Suara Film Era Hollywood Klasik

· Padma Aksara Barya

Hubungan antara gambar bergerak dengan suara merupakan periode paling tidak stabil dalam sejarah film Amerika. Berkenaan dengan hal itu ialah, terutama terjadinya transisi antara produksi film suara dan film bisu, di mana teknologi baru muncul, sehingga bertabrakan dengan praktik yang sudah mapan dan menghasilkan perubahan pada produksi film, ekonomi, dan estetika

Pada film era bisu, suara ditentukan oleh teatrikal tokoh, sutradara musik, dan pengiring musik sewaan. Dengan munculnya konversi pada suara, kendali atas suara dalam film pun bergeser di bawah studio.

Kendatipun demikian, munculnya suara tidak merubah dominasi Hollywood di pasar film internasional. Sebaliknya, dengan perubahan ini, memberikan model yang kuat bagi pembuat film di luar Hollywood, sehingga patut untuk ditiru, diperbaharui, ditantang, dan direvolusi.

Suara Film Era Hollywood Klasik: 1928-1946
Suara film era hollywood klasik: 1928-1946, yang berpengaruh dalam segala aspek.
Tabel Konten
  1. Transisi Industri Film Era Bisu ke Film Suara
  2. Revolusi Suara dan Pekerja Studio
  3. Lahirnya Profesi Baru
  4. Fungsi Fokalisasi
  5. Funsgi Refleksif
  6. Fungsi Abstrak

Transisi Film Era Bisu ke Film Suara

Pada awal 1928 merupakan titik di mana suara dalam sinema Hollywood klasik akan menjadi masa depan. Film-film bersuara biasa-biasa saja ternyata lebih banyak peminatnya daripada keheningan. Permintaan publik akan film bersuara pun, menurut produser William De Mille, melampaui batas yang dibuat di dalam studio. Dengan demikian, kehadirannya di bioskop meroket, dari 60 juta per minggu pada tahun 1927 menjadi 90 juta di 1930, dan tentunya keuntungannya pun meningkat.

Perubahan Hollywood ke suara ini, seperti apa yang digambarkan William De Mille sebagai ”Panggung suara baru yang sedang dibangun”.

Dengan demikian, bentuk suara film di bioskop hari ini ditentukan oleh beberapa tahun silam tersebut, yakni di tengah keadaan kebingungan, kebodohan, ambisi, dan keserakahan. Namun, Douglas Gomery menjelaskan bahwa, ”Kecepatan perubahan tidak selalu berarti kekacauan atau kebingungan”.

Dengan munculnya suara, telah membawa perubahan besar dalam teknologi, estetika dan reception. Dengan begitu, perubahan-perubahan itu diserap oleh praktik kelembagaan Hollywood tanpa mengorbankan keamanan ekonomi. Sistem Hollywood pun akhirnya menang dan semakin berkembang.

Revolusi Suara dan Pekerja Studio

Kendatipun telah mengalami perubahan besar dan terus berkembang, bukan berarti mengabaikan malapetaka yang menimpa kehidupan pekerja studio. Pada waktu itu, jelas terlihat bahwa dunia gambar bergerak seolah-olah sedang diguncang hingga ke titik terbawah melalui reorganisasi revolusioner yang menyentuh setiap lapisan pekerja beserta elemen-elemen di dalamnya. Willian De Mille mengatakan mengenai hal tersebut, bahwa akan ada banyak kesedihan sebelum studio mampu menyesuaikan metode dan kondisi pemain mereka.

Suara mengalihkan fokus terhadap sejumlah kerajinan dalam sistem studio. Misalnya, seorang aktor harus beradaptasi dengan gaya baru: akting tanpa mendeklarasikan postur dan pantomim wajah seperti yang berkembang di film era bisu, mereka pun harus melakukan dialog dengan jelas dan tepat. Akhirnya, pemain atau bintang di film era bisu meski hebat sekalipun, bisa sebaliknya dalam film suara, bahkan sampai menangis-nangis dan yang paling parah ialah mereka sampai mengakhiri karirnya.

Dengan demikian, tuntutan dalam pekerjaan film pun berubaha. Di mana penulis skenario harus bisa membuat cerita secara verbal dan harus menulis dialog yang tepat. Sementara itu, produser harus mencari cara untuk mempertahan dominasi dunia di pasar ekspor karena dialog dalam film-film Hollywood berbahas Inggris. Pada saat di era bisu, produser mudah untuk menyesuaikan film dengan menerjemahkan ke dalam bahasa yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Akan tetapi, pasar asing menginginkan perkembangan atas budaya, tradisi, dan cita-cita mereka sendiri, sehingga produser mau tidak mau harus mengejar hal tersebut. Salah satu jalan untuk merealisasikannya ialah melalui subtitle. Pada akhirnya, subtitle akan menyebar ke luar negeri dan menjadi sebuah solusi murah yang melestarikan penampilan dan suara aset terbesar Hollywood: para bintangnya.


Lahirnya Profesi Baru

Munculnya suara dalam film, tentu memunculkan pekerjaan baru, antara lain: sound engineer, maintenance, development of recording systems (recording specialists, sound mixer, sound effects specialists (effect men), and sound editor.

Dengan demikian, munculnya suara pada era Hollywood klasik bukan sekadar memengaruhi satu aspek saja, yakni dalam ranah ekonomi, tetapi juga merubah setiap aspek dunia perfilman: produksi, distribusi, dan ekshibisi, terutama sangat berpengaruh terhadap hierarki sistem kerja dan memunculkan pekerjaan baru.

{
  "credit title": {
    "author": "Padma Aksara Barya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Padma Aksara Barya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Suara Film, Teknik Film

Kategori: Esai Teknis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin