Jenis Rasio Aspek dalam Produksi Film

· Nurbaiti Fitriyani

Aspect ratio atau dalam bahasa Indonesia dapat kita alihbahasakan sebagai rasio aspek, tetapi pendengar sering terkupingkan dengan istilah dalam bahasa Inggris, aspect ratio. Maka terjadilah transkreasi istilah aspek rasio, bukan rasio aspek. Tidak ada kebenaran yang maujud atas penetapan istilah Inggris aspect ratio dalam bahasa Indonesia. Namun, Monoskrin tetap mempertahankan kaidah kebahasaan dengan memilih rasio aspek sebagai takrif, baik lugowi maupun istilahi.

Rasio aspek, utamanya dalam film, memiliki banyak variasi dalam menunjang mise en scene. Sebelum membicarakan rasio aspek secara teoretis, tentulah ada eloknya jika terlebih dahulu sejarah rasio aspek dalam film diurai.

Tabel Konten
  1. Apa Itu Rasio Aspek
  2. Sejarah Rasio Aspek
  3. 5 Rasio Aspek dalam Film
    1. Academy (1,33:1)
    2. Wide Screen (1,66:1 dan 1,85:1)
    3. Anamorphic (2,35:1)
    4. HDTV (16:9)
    5. IMAX atau Omnimax (1.3:1)
  4. Daftar Pustaka

Apa Itu Rasio Aspek?

Rasio aspek atau lebih dikenal dengan aspect ratio ialah hubungan atara lebar dan tinggi sebuah gambar pada film. Gambar yang lebarnya dua kali dari tingginya memiliki rasio aspek 2:1.

Angka rasio aspek adalah proporsi lebar dan tinggi, bukan ukuran frame yang sebenarnya.

Berikut aturan rasio aspek:

  • Rasio aspek = lebar dibagi tinggi
  • Rasio aspek tidak bergantung pada ukuran film (lebar film)
  • Rasio aspek dinyatakan dengan dua cara:
    • Untuk perbandingan dengan tinggi dalam satu kesatuan, misalnya 1,78:1 (digunakan untuk film).
    • Sebagai rasio dengan lebar dan tinggi yang dinyatakan dalam bilangan bulat, misalnya 16:9, atau 16x9 (digunakan untuk layar lebar atau HDTV).

Sejarah Rasio Aspek

Sebelum suara dalam film dikenalkan, seluruh lebar film diekspos. Biasanya disebut dengan full aperture atau silent aperture.

Bukaan ini masih digunakan sampai sekarang pada format seperti Super35. Pada dasarnya format Super35 ialah penemuan yang dikembangkan di laboratorium Edison pada film gambar bergerak. Sekarang disebut full aperture.

Sejak pengadopsian bingkai Academy pada tahun 1932, bentuk layar cenderung berbeda. Namun, sebagian besar masih dalam format 35mm.

Format layat yang berbeda itulah dinamakan sebagai rasio aspek. Sebenarnya, rasio aspek hanyalah hubungan matematis antara tinggi dan lebar layar yang dinyatakan dengan tinggi sebagai 1.

Di Amerika Serikat, ada dua rasio aspek yang umum digunakan pada proyeksi film 35 mm, yakni 1,85:1 (flat) dan 2,40:1 (scope).

Rasio aspek yang umum digunakan di Eropa adalah 1,66:1, ialah rasio aspek Super 16. Hal itu dikarenakan banyak perekaman film di Eropa dibuat menggunakan Super 16 dan kemudian diperbesar hingga cetakan 35 mm.

5 Rasio Aspek dalam Film

Aspek Rasio dalam Produksi Film dan Sinema
Variabel aspek rasio.

Academy (1,33:1)

Dengan diperkenalkannya suara sinkronisasi, rasio aspek Akademi dibuat pada tahun 1932 untuk memberikan ruang bagi soundtrack optik. Dengan demikian, ruang suara juga harus dibuat untuk jalur optik.

Secara historis, film berkembang dari rasio aspek Akademi 1,33:1 (4:3). Rasio aspek ini biasanya digunakan untuk TV/Video standar.

Rasio aspek 1,33:1 ini didasarkan pada 1,37:1. Keduanya memiliki kemiripan, sehingga bisa digunakan secara bergantian. Rasio aspek ini juga merupakan 16 mm dan Super 8 reguler.

Wide Screen (1,66:1 dan 1,85:1)

Evolusi selanjutnya adalah bingkai yang lebih lebar yakni, 1,66. Setelah pada tahun 1950-an, ada kebutuhan akan format lebih luas yang tidak memerlukan kamera khusus atau peralatan proyeksi layar lebar. Menanggapi evolusi tersebut diperkenalkanlah denganrasio aspek 1,85:1. Di Amerika Serikat dan Inggris, format ini sangat umum untuk segala hal yang berhubungan dengan proyeksi teatrikal. Apa pun yang lebih lebar dianggap layar lebar. Sementara itu, di Eropa lebih umum menggunakan 1,66:1.

Anamorphic (2,35:1)

Fotografi anamorphic ditemukan di Prancis pada tahun 1927. Sebuah lensa khusus digantung di depan lensa prima yang mengompresi gambar secara horizontal hingga setengah lebarnya, dilepaskan kembali saat diproyeksikan.

Kompresi horizontal akhirnya direkayasa ke dalam lensa prima itu sendiri sehingga optik tambahan di depan lensa tidak lagi diperlukan. Beberapa versi sistem ini digunakan saat ini, dan sebagian besar produsen lensa utama juga membuat rangkaian lensa anamorphic berkualitas tinggi.

Kompresi horizontal tersebut ialah menggunakan format 2:1 yang disebut dengan CinemaScope. Rasio aspek ini biasanya dalam bingkai 35 mm yang diperluas menjadi 2,55:1. Namun, karena ada tekanan dari pemilik bioskop, akhirnya diturunkan menjadi 2,35:1 hingga rasio aspek inilah yang menjadi standar.

HDTV (16:9)

TV tidak hanya puas dengan rasio aspek format standar, yakni 4:3, tetapi kemudian mengonversi ke TV Widescreen dengan rasio aspek 1,78:1 (16:9).

Acara televisi yang dibuat sebelum tahun 2002 diproduksi dalam rasio aspek NTSC standar 1,33:1 yang lama. Sejak itu, sebagian besar produksi televisi dilakukan dalam format HD 1.76:1.

IMAX atau Omnimax (1.3:1)

Imax dikembangkan pada akhir 1960-an. Adalah dua format layar raksasa yang menggunakan kamera khusus 65 mm dan proyektor unik 70 mm.

Setiap bingkai Imax atau Omnimax memiliki lebar 15 lubang dengan rasio aspek layar sekitar 1,3:1. Imax menggunakan lensa bulat normal dan diproyeksikan pada layar datar raksasa. Omnimax menggunakan lensa fisheye dan diproyeksikan pada layar besar berbentuk kubah yang miring.

Daftar Pustaka

Buka/Tutup

Block, Bruce. 2008. The Visual Story: Creating the Visual Structure of Film, TV, and Digital Media. 2nd Edition. China: Focal Press.

Brown, Blain. 2012. Cinematography : Theory and Practice : Image Making for Cinematographers and Directors. 2nd Edition. China: Focal Press.

Kodak. 2007. The Essential Reference Guide for Filmmaker. Eastman Kodak Company.

Ward, Peter. 2003. Picture Composition for Film and Television. 2nd Edition. Great Britain: Focal Press.

Wheeler, Paul. 2005. Practical Cinematography. 2nd Edition. USA: Focal Press.

Wright, Steve. 2010. Digital Compositing for Film and Video. 3nd Edition. United States: Focal Press.

Demikianlah, beberapa jenis rasio aspek yang dapat digunakan dalam film. Aspek rasio menjadi ruang untuk menuangkan isi skenario sebagai kumpulan shot yang akhirnya menjadi adegan.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teknis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Editing Film, Sinematografi

Kategori: Esai Teknis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin