Transisi dan Lima Kategori Editing Film

· Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Penyuntingan (editing) film yang menyajikan cerita dan membuat penonton tetap terlibat, akan membuat penyuntingan menjadi ideal.

Dengan demikian, setelah mengetahui jenis bidikan (shot) mana yang diedit, perlu diketahui transisi mana yang digunakan secara tepat agar memperoeleh hasil penyuntingan yang solid. Transisi yang paling umum digunakan ada empat, antara lain: cut, dissolve, wipe, dan fade.

Transisi dalam Editing Film
Transisi setiap bidikan dalam film sangat diperlukan untuk mencapai realitas visual.

Tabel Konten
  1. Transisi
    1. Cut
    2. Dissolve
    3. Wipe
    4. Fade
  2. Lima Kategori Utama Jenis Penyuntingan
    1. Action Edit
    2. Screen Position Edit
    3. Form Edit
    4. Concept Edit
    5. Combined Edit

Transisi

Dari keempat transisi tersebut, memiliki maknanya masing-masing ketika ditampilkan di layar. Sepktator pun memiliki ekspektasi tertentu dalam melihat transisi-transisi tersebut. Berikut pembahasan mengenai keempat transisi tersebut.

Cut

Jenis ini merupakan transisi yang paling sering digunakan dalam penyuntingan film daripada jenis transisi lainnya. Cut didefinisikan sebagai perubahan dari satu bidikan ke bidikan lainnya. Ketika dibuat dengan tepat dan mengikuti seluruh elemen penyuntingan film, transisi ini tidak disadari oleh penonton. Transisi ini pulalah, satu-satunya yang diterima penonton sebagai bentuk realitas visual (visual reality).

Istilah transisi cut ini sebenarnya berasal sejak awal film gambar gerak, yakni, berasal dari plastik fleksibel yang berisi gambar dalam bingkai, kemudian dipotong secara fisik, baik dengan gunting atau dengan silet. Untuk itu, sebelum ada sebutan editor, orang yang memotong potongan film waktu itu disebut sebagai tukang potong.

Transisi cut paling sering digunakan ketika:

  • Tindakan yang kontinu;
  • Perlu adanya perubahan akan ”impak”;
  • Ada perubahan informasi.

Ada juga elemen dalam transisi cut yang dapat membantu penyuntingan film menjadi bagus:

  1. Informasi

    Bidikan yang diputar di layar, memberi penonton informasi visual dan aural secara keseluruhan. Idealnya, setiap pengambilan gambar harus menawarkan beberapa informasi baru seperti tampilan lokasi, suara hujan turun atau bayi menangis, dll.

  2. Motivasi

    Semua yang ditampilkan di layar harus memiliki alasan.

  3. Komposisi

    Penyuntingan yang baik, akan memberi dua tampilan potret dengan komposisi yang menarik secara berbeda dari satu foto. Menggunakan perbedaan komposisi memaksa penonton untuk melibatkan mata dan otak untuk mencari informasi baru.

  4. Sudut Kamera (camera angle)

    Setiap pengambilan gambar yang berurutan harus berada pada sudut kamera yang berbeda di tiap akhirnya. Perubahan panjang fokus (wide shot, medium shot, close shot), juga dapat dipertimbangkan dalam pilihan bidikan baru, tetapi pemotongan dan/atau transisi cut memerlukan perubahan sudut agar menjadi efektif.

  5. Kontinuitas

    Gerakan atau aksi yang kontinu harus terlihat jelas dan serupa dalam dua bidikan yang dipotong secara bersamaan.

  6. Suara

    Di seluruh titik pemotongan kontinuitas suara atau perkembangan suara perlu diperhatikan agar tidak terjadi kerancuan informasi. Tingkat audio harus sesuai dengan perspektif visual di layar. Jika terjadi pemotongan dan/atau transisi cut satu lokasi atau waktu ke waktu lain, maka perbedaan suara dan volume yang secara langsung diperlukan kewaspadaan. Hal itu juga biasa disebut dengan smash cuts.

Tentu, dalam setiap potongan akan berisi elemen-elemen tersebut di atas. Dengan demikian, penting untuk menggunakan penglihatan dan pendengaran selama proses penyuntingan film supaya dapat menggunakan elemen-elemen tersebut sebagaimana mestinya dalam setiap bidikan.

Dissolve

Selain cut, transisi dalam penyuntingan film yang sering digunakan ialah dissolve. Transisi ini didefinisikan sebagai perubahan yang bertahap dari gambar akhir dalam satu bidikan ke gambar awal bidikan berikutnya.

Secara tradisional, transisi ini dicapai melalui superimposisi dari kedua gambar dengan peningkatan kapasitas secara simultan ke bawah dan ke atas selama periode waktu tertentu. Saat akhir bidikan pertama ”dissolve”, awal bidikan berikutnya muncul di layar pada waktu yang sama. Lazimnya, gambar terlihat tumpang-tindih. Transisi ini juga bisa disebut sebagai ”lap dissolve”, , ”lap”, dan video ”mix”.

Transisi dissolve paling sering digunakan ketika:

  • Ada perubahan waktu;
  • Ada perubahan set;
  • Waktu perlu dipercepat atau diperlambat;
  • Ada daya tarik emosional tentang subjek dalam cerita;
  • Ada hubungan visual yang kuat antara gambar yang keluar dan yang masuk.

Transisi dissolve yang baik dapat dicapai melalui elemen berikut:

  1. Informasi

    Sama seperti transisi cut, bidikan baru harus berisi informasi baru untuk dicerna oleh penonton.

  2. Motivasi

    Seperti semua transisi, harus ada tindakan atau narasi motivasi yang tepat untuk menerapkan transisi dissolve.

  3. Komposisi

    Dua bididkan yang ditransisi dengan dissolve secara bersamaan harus memiliki komposisi di titik tengah yang mudah tumpang-tindih dan menghindari kontradiksi visual. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghilangkan komposisi yang berlawanan atau dengan menghilangkan bingkai yang cocok (match dissolve)—di mana komposisi dari dua titik sangat mirip tetapi memiliki materi yang berbeda.

  4. Sudut Kamera (camera angle)
  5. Suara
  6. Waktu

    Unsur penting dalam efektivitas dissolve ialah durasi atau berapa lama bertahan di layar. Dalam hal ini, ketika terjadi adegan flashback, maka transisi dissolve dapat digunakan.

Perlu diperhatikan bahwa dissolve juga memperlambat waktu jika disertai dengan slow motion. Transisi dissolve sering dikatakan sebagai transisi ”untuk cerita film yang terlalu sentimentil” (tear jerker), karena memberi waktu kepada penonton untuk berpikir dan merasakan, juga dikaitkan dengan reaksi emosional.

Transisi dissolve mendapat tempat dalam film naratif, acara televisi, video musik, dll., tetapi tidak dalam siaran berita harian, karena transisi ini dipahami untuk mewakili manipulasi waktu.

Wipe

Transisi ini dianggap sebagai persilangan antara transisi cut dan dissolve. Memiliki durasi seperti dissolve, tetapi cenderung dilakukan dengan sangat cepat. Transisi ini sering kali muncul dalam bentuk tidak berwarna, dengan elemen grafis lain yang terkait dengannya, atau berupa zigzag, spiral, dan bergerak secara diagonal, horizontal, atau vertikal melintasi layar menggantikan bidikan sebelumnya dengan bidikan baru.

Transisi wipe paling sering digunakan ketika:

  • Terjadi perubahan waktu dan set;
  • Tiada hubungan visual yang kuat antara gambar yang keluar dan masuk;
  • Memerlukan perawatan grafis yang lebih visual pada transisi.

Transisi wipe yang baik dapat dicapai melalui elemen berikut:

  1. Informasi
  2. Motivasi
  3. Komposisi
  4. Sudut Kamera (camera angle)
  5. Suara
  6. Waktu

Transisi wipe digunakan sebagai cara untuk menjembatani dua segmen yang terpisah. Dalam sinema Hollywood klasik tahun 1930-an, mereka menggantikan transisi dissolve dengan wipe. Di pasar visual saat ini, transisi wipe memiliki bentuk yang sesuai untuk digunakan di semua genre.

Fade

Film atau program televisi biasanya dimulai dan diakhiri dengan transisi jenis ini. Lazimnya transisi ini sudah dapat dibaca sejak masih dalam bentuk skenario, yakni di baris pertama tertera fade in atau juga disebut dengan fade up dan di baris akhir bertulis fade out.

Fade in, di mana layar dimulai seluruhnya hitam dan kemudian secara bertahap hitam memudar untuk menampilkan gambar yang terlihat sepenuhnya, dan ini menandakan bahwa cerita telah dimulai. Sementara itu, fade out, di mana gambar di akhir tayangan secara bertahap memudar menjadi layar hitam buram, dan ini menandakan bahwa cerita telah berakhir. Warna memudar dapat terjadi pada warna apa saja, tetapi seringnya yang terlihat ialah warna hitam dan terkadang putih.

Transisi fade in paling sering digunakan ketika:

  • Di awal program;
  • Di awal babak, adegan, atau sequence;
  • ada perubahan waktu dan set.

Transisi fade out paling sering digunakan ketika:

  • Di akhir program;
  • Di akhir babak, adegan, atau sequence;
  • ada perubahan waktu dan set.

Agar transisi fade menjadi paling efektif, ia harus mengikuti elemen-elemen berikut:

  1. Motivasi

    Fakta bahwa karya tersebut dimulai akan memerlukan fade dan ketika telah mencapai akhir segmen atau program, dapat diterima untuk menghilang.

  2. Komposisi
  3. Suara

    Biasanya tingkat suara dinaikkan di bawah gambar cerah dari fade in. Audio harus memudar ketika gambar memudar menjadi hitam atau memudar di akhir.

  4. Waktu

Lima Kategori Utama Jenis Penyuntingan

Lima kategori jenis edit adalah:

  1. Action edit;
  2. Screen position edit;
  3. Form edit;
  4. Concept edit;
  5. Combined edit.

Berikut penjelasan dari masing-masing kategori jenis penyuntingan tersebut.

Action Edit

Sesuai dengan namanya, kategori ini mencakup penyuntingan antara bidikan yang menggambarkan tindakan kontinu atau pergerakan subjek/objek. Dengan demikian, penyuntingan ini juga kerap disebut dengan penyuntingan kontinuitas (continuity edit).

Dalam kategori ini, lazimnya bidikan pertama akan menunjukkan seseorang melakukan tindakan—cut—lantas bidikan kedua melanjutkan tindakan tersebut, tetapi dengan pembingkaian (framing) yang berbeda, waktu tidak terputus. Pergerakannya tampak halus dan kontinu.

Elemen yang harus diperhatikan dalam kategori ini, antara lain:

  1. Informasi

    Bidikan panjang (long shot) akan memberi penonton informasi penting tentang lokasi, subjek, kemungkinan waktu siang hari jika dilihat dari jendela atau lampu yang menyala, bagaimana seseorang berpakaian, dan seperti apa tindakannya—lambat, cepat, normal, tidak normal.

  2. Motivasi
  3. Komposisi
  4. Sudut Kamera (camera angle)
  5. Kontinuitas
  6. Suara

Screen Position Edit

Jenis penyuntingan ini terkadang disebut directional edit atau placement edit. Disebut dengan ”directional”, karena penyuntingan membantu mengarahkan mata penonton ke layar, dan ”placement” karena penempatan yang unik terhadap subjek/objek dalam dua bidikan yang dipotong secara bersamaan dapat membuat mata penonton bergerak ke bingkai (frame). Dalam kategori ini, jenis penyuntingan ini biasanya dilakukan dengan cara cut atau dissolve. Kategeri ini biasanya berfungsi dalam adegan ketika terjadi sebuah dialaog.

Form Edit

Jenis penyuntingan ini paling baik dijelaskan sebagai transisi dari bidikan yang memiliki bentuk, warna, dimensi, atau suara yang jelas, ke dalam bidikan lain yang memiliki bentuk, warna, dimensi, atau suara yang cocok.

Form edit ini biasanya sudah terbentuk selama fase penulisan atau pra-produksi, karena elemen visual yang akan cocok memerlukan perlakuan komposisi yang benar.

Jika menggunakan suara sebagai motivasi, penyuntingan jenis ini dapat dipotong langsung, tetapi dalam banyak kasus, transisi akan dissolve. Match dissolve sering digunakan untuk mendeskripsikan jenis penyuntingan ini.

Concept Edit

Penyuntingan jenis ini juga biasa disebut dengan dinamis edit (dynamic edits). Penyuntingan ini dapat mengambil dua bidikan yang berbeda dari konten yang berbeda, hal ini akan menghasilkan makna tersirat yang tidak diceritakan di dalam film. Jenis penyuntingan ini dapat mencakup perubahan tempat, waktu, orang, dan bahkan dalam cerita itu sendiri.

Seringnya, jenis penyuntingan ini sudah dirancang sejak tahap pengembangan (development). Pembuat film sudah mengetahui bahwa kedua bidikan yang terpisah tersebut, ketika digabungkan secara bersamaan dalam narasi pada titik tertentu, akan menyampaikan kebaikan, membuat penekanan dramatis, atau bahkan menciptakan ide abstrak di benak penonton.

Combined Edit

Kategori ini bisa menjadi penyuntingan yang sulit didapat oleh tayangan yang tidak diedit karena memerlukan banyak perencanaan pra-produksi di pihak pembuat film. Penyuntingan ini juga memerlukan penggabungan jenis penyuntingan lainnya

Kendatipun demikian, tugas seorang penyunting (editor) bukanlah menghafal elemen-elemen atau jenis-jenis kategori penyuntingan tersebut di atas, tetapi ada alasan tertentu di balik penggunaan konsep-konsep tersebut untuk menginformasikan pilihannya saat melakukan penyuntingan. Namun, mengetahui tata bahasa penyuntingan film (film editing) akan membantu seorang editor untuk mengeksekusi penyuntingan bidikan dengan lebih baik.

{
  "credit title": {
    "author": "Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Penyuntingan Film, Teknik Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin