Usmar Ismail dan Hari Film Nasional

· Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Mengingat Hari Film Nasional ke-71, tentu tak bisa lepas dari sosok kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Maret 1921 ialah seorang yang dikenal sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia, namanya Usmar Ismail.

Ia ialah seorang anak dari Datuk Tumenggung Ismail dan Siti Fatimah. Ia mempunyai seorang kakak yang juga terjun ke dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah yang menggunakan nama pena, El Hakim.

Tabel Konten
  1. Perjalanan Karir Usmar Ismail
  2. Lahirnya Hari Film Nasional
  3. Munculnya Awal Perusahaan Film Indonesia

Perjalanan Karir Usmar Ismail

Tepat setelah kemerdekaan, tahun 1947 Usmar Ismail telah menjadi jurnalis yang melaporkan tentang 'Renville Talks' yang diadakan antara Belanda dan Indonesia di Kapal penjelajah Amerika di Teluk Jakarta.

Pada waktu itu Usmar Ismail ditangkap oleh Penguasa Belanda yang mengetahui bahwa dirinya ialah seorang mayor dalam bahasa Indonesia Tentara nasional.

Sejak saat itulah Usmar Ismail bekerja sama dengan orang Belanda dari perusahaan South Pacific Film yang didirikan oleh Andjar Asmara.

Meski karyanya dikendalikan oleh produsen, saat bekerja dengan Andjar Asmara, Usmar Ismail terlibat sebagai sebagai sutradara dua film dan menjadi penulis skenario untuk Perusahaan Film Pasifik Selatan.

Produksi pasca-kemerdekaan pertama Usmar Ismail untuk Perfini antara lain; Darah dan Do'a (The Long March, 1950), Enam Djam di Djogdja (Six Hours in Jogja, 1951) dan Lewat Djam Malam (After The Curfew, 1954).

Dari semua film tersebut ialah sebagai wujud untuk turut memperingati tahun-tahun revolusioner yang mendahuluinya dari perjuangan kemerdekaan selama empat tahun dan setelahnya.

Banyak yang menganggap bahwa film-film tersebut secara luas dipengaruhi oleh metode neo-realis Italia. Dalam mana pengambilan gambar dilakukan di lokasi yang sebenarnya.

Selain itu, penggunaan karakter dari aktor dan non-aktor. Selama pengambilan gambar, mereka mengimprovisasi sendiri cerita dan dialog.

Namun, sebagai sebuah film yang diproduksi pasca-revolusi ada bentuk skeptisisme yang tidak biasa dan berbeda dari film-film oleh sebagian besar neo-realis Italia tahun 1940-an.

Selain ketiga film di atas yang menandai sebagai film revolusi, karya Usmar Ismail lainnya yang paling sukses secara komersial ialah Krisis.

Film itu kini tak berwujud lagi. Hanya naskahnya saja yang masih bertahan. Film Krisis memiliki genre komedi. Mengisahkan tentang kekrisisan perumahan di tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia.

Krisis merupakan film yang diproduksi secara lokal pertama kali. Tayang selama lebih dari satu bulan, film tersebut diputar di bioskop yang disebut dengan 'kelas satu'.

Pada tahun 1955, Usmar Ismail dan rekan-rekannya membuat film satire tentang bahaya kepemimpinan politik yang karismatik di Indonesia.

Judul film itu ialah Tamu Agung. Kendatipun cara penyampaiannya secara satire, tetapi tertuju kepada Presiden Sukarno. Sosok presiden yang sangat dihormati oleh masyarakat Indonesia.

Pada pertengahan 1950-an Usmar telah beralih dari membuat film tentang masa perjuangan kemerdekaan lantas mengikuti studi tur Hollywood yang didanai oleh Rockefeller Foundation.

Hal tersebut mencerminkan kesuksesan komersial dari film-filmnya. Selain itu juga menunjukkan perhatian lebih berkembang dengan menemukan formula untuk genre populer Indonesia yang dapat mengembangkan penonton pada film-film yang dibuat oleh perusahaannya, seperti dalam film Tiga Dara (1956).

Lahirnya Hari Film Nasional

Film awal Usmar Ismail yang dihormati di Indonesia ialah Darah dan Do'a. Film ini sebagai peringatan hari pertama pembuatan film pasca-kemerdekaan. Tepatnya tanggal 30 Maret. Oleh karenanya pada tangga tersebut dirayakan sebagai Hari Film Nasional di Indonesia.

Tidak hanya dari segi kualitas dari film Darah dan Do'a, salah satu alasan kenapa masih dijunjung sampai sekarang ialah sebagian film Perfini masih bertahan dan disimpan dalam kondisi baik di gudang oleh perusahaan keluarga Perfini sampai Sinematek berdiri tahun 1970-an.

Munculnya Awal Perusahaan Film Indonesia

Pada awal tahun 1950-an ialah perkembangan baru industri film di Indonesia. Di tahun itu pula sejumlah perusahaan film pribumi muncul. Salah satu yang paling signifikan ialah perusahaan yang didirikan oleh Usmar Ismail, yakni Perfini Company.

Selain Perfini, perusahaan-perusahaan kecil lain juga turut muncul. Di antaranya ialah Perusahaan Film Negara (PFN) yang didirikan oleh Albert Balink.

Perusahaan penting lainnya di tahun-tahun awal ini adalah Perusahaan Persari, yang didirikan oleh produser kelahiran Sumatera Barat, pengusaha teater, pengusaha dan politikus, Djamaluddin Malik.

{
  "credit title": {
    "author": "Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}
Details
Settings





Converter

Penulis: Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Hari Film Nasional, Sejarah Film, Sejarah Film Indonesia

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Posting Lebih Baru · Posting Lama

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin