Dasariah Penyuntingan Film

· Tanaya Sekar Syahida

Proses mengatur, meninjau, memilih, dan menyusun gambar serta suara yang diambil selama proses produksi itulah yang dinamakan dengan penyuntingan (editing) film.

Hasil dari penyuntingan film tersebut ialah harus berupa cerita yang koheren, bermakna, dan mencapai tujuan yang diinginkan—menghibur, menginformasikan, dan lain sebagainya.

Dasariah Penyuntingan Film
Jean-Luc Godard difoto oleh Philippe R. Doumic, sekitar tahun 1960.

Proses penyuntingan film ini layaknya ketika sedang menulis. Kata demi kata dari kata akan dipilih, lantas merangkainya dengan gaya tertentu untuk menyusun kalimat. Tujuannya juga sama, yakni untuk memberikan informasi, menghibur, atau sekadar membangkitkan emosional pembaca.

Begitu dalam proses penyuntingan (editing) film. Bidikan (shot) demi bidikan dipilih lantas menggabungkannya sehingga menjadi sebuah adegan.

Untuk mencapai sebuah adegan yang logis bagi penonton, tentu diperlukan adanya tata bahasa visual untuk gambar bergerak—bagaimana adegan tersebut diambil.

Tabel Konten
  1. Sekelumit Sejarah Penyuntingan Film
  2. Faktor yang Mempengaruhi Penyuntingan Film
  3. 8 Proses Kerja Penyuntingan Film
    1. Acquire
    2. Organization
    3. Review dan Selection
    4. Assembly
    5. Rough Cut
    6. Fine Cut
    7. Picture Lock
    8. Master dan Deliver

Sekelumit Sejarah Penyuntingan Film

Pada mulanya, sebelum kedatangan rekaman video digital dan perangkat lunak (software) penyuntingan film, orang masih menggunakan film emulsi untuk menciptakan gambar bergerak.

Apa itu editing film?

Istilah "potong" (cut) berasal dari ketika gambar bergerak diambil dan disunting pada strip film emulsi yang sangat panjang. Melihat gambar demi gambar pada strip film tersebut, maka editor pun menentukan film mana yang harus dipotong secara fisik di antara gambar tersebut.

Pada waktu itu, alat untuk memotong film ialah gunting dan silet. Untuk menyatukan potongan film yang berbeda tersebut, alatnya ialah lem atau selotip.

Dengan kemajuan teknologi, penyuntingan film pun semakin mudah dilakukan. Apalagi ketika bahasa visual film mulai berkembang, pengambilan gambar pun semakin bervariasi dan gambar bergerak semakin luas cakupannya.

Film pun dengan cepat pula menjadi media hiburan dan informasi terbesar di planet ini. Kendati mesin yang digunakan untuk mengambil gambar dan melakukan pemotongan telah berkembang, tetapi sebagian besar teori dasariah tata bahasa visual tetap sama. Metodenya bahkan hingga hari ini tidak berubah.

Faktor yang Mempengaruhi Penyuntingan Film

Penyuntingan film, sederhananya ialah titik potong—tempat di mana satu bidikan (shot) berakhir kemudian bidikan lainnya dimulai. Berikut inilah faktor yang mempengaruhi proses penyuntingan film:

  1. Setiap media, dan perangkat yang digunakan dalam proses penyuntingan film, sering kali dapat menentukan batasan fisik, terkait waktu, atau keuangan. Banyak yang berpendapat bahwa penyuntingan film yang dilakukan dengan bantuan komputer adalah yang paling ekonomis dan paling beragam.

  2. Pemilihan transisi dalam penyuntingan film.

    Setiap jenis proyek atau program pembuatan gambar bergerak, tentulah memerlukan gaya penyuntingan dan penggunaan transisi tertentu.

  3. Faktor lainnya ialah kreativitas, baik dari visi seorang sutradara maupun saran dari produser.

Catatan:

Editor film yang baik dapat memberikan kehidupan baru ke dalam materi gambar yang disuntingnya.

8 Proses Kerja Penyuntingan Film

Lazimnya proses penyuntingan (editing) film disebut sebagai pasca-produksi. Pada tahap pasca-produksi ini ialah segala proyek yang akan dikerjakan setelah syuting (produksi) selesai, baik penyuntingan gambar maupun suara.

Berikut ialah 8 tahapan dalam alur kerja pasca-produksi yang menekankan proses penyuntingan film pada setiap elemen visual:

  • Acquire
  • Organize
  • Review dan select
  • Assemble
  • Rough Cut
  • Fine Cut
  • Picture Lock
  • Master dan Diliver

Acquire

Pada proses ini, seorang editor seharusnya menerima hasil rekaman gambar dan suara dari tim produksi, baik pada bentuk film emulsi, pita analog, pita digital, maupun berkas digital.

Media yang dipilih tergantung pada metode penyuntingan film dan perangkat yang digunakan. Apabila menggunakan sistem penyuntingan film non-linear digital dengan bantuan komputer, maka seorang editor harus mengimpor dan "mendigitalkan" seluruh materi ke dalam penyimpanan.

Organization

Keseluruhan elemen gambar dan suara harus diatur dengan cara tertentu di meja editing film. Jika seorang editor tidak memiliki pengorganisasian yang jelas, baik pelabelan, pengelompokan, atau penyortiran semua materi yang diperlukan, dalam menemukan sebuah shot yang bagus pun menjadi sulit.

Review dan Selection

Setelah seorang editor memperoleh dan mengorganisasi semua elemen, perlu untuk meninjau kembali semua materi dan pilih bidikan yang terbaik yang akan dilanjutkan dalam proses editing selanjutnya.

Sembari memilah materi yang terbaik, seyogianya editor juga menyingkirkan sejenak ke sampah dari materi yang tidak diperlukan.

Catatan:

Sebaiknya jangan membuang materi apapun selama proses editing atau bahkan tahap pasca-produksi belum selesai, karena siapa tahu materi tersebut akan berguna di lain waktu selama masih tahap editing.

Assembly

Pada proses assembly, keseluruhan materi, baik gambar maupun suara, disusun menjadi satu sesuai dengan skrip. Seorang editor akan menyusun materi dengan cara mengikuti naskah sebagai blueprint yang nantinya akan membentuk film yang dikerjakannya.

Di proses ini, baik genre maupun cerita mulai terbentuk meski masih kasar.

Rough Cut

Perkembangan proyek editing film sudah mulai tampak, karena pada proses ini sebagian besar "lemak" sudah mulai dipangkas. Dengan demikian, sebuah alur narasi cerita sudah saling berkesinambungan dan mulai terungkap meski masih ada bagian-bagian pemotongan yang kasar.

Di proses editing ini, pengaturan waktu belum sempurna, belum ada pemberian judul, efek-efek pun belum dibuat, dan bahkan sinkronisasi audio juga belum selesai.

Fine Cut

Di sinilah tugas seorang editor sudah hampir selesai. Editor mulai menghaluskan beberapa potongan shot yang masih tampak kasar, menambahkan efek, judul, transisi, dll. Di proses fine cut ini tidak ada lagi perubahan besar pada proyek.

Apabila di tahap editing ini seorang editor dan orang lain yang bersangkutan—sutradara maupun produser sudah setuju bahwa benar-benar tidak ada perubahan lagi, maka bisa masuk ke proses editing selanjutnya, yakni mengunci gambar.

Picture Lock

Ingat, editor film benar-benar yakin dalam tahap ini sudah tidak ada perubahan lagi. Semua elemen visual suah diatur, mulai pengaturan waktu, judul, transisi, dll.

Setelah editor film sudah mengunci trek gambar, ia sudah dengan bebas bisa memenuhi kebutuhan pencampuran audio. Setelah pencampuran audio sudah selesai, editor film sudah bisa masuk tahap akhir, yakni master dan deliver.

Master dan Deliver

Segala jerih upaya editor film dalam menyelesaikan editing karyanya tidak akan berarti jika tidak sampai kepada penonton. Dengan demikian, pada proses editing ini, buatlah salinan film optik agar bisa diproyeksikan ke layar bioskop, ubah cerita yang diedit menjadi berkas video komputer, atau menyalinnya ke bentuk DVD.

Demikianlah dasariah penyuntingan film atau alur kerja tahap pasca-produksi. Meski tidak selalu menggunakan tahap proses editing film seperti di atas, karena tergantung proyek yang dikerjakan, tetapi tetap saja dalam proses editing akan menyentuh kombinasi tahapan-tahapan tersebut di saat proses editing.

{
  "credit title": {
    "author": "Tanaya Sekar Syahida",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Tanaya Sekar Syahida

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Editing Film, Gaya Film, Penyuntingan Film, Teknik Film, Teori Film

Kategori: Esai Teknis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin