Bangkit dan Sekaligus Runtuhnya Kekuasaan Borjuasi dalam Film ”Xala”

· Nurbaiti Fitriyani

Pemerintah adalah alat kebijakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan/atau rakyatnya (William,1960:9).

Ousmane Sembene dalam filmnya berjudul Xala, mencoba merepresentasikan bagaimana sikap pemerintah yang baru saja mengambil alih kekuasaan dari pengusaha Prancis.

Tabel Konten
  1. Dialektika Dua Budaya
  2. Fetisisme
  3. Posisi Perempuan dalam Film ”Xala”
  4. Kekuasaan dalam Xala
  5. Kepustakaan
Bangkit dan Sekaligus Runtuhnya Kekuasaan Borjuasi dalam Film ”Xala”
Bangkit dan Sekaligus Runtuhnya Kekuasaan Borjuasi dalam Film ”Xala”

Seharusnya, pemerintah berlaku seperti yang dikemukakan oleh Raymond William tersebut di atas, bukan justru sebaliknya. Di film ini, Sambene mencoba menyampaikan bagaimana sikap pemimpin yang korup atas kekuasaan yang baru diperolehnya. Alih-alih mendapat keuntungan, baik secara lahiriah maupun batiniah, justru karakter yang ditampilkan Sembene sebagai pengusaha yang korup tersebut justru kehidupannya banyak permasalahan.

Sembene mengemas film Xala dengan menggunakan metafora. Xala, yang diambil dari bahasa Wolof, memiliki arti impotensi, yakni impotensi seorang pengusaha yang dapat diartikan sebagai impotensi negara Afrika, dalam mana pemimipin yang baru mengambil alih kekuasaan tersebut tidak memiliki kejantanan.

Impotensi tersebut terjadi bisa juga dikarenakan mewujudnya kekontrasan antara dua budaya: Afrika dan Prancis. Di mana terjadi pergulatan antara dominasi budaya Prancis dan inferioritas budaya Afrika.

Infiltrasi budaya Prancis tersebut pun akhirnya menciptakan iklim sosial kapitalistik dan individualistik yang mengganggu keharmonisan kehidupan rakyat Afrika yang telah ada sebelumnya.

Namun, adanya infiltrasi budaya Prancis tersebut, menurut Laura Mulvey, dipakai Sembene untuk mempromosikan dan mentransformasikan budaya tradisional, yakni menggunakan perkembangan budaya masyarakat Barat untuk kepentingan Afrika. Sembene juga lebih tertarik untuk menemukan hubungan dialektis antara dua budaya tersebut daripada nostalgia yang tidak kritis terhadap ke-Afrika-an pra-kolonial. (Mulvey, 1991).

Campur tangan budaya Prancis tersebut dapat ditengok melalui karakter seorang pengusaha yang ditampilkan oleh Sembene. Dari cara mereka berbicara hingga berpakaian, kesemuanya mengikuti gaya Eropa dan budaya borjuis. Para karakter ini, menganggap bahasa Afrika—bahasa Wolof—bukanlah bahasa kaum elit dan tidak mengarah kepada masa depan yang lebih baik.

Dengan demikian, film ini sebenarnya merepresentasikan serangan terhadap kelas borjuis yang baru bangkit, yang baru naik kekuasaan dan kekayaannya sejak kemerdekaan di Senegal. Hal ini bertumupu pada ideologi yang disesuaikan dengan keadaan di Afrika.

Ousmane Sembène lahir di Senegal pada tahun 1923, dan umumnya dianggap sebagai salah satu penulis Francophone terpenting di Afrika. Berbeda dengan banyak penulis Afrika lainnya, Sembene tidak datang dari kelas menengah, tetapi dari kelas pekerja, dan masalah kesadaran kelas berperan dalam semua karyanya (Sorensen, 2010:77).

Sejak awal pembukaan film sudah diperlihatkan bagaimana para pengusaha Afrika, Senegal, merebut kekuasaan dari Prancis. Dibuka dengan sebuah acara seremoni di depan gedung Chamber of Commerce, para pengusaha Afrika tersebut mengambil alih kekuasaan Prancis.

Setelah berhasil mengeluarkan orang Prancis dari gedung tersebut, orang Senegal yang semula berpakaian Afrika, merubah gaya dengan a ala Eropa—berjas dan berdasi. Lantas kemudian, setelah menduduki gedung tersebut, tiap-tiap dari mereka mendapat kopor yang berisi uang dari salah satu pengusaha Prancis yang awalnya duduk di gedung tersebut. Dari adegan ini sudah terproyeksikan, bahwa orang-orang Afrika yang duduk di kantor Chamber of Commerce ialah orang-orang yang korup.

Dari adegan tersebut pula terlihat bahwa ada yag tidak beres antara Afrika dengan Prancis. Apalagi, seorang Prancis yang memberikan tas berisi uang itu, tetap berada di kantor dagang tersebut.

Dasariah dari penindasan kelas tersebut, dicirikan melalui penggambaran kepercayaan—agama tradisional dan/atau muslim—di Senegal. Namun, penindasan kelas di film ini, Sembene berfokus pada disparitas antara kelas elit dan massa yang miskin, terutama para pengemis dan orang cacat yang tinggal di jalan-jalan.

Kendatipun demikian, antara elit dan massa yang miskin dan/atau kaum marginal tersebut memiliki korelasi yang kuat. Menghadirkan tokoh bernama El Hadji Abdou Kader Beye, salah seorang dari Chamber of Commerce yang ditampilkan Sembene sebagai lelaki impotensi di pernikahannya yang ketiga. Impotensi yang dialami Sambene merupakan kutukan dari para pengemis dan orang-orang cacat berdasarkan pengakuan dari mereka.

Mereka mengatakan, bahwa El Hadji harus menerima kutukan tersebut dikarenakan kelakuan masa lalunya sendiri. Ia teah merampas hak-hak para pengemis dan orang-orang buta tersebut dengan cara mengambil secara paksa tanah dan beras mereka.

Dengan kata lain, karakter El Hadji datang sebagai lambang yang sangat mencolok dari kemunafikan dan korupsi dari kelas menengah. El Hadji adalah perwujudan dari sebuah kontradiksi sosial: sebuah sintesis dari dua budaya.

Dialektika Dua Budaya

Merujuk Mulvey, bahwa sinema merupakan mekanisme yang sempurna untuk dialektika budaya (Mulvey, 1991).

Bahasa Wolof dan Prancis, dapat dilihat secara jelas direpresentasikan Sembene sebagai sebuah kontradiksi antara elit dan marginal. Di sini sangat kontras ketika para penguasa berbicara dengan bahasa Prancis, sementara masyarakatnya berbicara dengan bahasa Wolof.

Untuk berkomunikasi di antara sesama kelompoknya, para elit ini menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi di antara mereka. Mereka menggunakan bahasa Wolof hanya ketika sedang berbicara dengan lintas kelas dan gender. Mereka menganggap bahwa bahasa Wolof, yang merupakan bahasa asli mereka, sebagai bahasa yang kuno dan rendah.

El Hadji Abdou Kader Beye, sebagai tokoh yang lebih menonjol selalu berbicara dengan bahasa Prancis meskipun ketika sedang dengan keluarganya. Ketika ia sedang berbicara dengan Rama, anak perempuan El-hadji dari istri pertamanya, selalu dijawab dengan bahasa Wolof, sehingga membuat El Hadji marah.

Hal tersebut bisa ditengok dalam adegan ketika Rama mengunjungi bapaknya di tempat kerja untuk mendiskusikan perihal ibunya. Dalam adegan ini, terdapat sebuah oposisi, di satu sisi El Hadji dibingkai dengan peta Afrika di sebelahnya, di sisi lain dia justru menawarkan segelas air mineral impor kepada Rama. Namun, tawaran tersebut ditolak dengan tegas oleh putrinya itu, dengan mengatakan bahwa Rama tidak mengonsumsi barang-barang impor.

Sementara itu, Rama dibingkai dengan peta Pan-Afrika di belakang kepalanya yang memiliki warna seirama dengan boubou—pakaian tradisional Afrika, yang sedang dikenakannya.

Kendatipun Rama dibesarkan oleh ibunya dengan tradisi, tetapi dia tahu batas-batas kapan harus menjadi tradisional dan kapan harus menggunakan budaya Barat. Dia menggunakan bahasa Wolof ketika berbicara dengan keluarganya, karena bahasa Prancis baginya adalah untuk dunia luar. Namun, Rama juga bisa menolak nilai-nilai tradisional yang menurutnya akan menghambat perkembangan dan kemajuan Senegal sebagai bangsa modern.

Dengan demikian, Rama merupakan tokoh yang dihadirkan Sembene sebagai sosok yang bijak dalam menempatkan dua budaya. Ia bukan menolak sama sekali bahasa Prancis dan/atau budaya Barat, tetapi ia justru menyesuaikan kapan ia harus menggunakannya di waktu dan tempat yang tepat.

Penggunaan bahasa Wolof dalam film ini, tampaknya merupakan salah satu cara untuk memulihkan identitas Afrika. Hal itu sama seperti ketika Rama menolak untuk meminum air yang diimpor dari Prancis.

Dengan begitu, akhirnya dapat dilihat bahwa, dengan penolakan seperti itu menunjukkan adanya penentangan yang dilakukan Rama terhadap ketergantungan ekonomi dan budaya Senegal pada Prancis.

Fetisisme

Pada malam pertama pernikahan El Hadji yang ketiga, di mana impotensi terjadi untuk pertama kalinya, merupakan fiksasi kegagalan, pengebirian, yakni impotensi. El Hadji pun dengan gigih mencari orang yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, dengan tingkat paranoia dia mencurigai orang yang telah menyebabkannya impotensi.

Selama upaya El Hadji yang nyaris putus asa ketika mencari obat untuk menghilangkan impotensi (xala) di tubuhnya, ia tetap mempertahankan standar hidup yang tinggi, yakni mobil, istri-istrinya, dan barang-barang impor.

Ketika El Hadji mulai menderita impotensi, dia menghabiskan semua waktunya untuk mencoba menemukan obat sementara bisnisnya terabaikan. Saat dia diobati oleh Mada dan hanya sembuh sementara, dia sudah tidak mampu lagi menyelamatkan bisnisnya. Pada waktu ia membayar marabout yang telah menyembuhkan impotensinya, di sinilah bisnisnya benar-benar tidak dapat dia selamatkan.

Dalam upaya penyembuhan impotensi tersebut, Sembene menyelipkan sebuah refleksi tentang fetisisme, di mana menanamkan sebuah keyakinan daripada pengetahuan. Menurut Mulvey, fetisisme ini berkaitan dengan fungsi kuno fetis sebagai saluran pertukaran budaya dan ekonomi yang bolak-balik antara Afrika dan Eropa (Mulvey, 1991).

Oleh karena El Hadji mengahabiskan hartanya untuk menyembuhkan impotensi di dirinya, ia pun mengalami kebangkrutan. El Hadji pun akhirnya dikeluarkan dari Chamber of Commerce. Kopornya diminta kembali oleh pemimpin dari kantor dagang tersebut. Sewaktu salah satu anggota dari kantor dagang itu memeriksa isinya, ia hanya menemukan kekosongan kecuali benda ajaib milik El Hadji yang diyakini dapat menyembuhkan impotensinya.

Dalam adegan tersebut, El Hadji mengatakan bahwa benda itu ialah fetis sejati, bukan rekayasa teknologi.

Dari sini pun akhirnya terkuliti dan sangat kontradiktif, bahwa di satu sisi El Hadji yang menonjolkan budaya Barat, baik dari segi berpakaian maupun caranya bicara, di sisi lain ia masih mempercayai keyakinan yang ”kuno”, yakni fetisisme.

Posisi Perempuan dalam Film ”Xala”

Perempuan tak hanya sekadar pelengkap bagi tokoh laki-laki dan/atau penguasa, tetapi mereka juga memiliki peran yang signifikan, yakni selain sebagai perkembangan plot juga berfungsi sebagai representasi feminisme.

Di awal plot sudah diperlihatkan bahwa tokoh El-Hadji ingin menikah untuk yang ketiga kalinya. Ia mengundang seluruh anggota di Chamber of Commerce untuk datang ke pesta pernikahannya.

Sementara teman-teman di Chamber of Commerce turut-serta berbahagia atas pernikahan El-Hadji, justru tokoh Rama, menyangkal adanya poligami yang dilakukan bapaknya tersebut. Rama mengatakan, bahwa jika dia sudah menikah nanti, dia tidak mau dipoligami. Dengan megatakan seperti itu, Rama justru mendapat perlakuan dari bapaknya.

Rama dalam film ini merupakan karakter terpenting dari keseluruhan cerita. Ia direpresentasikan sebagai perempuan progresif dalam masyarakat Afrika, Senegal khususnya. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, bahwa ia bisa menggunakan dua bahasa sekaligus, baik bahasa Wolof maupun bahas Prancis.

Kontribusinya dalam film ialah, membuka pandangan bahwa seorang perempuan harus menjadi manusia yang maju, dan bukannya ditindas oleh budaya patriarki. Kendatipun perempuan nanti berperan dalam ranah domestik, tetapi setidaknya ia harus memiliki pikiran yang progresif dan bukannya terkungkung.

Perlawanannya atas permasalahan poligami yang dilakukan bapaknya juga mewakili bahwa perempuan perlu diperlakukan secara adil.

Selain Rama, tokoh-tokoh perempuan lain juga memiliki kuasa atas diri mereka. Adja Awa Astou , sebagai istri pertama El Hadji, tidak mau menghampiri istri kedua El Hadji karena ia merasa yang lebih tua, jadi ada hak untuk lebih dihormati.

Yang dilakukan Adja tersebut mencerminkan adanya dominasi dan feodalisme. Di mana Adja merasa memiliki hak untuk mendominasi istri lain El Hadji. Hal tersebut dapat dilihat dalam adegan ketika Adja diajak El Hadji untuk ikut dengannya masuk ke dalam rumah Oumi. Adja menolak dengan mengatakan bahwa, kalau dia ialah istri pertama El Hadji, jadi yang seharusnya datang dan menyapa ialah Oumi.

Selain itu juga dalam adegan ketika Adja hendak meninggalkan upacara pernikahan El Hadji yang ketiga. Dia tetap menunjukkan rasa kekeluargaan dan pengertian kepada Oumi. Ia mengundang Oumi untuk sesekali datang ke rumahnya, katanya kepada Oumi, ”Jangan lupa aku yang lebih tua.”

Namun, meskipun demikian, Adja tetaplah perempuan yang tradisional. Ia tidak memiliki pemikiran progresif seperti anak perempuannya, Rama. Ditinggal poligami oleh El Hadji, ia tidak memberontak, bahkan ketika El Hadji sudah bangkrut dan tidak menafkahinya lagi, Adja tidak menggugat.

Dari perlakuan El Hadji yang tidak menafakhi istrinya setelah menikah yang ketiga, justru Rama yang tidak terima jika ibunya diterlantarkan. Ramalah yang mendatangi bapaknya agar memikirkan ibunya juga.

Posisi Rama begitu penting jika dipandang dari berbagai sudut. Ia bukan hanya berani melawan dengan bahasa yang digunakannya, tetapi ia juga berani berbicara langsung kepada kaum laki-laki—bapaknya, untuk menggugat ketidakadilan yang dilakukan bapaknya. Karakterisasi Rama juga merupakan perwujudan dari aspirasi kaum perempuan dalam memperjuangkan Afrika baru.

Sementara itu, Oumi, istri kedua El Hadji, merupakan representasi proses neo-kolonial. Dia setuju saja dengan poligami dan/atau dijadikan sebagi istri kedua, selama kebutuhan seksual dan finansialnya tercukupi.

Tidak seperti Adja yang tradisional, menurut Mulvey, Oumi merupakan perempuan yang direpresentasikan Sembene sebagai perempuan yang kebarat-baratan (Mulvey, 1991).

Selain penampilannya yang kebarat-baratan, cara berbicaranya pun mencerminkan budaya Barat. Ia menggunakan dua bahasa sekaligus, yakni Wolof dan Prancis. Perilakunya juga jauh berbeda dari Adja. Di satu sisi Adja menerima jika El Hadji memiliki istri lagi, justru di sisi lain Oumi tidak suka dipoligami.

Oumi juga termasuk dalam perempuan yang progresif, karena ketika hak-haknya tidak dipenuhi oleh El Hadji, dia berani untuk berbicara langsung, bahkan berani menyuruh El Hadji untuk ke rumahnya. Beda Halnya dengan Adja yang hanya diam saja.

Dalam film ini, Sembene memposisikan perempuan lebih dari sekadar pelengkap El Hadji. Kekuasaan para tokoh perempuan di satu sisi diperlihatkan, tetapi di sisi lain justru ditiadakan. Dengan demikian, mereka merupakan simbolisasi dari kenaikan dan kemunduran kelas sosial El Hadji.

Aspek struktural dan ideologis tokoh perempuan, bukan sekadar sebagai sebuah cerminan, malainkan juga sama pentingnya dengan tokoh laki-laki. Para tokoh perempuan juga bisa dipandang sebagai karakter integral.

Kekuasaan dalam ”Xala”

Dua peristiwa utama di awal film, yakni perayaan pemilihan presiden dan pernikahan El Hadji ketiga, semula menandai perkembangan dan kemajuan, tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya. Pernikahan El Hadji tersebut tidak mengarah pada kebahagiaan, tetapi justru menerima tragedi sosial, yakni impotensi.

Bersamaan dengan kejayaan tokoh El Hadji, yang mana ia masuk dalam kaum borjuis, keruntuhan pun mengikutinya. Namun demikian, keruntuhan El Hadji sebenarnyalah terjadi karena kelakuannya sendiri, sehingga kaum marginal dan/atau para pengemis dan orang-orang cacat yang telah mengklaim bahwa mereka telah mengutuk El Hadji dapat berkuasa atas diri El Hadji.

Lukes berpendapat, bahwa bentuk dari kekuasaan tertinggi ialah ”kesadaran palsu”, di mana seseorang tidak tahu apapun tentang kepentingan yang sebenarnya (Lukes, 1974: 23).

Hubungan antara pengemis dan orang cacat dengan El Hadji tersebut, terdapat adanya kesadaran palsu, di mana El Hadji tidak tahu kepentingan sebenarnya dari yang dilakukan oleh para pengemis dan orang cacat. El Hadji hanya tahu, bahwa cara mereka menelanjangi dan meludahi El Hadji untuk menghilangkan impotensi di tubuhnya.

Bagi Teshome H. Gabriel, ritual meludah merupakan suatu ritual penyucian, dalam mana merepresentasikan mewujudnya borjuasi baru, akan menjadi kader aktif dan berharga ketika kelas yang sebelumnya didominasi merebut kekuasaan (Gabriel, 1979;82).

Sebelum El Hadji ditelanjangi oleh para pengemis dan orang cacat, ia telah jatuh kejayaannya di kantor dagang. Miskin dan dituduh melakukan penggelapan, dia dikeluarkan dari kantor dagang dan mengalami kebangkrutan, bahkan mobil sebagai lambang kejayaannya dirampas. Mobil itu menjadi sebuah simbol bahwa El Hadji sudah tidak memiliki kekuasaannya lagi.

Dengan demikian, meskipun kaum marginal belum merebut kekuasaan politik, mereka telah merebut kekuasaan atas El Hadji. Hanya melalui pengakuannya atas kekuasaan mereka, El Hadji memiliki kesempatan untuk menebus kutukan yang dideritanya.

Sebelum mengalami kebangkrutan dan masih duduk di kantor dagang, El Hadji memiliki kekuasaan. Hal ini bisa ditengok dalam adegan ketika El Hadji meminta presiden memanggil polisi untuk menjaring para pengemis dan orang-orang cacat yang berada di pinggir jalan dekat dengan kantornya.

Hal ini seperti yang diutarakan oleh Dahl, bahwa kekuasaan dapat direduksi menjadi pelaksanaannya, dimana A memiliki kekuasaan atas B, sejauh A dapat membuat B melakukan sesuatu (Dahl, 1957: 202–3).

El Hadji dengan kekuasaannya tersebut, akhirnya memiliki sifat sewenang-wenang terhadap kaum marginal. Akan tetapi, sebaliknya, ketika kekuasaannya sudah hilang, justru ia yang dikuasi oleh kaum marginal.

Dengan demikian, pembuat film melihat negara secara budaya, politik, dan sosial yang dikebiri oleh warisan kolonial dan ketergantungannya saat ini. Film Sembene berfokus pada pengkhianatan suatu negara oleh penguasanya dan tokoh El Hadji terhadap tubuhnya sendiri.

Film Xala, yang semula menyiratkan bahwa tragedi yang dialami El Hadji ialah ketidakjantanan negara dalam hal politik dan ekonomi, tetapi bahwasanya justru tersurat adanya suatu upaya untuk tetap melanggengkan budaya dan tradisi, yakni melalui dialektika yang digunakan dalam film ini.

Hasyiah

Kepustakaan

Dahl, Robert A.. ”The Concept of Power”. Behavioral Science. Vol. 2. 1957. Pp 201-215.

Gabriel, Teshome H.. Third Cinema in the Third World: The Aesthetics of Liberation. Michigan: UMI Research Press. 1979.

Lukes, Steven. Power: A Radical View. London: Macmillan Education. 1974.

Mulvey, Laura. “Xala,Ousmane Sembene 1976: The Carapace That Failed”. Third Text. vol. 5, no. 16-17. 1991. pp. 19–37.

Sorensen, Eli Park. Postcolonial Studies and the Literary: Theory, Interpretation and the Novel. Palgrave Macmillan. 2010.

William, Raymond. Culture and Society 1780-1950. New York: Anchor Books. 1960.

{
  "credit title": {
    "author": "Itiabrun Inayirtif",
    "editor": "Nashrullah Ali Fauzi",
    "category": "Esai Teoretis",
    "canonical publication": "Monoskrin"
  }
}

Penulis: Nurbaiti Fitriyani

Editor: Nashrullah Ali Fauzi

Hak Publikasi Kanonis: Monoskrin

Tag: Kajian Sinema, Sinema Ketiga, Third Cinema

Kategori: Esai Teoretis

Lisensi: Creative Commons (CC BY-NC-ND 4.0)

Monoskrin

Monoskrin adalah situsweb yang mempublikasikan artikel-artikel tentang penciptaan sekaligus pengkajian film secara global.

Log

Perihal esai/artikel studi sinema.

Riset

Perihal penelitian film.
Perihal penelitian film.

Nawala Monoskrin

Dikirim setiap ada konten terkini

Iklan dan Advertorial Monoskrin