Pengaruh Perfilman Usmar Ismail terhadap Sineas Indonesia Lainnya

· Padma Aksara Barya

Sosok Usmar Ismail bukan saja bisa dikenang melalui filmnya yang berjudul Darah dan Do'a, tetapi ia juga memiliki kiprah bagi pembuat film awal Indonesia lainnya. Ia juga tak segan membiarkan film yang semula ia garap disutradarai oleh orang lain.

Tabel Konten
  1. Alasan Pengambilalihan Film Harimau Tjampa
  2. Film Revolusi Usmar Ismail

Banyak pembuat film Indonesia yang terpengaruh oleh film-filmnya, khususnya film revolusi. Melalui film-film revolusinya itulah yang memberinya gelar sebagai Bapak Perfilman Indonesia.

Alasan Pengambilalihan Film Harimau Tjampa

Sekitar tahun 1950-an, Perusahaan Perfini milik Usmar Ismail memunculkan sutradara muda berbakat, yakni Djayakusuma dari Jawa Tengah dan Nya Abbas Akup dari Jawa Timur.

Film-film Djayakusuma lebih bertendensi pada budaya tradisional daerah. Sementara itu, Nya Abbas Akup, seorang sutradara sekaligus penulis skenario memiliki ciri khas yakni, komedi dan satir politik. Film komedinya sangat populer sekitar tahun 1970-an dan 1980-an.

Tahun 1953, Film Usmar Ismail yang berjudul Harimau Tjampa diambil-alih oleh Djayakusuma. Semula film ini disutradarai sendiri oleh Usmar Ismail dengan latar belakang Sumatera Barat.

Namun, Bapak Film Indonesia mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Setelah Usmar Ismail merantau ke Amerika Serikat untuk mendalami industri film Hollywood, lantas Djayakusuma mengambil alih proyek tersebut.

Film Harimau Tjampa merupakan film yang mengeksplorasi filosofi pengekangan Islam yang mendasari pencak silat Sumatera Barat.

Dalam film ini banyak adegan eksterior yang diambil di lokasi desa matrilineal Minangkabau di dataran tinggi, Sumatera Barat. Sementara itu, adegan interior diambil di studio Jakarta dengan menggunakan orang Minangkabau yang tinggal di Jakarta sebagai figuran.

Film tersebut sering dikutip di Indonesia sebagai contoh film paling signifikan dari film Indonesia awal. Secara sistematis, film ini mencoba memasukkan aspek masyarakat tradisional daerah ke dalam film. Selain itu, film Harimau Tjampa ini mendasarkan ceritanya pada nilai-nilai budaya daerah.

Film Revolusi Usmar Ismail

Tantu saja aspek budaya bukanlah satu-satunya fenomena yang diangkat oleh film-film awal Indonesia sekalipun oleh film-film terbaik. Apalagi karya Usmar Ismail.

Di awal masa kemerdekaan, film-film Usmar Ismail justru mengangkat film masa perjuangan kemerdekaan, film-film yang dipengaruhi oleh neo-realisme sebagai cara produksi meski berbeda dari film neo-realisme Italia.

Satu hal penting ialah mereka terlibat dengan masalah kejahatan perang yang dilakukan terhadap penduduk lokal bahkan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia yang menentang Belanda. Dengan demikian, film-film ini tidak terlalu mengedepankan masalah budaya.

Justru film-film awal, seperti karya Usmar Ismail lebih memprihatinkan terhadap masalah moral, etos yang suram dan penuh harapan, dijiwai dengan keberanian manusia, tetapi juga dengan penghematan, kesuraman dan bahkan tak jarang pula tentang pengkhianatan.

Dalam membangun imajinasi masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan, Usmar Ismail menghasilkan narasi yang berbeda tentang revolusi.

Dalam film sejarah yang memiliki latar belakang konteks perang revolusioner, Usmar Ismail yang mengenyam pendidikan perfilman di Amerika Serikat dan bisa diasosiasikan dengan hak, memusatkan perhatian pada dunia psikologis karakternya, tak terkecuali pejuang heroik.

Dalam setiap filmnya, Usmar Ismail menggunakan pola standar di mana 'herovillain' mewakili oposisi biner, yakni penjajaran 'baik-jahat' antara pejuang (revolusioner) dengan penjajah (penguasa kolonial).

Film-film diproduksi oleh Usmar Ismail mengenai revolusi dijadikan sebagai contoh bagaimana seharusnya dasar perfilman nasional. Dari sini pulalah yang menjadikan Usmar Ismail sebagai tokoh perfilman Indonesia, bahkan di tahun 2021 ini sudah 100 tahun atau satu abad mengenang sosok Usmar Ismail.

Di bawah rezim ini, film-film revolusi yang diproduksi oleh Usmar Ismail mendapat banyak pujian. Banyak pembuat film lainnya yang meniru dan menciptakan jenis film perjuangan yang sama.

Bahan dasar dari semua film perjuangan, baik yang selamat dari kudeta 1965 atau yang diproduksi di bawah pemerintahan Orde Baru, merupakan tema yang berkisar pada pahlawan dan kepahlawanan, seperti yang terdapat dalam film-film Usmar Ismail.

Perlu dicatat, bahwa dalam film pembangunan Orde Baru, tokoh utamanya adalah pahlawan. Namun, sekarang protagonis juga pahlawan pembangunan yang datang ke desa untuk mengajar masyarakat lokal, bagaimana tradisional menjadi modern, untuk mempercayai pemerintah nasional, dan untuk tidak mempercayai penjahat, biasanya diwakili oleh pemimpin lokal, tradisional, spiritual atau dukun.

Film-film pembangunan propaganda ini biasanya diputar di bioskop-bioskop yang bergerak dari satu desa ke desa lain.

{
  "credit title": {
    "author": "Padma Aksara Barya",
    "editor": "Nurbaiti Fitriyani",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Padma Aksara Barya

Editor: Nurbaiti Fitriyani

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Hari Film Nasional, Sejarah Film, Sejarah Film Indonesia

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin