6 Klasifikasi dari Fungsi Gerak Kamera

· Nawa Dasa Satsata

Terdapat enam fungsi gerak kamera dalam sinema naratif, antara lain: orientation, pacing, inflection, focalization, reflexive, dan abstract. Dalam mana fungsi orientasi akan mengacu pada penonton secara spasial, fungsi pacing berkontribusi terhadap ritme sinematik film, fungsi infleksi mengubah bidikan shot dalam perencanaan yang sugestif, fungsi fokalisasi berkaitan dengan pergerakan kamera dengan sudut pandang karakter atau entitas dalam dunia cerita, funsgi refleksif bertujuan mengajak penonton untuk terlibat dalam gerakan kamera, dan terakhir fungsi abstrak bertujuan untuk memvisualisasikan abstrak ide dan konsep.

6 Klasifikasi dari Fungsi Kamera dalam Sinema Naratif
6 fungsi gerak kamera yang bisa menimbulkan berbagai motif di setiap cerita.
Tabel Konten
  1. Fungsi Orientasi
  2. Fungsi Pacing
  3. Fungsi Infleksi
  4. Fungsi Fokalisasi
  5. Fungsi Refleksif
  6. Fungsi Abstrak

Fungsi Orientasi

Pergerakan kamera dapat mengarahkan penonton secara spasial dengan 3 cara yang berbeda: meminjamkan lebih banyak kedalaman (depthem>) atau volume ke gambar, mengarahkan perhatian penonton terhadap informasi cerita yang menonjol, dan mengartikulasikan keleluasaan tindakan.

Gerakan kamera biasanya akan membuat gambar dengan isyarat kedalaman, sehingga akan memungkinkan penonton untuk membuat penilaian yang lebih baik tentang jarak relatif objek dalam bingkai (frame). Selain itu, penonton juga dapat membaca volume dari dimensi objek.

Fungsi pergerakan kamera ini juga dibahas oleh Garrett Brown—penemu Steadicam dan SkyCam, dan George Miller. Bagi Brown dan Mille,r secara khusus membahas jenis orientasi spasial ini dalam kaitannya dengan tujuan yang diungkapkan untuk mengangkut penonton ke ruang diegetik film.

Mengarahkan perhatian penonton melalui gerakan kamera dapat dicapai dengan berbagai cara. Pergerakan kamera juga dapat memilih atau menemukan motif di antara berbagai kemungkinan titik fokus

Fungsi Pacing

Fungsi ini menekankan pentingnya interaksi antara gerakan kamera dan penghentian komposisi, yaitu bahwa camera-stops diisi dengan makna melalui gerakan, sehingga menghasilkan motif tertentu.

Semua gerakan kamera mengartikulasikan ruang dan waktu. Artikulasi tersebut merupakan bagian integral dari efek camera-movement di layar dan orientasi spasial keduanya bergantung pada dan dimodulasi oleh waktu yang dibutuhkan kamera untuk menyajikan tata letak spasial. Sementara itu, artikulasi temporal merupakan kategori ortogonal yang berlaku untuk semua gerakan kamera, dalam mana berfungsi untuk membengkokkan bidikan ke berbagai tujuan yang lebih fungsional dari gerakan kamera.

Fungsi temporal tersebutlah yang disebut dengan pacing. Pacing dianggap sebagai strategi ’artikulasi temporal yang bebas di mana gerakan kamera secara aktif berkontribusi pada ritme sinematik film. Irama sinematik diartikulasikan melalui: kecepatan pemotongan, kecepatan penyampaian, musik, pergerakan pemain dan objek, fluktuasi skala bidikan, durasi dan ’struktur waktu’ peristiwa yang ditampilkan, dan frekuensinya.

Ada tiga cara memanipulasi ritme sinematik:

  1. Retard. Saat gerakan kamera digunakan untuk menurunkan atau memperlambat kecepatan di mana informasi visual diungkapkan kepada penonton.
  2. Cumulate. Saat gerakan kamera digunakan untuk mengintensifkan aliran gambar ke akumulasi yang meningkat.
  3. Sustain. Saat gerakan kamera digunakan untuk mempertahankan aliran visual gambar.

Fungsi Infleksi

Dalam fungsi ini, memiliki tujuan untuk mengungkapkan banyak hal tentang psikologi karakter dari sudut pandang eksternal. Namun, gerakan kamera tidak hanya memeengaruhi karakter individu, tetapi juga terkadang menghilangkan kualitas psikologis atau perasaan karakter, baik dalam ruang, interaksi dan situasi.

Adanya fungsi ini, maka muncul spasial infleksi: gerakan kamera tidak hanya menetapkan tata letak spasial dari pemandangan, tetapi juga menetapkan signifikansi khusus atau kualitas psikologis ke ruang.

Fungsi infelksi ini mengacu pada gerakan kamera di mana sudut pandang kamera secara jelas berada di luar karakter, tetapi dapat juga digunakan untuk memperbesar atau menambah resonansi emosional atau psikologis karakter.

Fungsi Fokalisasi

Fungsi fokalisasi mengacu pada gerakan kamera yang mengambil atau mendekati sudut pandang karakter atau entitas di dunia cerita. Beberapa jenis fungsi fokalisasi:

  1. Optical POV: bidikan yang memediasi sudut pandang karakter dalam fiksi.
  2. Affected POV: keadaan subyektif dari karakter disampaikan oleh struktur gerakan.
  3. Approximate POV: gerakan kamera ditetapkan pada karakter tanpa menempati posisi yang tepat dari karakter yang dikatakan.
  4. Invoked POV: memunculkan POV dari karakter yang diidentifikasi oleh pengalihan baik sebelumnya atau secara retrospektif.
  5. Projected POV: di mana kamera bergerak seolah-olah meluas dari sudut pandang karakter yang ditugaskan.

Funsgi Refleksif

Fungsi refleksif berfungsi untuk mengundang spektator agar terlibat dengan kecerdasan gerakan kamera, types of engagement berbeda dari keterlibatan spektator dalam cerita yang sedang berlangsung.

Fungsi Abstrak

Gerakan kamera juga dapat menyarankan ide dan konsep abstrak. Definisi abstrack yang pertama diberikan dalam Webster ”dipahami terpisah dari realitas konkrit, objek tertentu, atau kejadian aktual: ide abstrak.”

Oleh kritikus, konsep dan ide abstrak ini dikaitkan dengan gerakan kamera yang meregangkan hermeneutik, tetapi dalam kasus lain pembuat film benar-benar menginvestasikan gerakan mereka dengan fungsi abstrak.

Dengan demikian, gerakan kamera tidak hanya memiliki satu fungsi, tetapi ia memiliki berbagai fungsi yang menimbulkan berbagai motif. Dari fungsi ini, pembuat film dapat memilih di antara fungsi ini yang sesuai dengan film yang mereka buat, atau bahkan bisa mengkombinasikan dari fungsi-fungsi gerakan kamera tersebut.

{
  "credit title": {
    "author": "Nawa Dasa Satsata",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nawa Dasa Satsata

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Sinematografi, Teknik Film

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin