangat berguna karena suara dalam dapat melakukan banyak hal secara bersamaan.

Lazimnya, trek suara film dibuat secara terpisah dari gambar dan dapat dimanipulasi secara independen. Ini membuat suara menjadi fleksibel dan memiliki cakupan luas seperti teknik lainnya. Kendatipun demikian suara merupakan elemen paling sulit untuk dipelajari. Hal tersebut tidak dikarenakan buruknya pendengaran, bahkan sebelum lahir pun telinga manusia sudah bisa membedakan suara. Dan menurut ahli pendengaran, manusia bisa membedakan hingga 400.000 suara.

alat yang digunakan untuk membuat suara film
Suara dalam film
Tabel Konten
  1. Fungsi Suara Film
  2. Kekuatan Suara
  3. Aspek-Aspek Suara Film
  4. Memilih dan Memanipulasi Suara Film

Fungsi Suara Film

Dalam sejarah sinema awal, suara dalam film belum bisa menyertai gambar bergerak. Bisa dibilang, suara film datang terlambat itupun karena memang seiring dengan berkembangan teknologi. Kendatipun demikian, suara film memiliki berbagai fungsi.

Berikut fungsi suara dalam film:

  • Mampu menciptakan suasana hati penonton;
  • Dapat digunakan untuk mengklarifikasi masalah plot dan perkembangan naratif jika terdapat suatu kesalahan;
  • Dapat memperkuat atau mengidentifikasi naratif dan berkontribusi terhadap penonton yang menanggapinya;
  • Dapat menjelaskan motivasi dan memberikan wawasan psikologi karakter;
  • Dapat menciptakan dan menggemakan emosi antara skrin dan spektator;

Dari kesemua fungsi tersebut, yang paling esensial dari suara film ialah termasuk salah satu dorongan emosional paling kuat dalam film.

Kekuatan Suara

Suara merupakan salah satu teknik paling ampuh dalam film, karena ia melibatkan mode indra yang berbeda. Pada tahun 1926, sebelum suara film diperkenalkan, bahkan film bisu sudah diiringi oleh orkestra, organ atau piano. Esenstein menyebut keterlibatan pendengaran ini sebagai ”sinkronasi indra”—membuat kualitas ekspresif ritme tunggal yang mengikat antara gambar dan suara.

Gabungan antara gambar dan suara dapat menarik sesuatu yang tersembunyi dalam kesadaran manusia. Jika suara dan gambar terjadi secara bersamaan, bertendensi dipersepsikan sebagai satu peristiwa, bukan dua peristiwa.

Selain itu, suara dapat memberikan nilai baru keheningan. Bagian diam dalam film dapat menciptakan ketegangan yang dahsyat, dan mau tidak mau memaksa penonton untuk berkonsentrasi kepada layar. Keheningan yang tiba-tiba di dalam film dapat menyentak penonton.

Aspek-Aspek Suara Film

Suara film mencakup campuran antara speech, musik, dan kebisingan (noise). Seorang pembuat film tentu akan mengambil keputusan tentang jenis dan kepadatan suara serta propertinya, termasuk kenyaringan dan tinggi nada dalam film yang diproduksinya.

Dengan demikian, maka perlu diketahui aspek-aspek suara dalam film:

  1. Suara Keras (Loudness).

    Suara yang didengar oleh telinga dihasilkan dari getaran di udara. Dalam getaran tersebut akan menghasilkan volume dalam indra pendengaran. Suara film secara konstan memanipulasi volume. Dialog antara karakter yang bertutur halus dan yang ringkas dicirikan oleh perbedaan volume maupun oleh substansi pembicaraan. Dalam banyak film, sebuah adegan dari jalan yang sibuk disertai dengan suara lalu lintas yang keras, lantas kemudian ketika ada dua orang bertemu dan mulai berbicara, volume lalu lintas tersebut pun akan menurun.

  2. Nada Suara (Pitch)

    .

    Frekuensi dari getaran suara tersebut menghasilkan adanya nada suara atau tinggi-rendahnya suara yang dirasakan. Kebanyakan suara, baik dalam kehidupan realitas maupun di dalam film merupakan suatu nada yang kompleks dan memiliki frekuensi yang berbeda. Namun, nada justru berguna untuk membedakan antara musik dan dialog dari kebisingan.

    Kunci utama dari nada suara adalah terletak pada vokalnya.

  3. Timbre

    Komponen suara yang harmonis memberikan warna tertentu, kualitas atau tone disebut dengan timbre. Timbre merupakan parameter akustik yang berada di bawah amplitudo dan frekuensi. Timbre sangat diperlukan dalam suara untuk mendeskripsikan adanya tekstur dan rasa dalam suara.

Suara keras (loudness), nada suara (pitch), dan timbre, berinteraksi untuk menentukan keseluruhan tekstur sonik sebuah film. Misalnya, kualitas tersebut digunakan untuk mengenali suara kaakter yang berbeda. Selain itu, kualitas suara juga dapat membentuk pengalaman penonton tentang sebuah film secara keseluruhan.

Memilih dan Memanipulasi Suara Film

Dalam memilih dan menyeleksi trek suara film, sama ketatnya seperti dalam trek gambar. Terkadang, trek suara dibuat sebelum trek gambar. Film animasi biasanya melakukan perekaman musik, dialog, dan efek suara sebelum gambar difilmkan, sehingga nantinya gambar akan disinkronkan dengan bingkai. Beberapa pembuat film bahkan sempat mengira bahwa bentuk abstrak dalam film adalah semacam “musik visual” dan mencoba membuat sintesis dari kedua media tersebut.

Banyak efek suara yang dihasilkan oleh proses foley, yang melibatkan pembuatan suara yang disesuaikan dengan film. Biasanya proses foley dibuat di studio yang bersih secara sonik, kemudian para ahli merekam misalnya orang yang berjalan, menuangkan minuman, mencipratkan lumpur, atau menggosok amplas.

Akan tetapi, tidak semua trek suara dibuat di awal. Editor biasanya membangun suara dari koleksi mereka sendiri atau membeli dari pemusik. Kendatipun demikian, suara yang baru dibuat ialah suara yang sudah ada dari lama.

{
  "credit title": {
    "author": "Hallurhsan Ila Izuaf",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini