Apa yang Harus Dilakukan Kritik(us) Film di Era Digital?

· Nurbaiti Fitriyani

Ketika jurnalisme memudar dalam media sosial, kritik film teralihkan ke dalam format polemik.

Tradisi kritik dominan yang mengklaim kebenaran, akan teruji dalam silang argumentasi kritis.

—Seno Gumira Ajidarma dalam ”Kritik Film Format Polemik”

Krikit Film Sebagai Studi
Kritik film sebagai sarana untuk membongkar wacana-wacana kebudayaan.

Format kritik film yang lebih ”meyakinkan”, seperti kajian yang dipublikasikan dalam jurnal, juga memiliki keberjarakan antara dirinya dengan khalayak yang sangat am. Sementara kritik film konvensional, agaknya di media massa mulai hilang berikut media massanya. Dalam perbincangannya, kritik film di era digital, bahkan memiliki kesempatan besar untuk tampil sebagai medium yang lebih khas, detail, dan bernas untuk menyampaikan kritisisme spektator—atau, sebut saja kritikus film.

Tabel Konten
  1. Kritik Film melalui Pendekatan Jurnalistik
  2. Pusat Pengetahuan Film yang Harus Dipelajari
  3. Peran Media Sosial atas Fungsi Kritik Film

Kritik Film melalui Pendekatan Jurnalistik

Dalam acara daring Forum Festival yang diselenggarakan oleh Arkipel pada tanggal 8 November 2020 bertajuk ”Praktik Lensa Alternatif dalam Kritisisme Film”, Seno Gumira Ajidarma telah menyampaikan materi ”kritik film menggunakan pendekatan jurnalistik”. Selain itu, ia juga menyinggung peran media massa atas kritik film sebagai sarana untuk menyalurkan informasi kepada khalayak luas.

Dalam konteks jurnalistik, dalam hal ini ialah konteks pra-medsos, tulisan tentang film dilihat sebagai fungsi sosial: memberikan referensi bagi pembaca. Pada tahap ini pembaca sudah senang jika ada cerita di balik layar tentang, misalnya pembuatannya, faktor-faktor di balik sukses pemasarannya, dan biasanya cerita tentang sosok bintang-bintang pendukungnya.

Dalam menggunakan pendekatan tersebut, bagaimana semua pengetahuan tentang film, apapun bentuk yang ada di dalamnya, bisa sampai kepada orang banyak. Jadi, tulisan tentang film tersebut dan persoalannya bisa mencerdaskan khalayak.

Ketika jurnalistik mulai memudar, kritik film pun ikut merembas. Hal tersebut terjadi pada saat koran-koran yang disebut ”mainstream” menjadi minoritas dan sekarang menjadi inferior—dalam dominasi media sosial, mau tidak mau, kritik film pun ikut mengerdil. Dengan demikian, kritik film perlu melakukan ekspansi, karena berlindung di balik tembok-tembok galeri saja tidak akan cukup.

Di sini, Seno memandang bahwa kritik film dalam jurnalistik itu masih berada dalam pengertian yang sempit, yakni hanya menilai, menghakimi, dan seolah-olah penulis paling tahu mana film bagus dan mana film jelek. Sementara itu, yang dimaksud kritik film oleh Seno ialah yang sama halnya dengan kajian sinema, bahwa berdasarkan perbincangan secara kritis tentang film, bisa membongkar segala sesuatu yang telah menjadi sejarah kebudayaan sejarah kita hari ini.

Namun, sekarang hal itu tidak lagi terletak dalam media ”meanstream” yang setiap orang membacanya, karena ternyata yang meanstream tersebut tidak meanstrem lagi. Sementara itu, yang berada di media sosial, dalam mana media sosial bentuknya sangat liar—informasi berkeliaran di mana-mana, justru kritik film bisa berfungsi di dalamnya. Dengan demikian, di zaman pra-medsos (media sosial), tulisan tentang film hanya sebuah pelayanan, seperti memberitahu ada apa di balik layar, siapa bintangnya.

Akan tetapi kemudian, ketika dari wacana jurnalisme film, tanpa yang ada menyuruh, mereka menjadi kritikus dan menulis kritik film. Hal tersebut bahkan sudah berlangsung sejak lama, mulai era Misbach Yusa Biran, hingga kira-kira sampai sebelum ada kajian film di perguruan tinggi, pendekatan seperti ini sudah berlangsung.

Akhirnya dapat diketahui, bahwa Kriteria jurnalisme, yang semuanya harus lengkap, sehingga jurnalisme mewakili ”kebenaran”, harus ada pula menjadi steorotipe kritik film. Kritik film dalam media massa pun tampak seperti sebagai sumber kebenaran dalam penilaian: di situ terkadang argumen saja belum jelas, sudah ada klaim-klaim lainnya (bukan pendekatan teori kritis penilaiannya).

Kritik film dalam jurnalistik, sebagai bagian media yang memuatnya, wajib memberi kesan otoritas melalui cara berbahasanya: para wartawan mengendalikan bahasa, sedangkan dalam film ada yang disebut efek-realitas (lupa adanya editing, adanya kamera). Jadi, mitos kredibilitas yang berhasil dibangun media tertentu akan berlaku bagi segenap isinya, termasuk kritik film yang bagi pembaca tidak pernah hadir dalam kritik film.

Sementara itu, jika ada sekolah pembuat film, seperti Institut Kesenian Jakarta misalnya, bagaimana sumbangsihnya terhadap kritik film dalam jurnalitik? Harus dikatakan sangat minimal. Bukan hanya karena teknik-teknik membuat film yang diketahui jurnalis lulusan sekolah film tidak akan relevan bagi pembaca, tetapi pengetahuan teoretis pun, seperti Teori Film misalnya, jika dipaksakan hadir dalam kritik jurnalistik, relevansinya tetap masih terbatas—meski bukan sama sekali tak berguna.

Dengan persoalan seperti itu, peluang pemberdayaan kritik film tampaknya memang tidak mesti datang dari sekolah film yang melahirkan pembuat film, melainkan dari disiplin ilmu pengetahuan yang memungkinkan film menjadi subjek kajian, bukan sekadar apresiasinya sebagai gubahan seni, melainkan terutama keberadaannya sebagai media.


Pusat Pengetahuan Film yang Harus Dipelajari

Kajian Budaya, dalam pendekatan yang relatif baru harus bergrilya untuk bisa diajarkan dalam perguruan tinggi, di bawah berbagai nama—diselundupkan, sebelum akhirnya hadir dan mapan sebagai program yang memperkenalkan ilmu pengetahuan budaya mutakhir seperti pascakolonialisme, budaya populer dan banyak lagi. Anak-anaknya antara lain kajian sinema.

Bagi Seno Gumira Ajidarma, reformasi politik 1998, bukan peristiwa yang kebetulan. reformasi politik 1998 sebetulnya bagian dari reformasi kebudayaan, bahwa tidak ada lagi pusat autoritas atas pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang film yang bisa masuk dari sudut pandang manapun juga—sehingga relevansi apakah sebuah film itu baik atau buruk, sudah gugur sama sekali, karena yang dianggap bermakna adalah gejala dalam wacana. Ini berarti peran kritikus sebagai pembaptis, apakah seorang sutradara hebat atau tidak, ikut gugur. ”Kritik film” kini adalah kerja penelitian.

Di sini dipekerjakan konsep-konsep pascamodern menyangkut kuasa, identitas, hegemoni, ideologi, wacana, artikulasi, representasi, dan seabreg lagi, yang ketika dimanfaatkan bagi perbincangan tentang film, dapat memperlihatkan lebih banyak aspeknya—jauh lebih kaya daripada terbatas pada film sebagai produk kreasi seni sahaja. Dengan pendekatan seperti ini, ”film jelek” dapat berkontribusi lebih besar daripada ”film bagus” dalam memperkaya wacana pengetahuan.

Jika kritik film berandai-andai atas terdapatnya esensi dalam penilaian, kajian sinema memeriksa konstruksi yang melahirkan nilai dalam perbincangan. Jadi, kenapa sebuah film dianggap bagus/jelek, bukan berdasarkan kriteria nilai-nilai itu, tapi justru berdasarkan konstruksi nilai yang membentuk atau kontrsuksi sosial budaya yang membentuk nilai-nilai itu. Dari sanalah akhirnya kita mendapat produk-produk yang mencerahkan.

Di tengok dari masa kini, katakanlah 20 tahun kemudian,bagaimanakah perkembangan ini terhubungkan dengan ruang sosial kritik film?

  1. jika segenap teknik membuat film dari sekolah film tidak terlalu dapat diandalkan dalam kritik film, dan teori-teori film akan membuat kritik film dalam jurnalistik terlalu spesifik dan asing; pendekatan Cinema Studies, sebagai turunan Cultural Studies, dalam dunia akademis kiranya hanya secara sporadis terbaca dalam kritik film jurnalistik— selebihnya masih belum berubah, film dinilai dan dihakimi oleh kritikus serba tahu, yang mengandalkan efek-realitas dalam berbahasa, sehingga pendapatnya seolah-olah dengan sendirinya benar.
    Pendekatan akademis tentu bukan hanya Cultural Studies, melainkan juga ilmu-ilmu pengetahuan klasikal yang sebelumnya telah menjadikan film sebagai materi penelitian. Bidang-bidang ilmu komunikasi, sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, sejarah, dan susastra barulah sebagian dari berbagai pendekatan yang dapat menemukan kasus perbincangan dari media film.
  2. kajian film akademik yang kritis (artinya bagian dari kritik film juga), yang lebih memeriksa konstruksi pergulatan antarwacana pada sebuah film, sehingga lebih menyumbang kepada pemahaman metakebudayaan, dalam bentuk tesis, disertasi, makalah-makalah, dan laporan hasil penelitian hanya tersimpan dalam perpustakaan.
    Memang benar kalangan non-akademik bisa mengaksesnya, secara manual maupun digital, tetapi bahkan jika kemudian beredar sebagai buku cetak maupun elektronik di internet pun, jarak antara dunia akademik dan “ekosistem” dunia film, juga terjembatani hanya secara sporadis saja. Kecuali bahwa memang terdapat aktivisme dari kalangan akademik untuk masuk dan memberikan perlawanan terhadap kelompok dominan dunia film, mulai dari lingkaran diskusi, festival alternatif, dan penyelenggaraan media.
  3. dengan atau tanpa pandemi, peran media mainstream yang menyurut, mempengaruhi juga keberadaan kritik film jurnalistik, apakah tetap dominan atau sama sekali kehilangan peran, karena fungsinya tergantikan dalam sirkuit budaya media baru.

Peran Media Sosial atas Fungsi Kritik Film

Dalam pengertian media baru, perubahan besar tidak dicatat dari sekadar adaptasi media cetak misalnya ke digital, tempat cara penulisan masih tetap sama, melainkan dominasi media sosial dengan sifatnya yang interaktif—dalam frekuensi sangat tinggi. Perbedaan karakter ini menentukan, dan menggoyang, formasi diskursif media itu sendiri, sehingga wacana apapun yang sebelumnya dominan, jika ingin tetap dominan akan menempuh penyeimbangan kompromis. Dengan situasi seperti ini, sebetulnya terdapat kekosongan fungsi kritik film, terutama di media sosial, karena format dialog interaktif, apalagi yang kelas pernyataannya satu sama lain tidak setara, jauh dari konvensi kajian film yang argumentasinya ketat.

Bagaimana kritik film bisa memanfaatkan keberdayaan atas keberadaan mereka, ini siperlukan seseorang yang turun ke bawah membawa konsep-konsep untuk bertarung dengan media intraktif tersebut. Dalam kasus-kasus ini, fungsi kritik sedikit banyak mencerahkan, meski harus dikais-kais dari sampah media sosial yang menggunung. Jika setiap zaman memiliki wacananya sendiri, maka demi kehadiran kritik film dengan fungsi sosial bagi khalayak, sang kritikus dan akademisi mesti turun dari menara gading, langsung terlibat dan berdialog secara kritis dan argumentatif. Dengan begitu dapat diharapkan bahwa apresiasi terhadap kajian film, dan tentu film itu sendiri, akan meningkat.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Berita",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Arkipel, Berita, Kritik Film, Laporan Utama, Webinar

Kategori: Berita

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin